Serbuk kayu atau sawdust hasil produksi Koperasi Sorap Do Molana (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Untuk serbuk kayu atau sawdust, terlihat hanya seperti limbah bekas pemotongan kayu. Namun ternyata memiliki nilai jual, per kilogram dihargai Rp 2 ribu.
Dengan total memasok ke Tambang Emas Martabe 4 ton per bulan, Koperasi bisa mendulang cuan minimal Rp8 juta per bulan. Belum lagi pemasukan dari menjual furnitur dan pernak-pernik lainnya.
"Sekarang total pekerjanya 5 orang dan 3 pekerja harian dan sistem pengupahan beragam. Misalnya untuk pekerja membongkar palet, itu dibayar per lembar palet yang berhasil mereka bongkar," terang pria 36 tahun ini.
Palet bekas, tambah Jul, jenis kayunya juga sangat beragam. Untuk kayu paket yang bagus, seperti dari kayu jati, itu nantinya akan digunakan untuk pembuatan furnitur. Karena jenis kayunya lebih kuat.
Sedangkan jenis kayu yang kurang bagus akan dicacah untuk menjadi serbuk sawdust. Serbuk ini akan dikemas ke dalam goni 50 kilogram dan dikirim ke Departement Envinronment Tambang Emas Martabe. Serbuk ini sangat banyak kegunaannya, seperti bahan campuran membuat pupuk organik dan lain sebagainya.
Menurutnya setelah lima tahun menjalin kerja sama dengan PTAR, sangat banyak manfaat yang dirasakan koperasi. Ia berharap kedepannya koperasi bisa lebih maju dan lebih mandiri.
Selain Jul juga berharap produk-produk dari koperasi bisa dipasarkan secara online sehingga bisa menjangkau konsumen yang lebih luas lagi.