Dadang Darmawan Pasaribu (IDN Times/Istimewa)
Melanjut soal isu politisasi pemilihan rektor, Dadang juga menduga tudingan tindakan plagiat juga terkesan tendensius karena hanya menjurus pada satu orang. Harusnya, USU juga melakukan peneusuran terhadap semua pengampu hingga guru besar di USU. Termasuk kepada Dewan Guru Besar yang juga ikut menentukan nantinya.
“Jadi jangan sampai tuduhan ini menjurus hanya pada satu orang. Tetapi harus kepada seluruh kepada dosen dan seluruh guru besar di USU. Sehingga harus ada penyelidikan kepada seluruhnya. Termasuk kepada rektor USU sendiri. Apakah USU bebas dari plagiasi atau tidak. Karena disinyalir, palgiarisme sudah menjadi ‘mainan’ dan ‘kutukan’ bagi dosen,” jelasnya.
USU harusnya berperan aktif jauh sebelum tudingan kepada Muryanto Amin. Seluruh pengajar di USU harus membuktikan tidak pernah melakukan tindakan duplikasi. USU harus membuka data, sejauh mana isu plagiat di USU selama ini.
“Kalau seperti ini, ada kesan, pembentukan opini sesat di tengah masyarakat. Justru ini bahaya. Apa lagi dihembuskan dari institusi pendidikan,” pungkasnya.
Muryanto yang dikonfirmasi hingga saat ini belum memberikan jawaban. Sementara itu, Rektor USU Runtung Sitepu yang ditanyai hanya meminta awak media menunggu hasil pleno dari Dewan Guru Besar. Ditanyai soal isu politisasi, Runtung enggan menjawabnya.
“Mohon ditunggu hasil rapat pleno Dewan Guru Besar,” ujar Runtung lewat pesan singkat.
Muryanto Amin terpilih sebegai Rektor USU periode 2021-2026. Sidang pemilihan dan penetapannya dilakukan Majelis Wali Amanat (MWA) USU di Kantor Kementerian Pendidikan (Gedung Pendidikan Tinggi), Jakarta, Kamis (3/12/2020) lalu.
Dalam pemilihan, Muryanto Amin menumbangkan dua guru besar lainnya. Dia memeroleh 18 suara (57,75 persen). Sementara pesaingnya, Farhat memperoleh 11 suara (35,75 persen), dan Muhammad Arif hanya 2 suara (6,5 persen).