Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jumlah Penderita Kanker Payudara di Sumut Meningkat hingga 300 Persen

Jumlah Penderita Kanker Payudara di Sumut Meningkat hingga 300 Persen
ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)
Share Article

Medan, IDN Times - Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Sumut mengungkap kabar terbaru tentang kanker payudara di Sumut. Secara umum wilayah Sumatra Utara (Sumut) tidak termasuk 7 provinsi terbesar di Indonesia sebagai penderita kanker payudara.

Hal itu disampaikan Sekretaris YKI Sumut Siti Zahara Nasution. Adapun 7 provinsi yang terbanyak berada di wilayah Jogjakarta, DKI Jakarta, Sumatera Barat, Papua Selatan, Jawa Barar, Jawa Timur dan Bali. Untuk wilayah Sumut tidak termasuk tinggi, namun kenyataannya penyakit ini semakin banyak yang mengidap khususnya kanker payudara.

“Pada tahun 2023, kita mendata dari 4 rumah sakit rujukan di Sumut kasus lama Januari sampai Desember 2022 kasus kanker payudara itu, kita dapati yang berobat ke rumah sakit hanya 286 orang. Namun, pada awal 2024, artinya yang berobat ke rumah sakit dari Januari sampai Desember 2023 ada 848 kasus, data ini meningkat 300 persen jumlah penderita kanker payudara,” ucap Siti kepada IDN Times, Sabtu (12/10/2024).

1. Kesadaran para penderita kanker yang datang ke rumah sakit sekitar 70 persen, didominasi yang sudah stadium lanjut

ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)

Dia menilai tingkat kesadaran penderita kanker ini pada umumnya datang ke rumah sakit sekitar 70 persen, meskipun itu sudah pada tahap lanjut karena masih rendahnya motivasi masyarakat untuk mengobati atau memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan. Artinya, masih banyak yang lalai atau abai tentang kesehatannya.

Padahal, kanker payudara ini adalah salah satunya yang bisa dideteksi secara dini oleh si penderita dengan melakukan sadari. Namun, sejumlah faktor yang mungkin membuat mereka begitu seperti adanya kesibukan, ekonomi, pendidikan, ketidaktahuan sehingga menyadari tidak melakukan dan bahkan mengalami adanya gangguan. Namun, hanya memaklumi atau hanya menunggu, sehingga banyak berpikir untuk mencoba obat-obatkan alternatif yang kenyataannya tidak dapat menolong untuk menyembuhkan penyakit kanker.

“Jadi memang banyak yang terlambat untuk ditolong karena datang ke rumah sakit dengan kondisi yang sudah lanjut,” tuturnya.

2. Seluruh pengobatan kanker ditanggung BPJS

ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)

Dari data 5 tahun terkahir, menurut Siti angka penderita kanker payudara ini meningkat. Ada 2 hal yakni pertama yang menderita semakin banyak. Kemudian, untuk yang kedua berobat ke rumah sakit semakin banyak.

“Satu sisi hal yang bagus mereka mendatangi pelayanan kesehatan. Di sisi lain kita sedih juga kenapa gak selesai, artinya kok ada penderita baru terus makanya kita harus merubah pola hidup menjadi pola hidup sehat dengan melakukan cerdik tes kesehatan secara teratur, hindari asap rokok, rajin berolahraga, diet atau konsumsi makanan seimbang dan istirahat yang cukup serta mengelola stres yang baik agar kita bisa terhindar atau mengurangi risiko kejadian kanker pada diri kita,” jelas Siti.

Sejauh ini, Siti mengatakan bahwa YKI siap mendampingi pasien untuk mendapatkan pelayanan pengobatan ke rumah sakit bagi para penderita kanker.

Untuk informasi kepada masyarakat, bahwa seluruh pengobatan kanker ini ditanggung oleh BPJS.

“Makanya YKI juga kesulitan, jika ada pasien yang tidak ada BPJS-nya atau BPJS-nya ada tapi menunggak itu menjadi kesulitan pertama. Kesulitan kedua banyak masyarakat kita yang tidak memiliki KTP (kartu indentitas diri), pasiennya udah sakit mau kita bawa berobat, jangankan BPJS KK dan KTP saja tidak ada. Nah, itu yang harus kita urus dan alhamdulillah terkadang capil bisa berkerjasama, dinas sosial bisa bekerja sama walaupun kadang kita berbenturan juga dengan dinas capil karena mau menolong pasien untjk berobat. Sementara, syarat-syarat banyak kadang-kadang kita gak nyaman juga untuk urusan seperti ini," jelasnya.

Lanjutnya, apabila pasien kanker payudara ini juga dalam kondisi atau pasien lanjut, maka semua bisa dibayar oleh BPJS hanya saja pengobatannya tidak seperti pada pasien stadium awal yang bisa banyak tindakan.

“Nah, itu yang sering dikeluhkan masyarakat. Seperti pasien yang ingin dioperasi tapi tidak dapat tindaklanjut, hal ini membuktikan bahwa masyarakat kurang memahami stadiumnya berbeda,” katanya.

Untuk stadium lanjut ini maka penanganannya berbeda, ada perkiraan, dokter lebih tahu tindakan apa yang lebih tepat. Hanya saja, mungkin cara menyampaikannya ke pasien dan cara pasien menerima informasi yang tidak tepat. Sehingga, sering membanding-bandingkan satu pasien dengan pasien lain.

Padahal, dokter menentukan tindakan itu berdasarkan stadium dan kondisi pasien. Tentunya pasien dengan tingkat lanjut penanganannya sudah berbeda di stadium awal. Dokter lebih tahu mana yang bisa lebih meningkatkan kualitas hidup pasien. 

3. Tidak semua pasien kanker payudara dalam penanganan yang sama

Infografis pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI (IDN Times/AdityaPratama
Infografis pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI (IDN Times/AdityaPratama

Dia menilai, pengobatan kanker termasuk mahal. Sebab, dalam penanganan yang khusus dan proses pengobatannya berjangka panjang.

“Memang mahal namanya pun kanker ya (kantong kering) artinya kalau kita menderita kanker, harus benar-benar pengobatannya membutuhkan waktu yang lama, uang atau dana yang banyak dan tenaga yang banyak. Obatnya memang mahal dan tidak sebentar proses pengobatannya makanya mari berusaha untuk menghindar supaya gak usah kita menderita kanker karena memang pengobatannya lama dan mahal. Tapi semua ditanggung oleh BPJS yang penting punya identitas yang jelas dan terdaftar sebagai anggota JKN,” kata Siti.

Jenis pengobatan kanker terbanyak adalah kanker payudara. Menurut Siti, penyakit kanker payudara terkadang di awal-awal ada yang bisa dioperasi, kemudian setelah dioperasi dilanjutkan dengan kemoterapi. 

Namun ada juga yang setelah dioperasi ataupun diradiasi dengan sinar. Tergantung dari sel kankernya sendiri, agar mengetahui tindakan yang tepat untuk ditangani.

Dapat disimpulkan, tidak semua pasien kanker payudara dalam penanganan yang sama. Selain dari tergantung stadium, juga tergantung dari kondisi tubuh si pasien tersebut.

4. Disarankan untuk mendeteksi sejak dini dengan cara melakukan sadari

ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama)

Untuk semua jenis kanker, terkhusus pada penyakit kanker payudara. Siti memberi saran untuk mendeteksi dengan cara melakukan SADARI (periksa payudara sendiri).

Jika menemukan atau mencurigai sesuatu yang berbeda, maka harus mendatangi pelayanan kesehatan guna dilakukan sadanis (periksa payudara secara klinis) bisa nanti dengan USG atau dengan mamografi.

“Bisa mendatangi pelayanan kesehatan. Nanti ke Puskesmas misalnya, faskes tingkat 1 kalau di Puskesmas diperiksa ada sesuatu yang mengarah ke kanker nanti pasien akan dirujuk ke pelayanan kesehatan/fasilitas kesehatan yang memiliki peralatan untuk melakukan pemeriksaan lanjut. Seperti USG dan Mamografi. Sejauh ini, semua ditanggung oleh BPJS, untuk USG. Kalau nanti dibutuhkan pemeriksaan lanjut misalnya Biopsi dan sebagainya itu juga ditanggung BPJS yang penting masyarakat berpartisipasi aktif dalam pengobatan,” terangnya.

Dalam ceritanya, Siti sering menemukan pasien yang dikatakannya bandal. Artinya, sudah didiagnosa dan diminta untuk ditangani.

Namun, pasien tersebut minta pulang untuk berunding dan tidak kembali lagi menangani penyakit kanker yang dideritanya hingga sudah dalam kondisi parah baru balik lagi ke rumah sakit.

“Sudah pecah dan sebagainya baru kembali ke rumah sakit. Padahal di awal masih stadium 1, misalnya atau stadium 2 balik lagi stadium 3 sudah kondisi buruk barulah dibawa ke rumah sakit. Sebaiknya tidak seperti itu. Lakukanlah, dari yang mudah. Sadari kalau memang nanti ada yang dicurigai datanglah ke pelayanan kesehatan. Kalau dirujuk nanti kita harus mengikuti alurnya supaya kalah terkena kanker bisa ditangani dengan cepat,” tutur Siti.

5. Diminta untuk merawat penderita kanker payudara dengan meningkatkan kualitas hidup secara paliatif

ilustrasi pengobatan (Pixabay.com/fernandozhiminaicela)
ilustrasi pengobatan (Pixabay.com/fernandozhiminaicela)

Siti menambahkan, dari Kementerian Kesehatan, pengobatan penyakit kanker payudara yaitu dengan operasi jika dimungkinkan. Kemudian, dengan kemoterapi atau radiasi, sesuai dengan stadium kanker tersebut dan sesuai dengan kondisi pasien.

“Jika ada pasien yang dalam kondisi stadium-stadium lanjut yang sudah kecil, maka kemungkinan harapan hidup atau kementrian sudah memprogramkan paliatif care yaitu pengobatan atau perawatan untuk pasien-pasien stadium lanjut yang fokusnya mengurangi keluhan seperti nyeri, demam, untuk meningkatkan rasa nyaman mengurangi nyeri dan meningkatkan kualitas hidup agar pasien bisa tenang dan nyaman menjelang atau diakhir masa hidupnya,” beber Siti.

Sebab, baginya berbicara tentang penyakit kanker tidak ada yang bisa menjamin kesembuhan.

“Kita bicara berapa lama dia survive, berapa lama dia bisa bertahan. Jadi, yang kita lakukan adalah meningkatkan kualitas hidup dari pasien dengan merawatnya secara paliatif,” pungkasnya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Indah Permata Sari
Doni Hermawan
Indah Permata Sari
EditorIndah Permata Sari

Latest News Sumatera Utara

See More

Ombudsman Sumut Buka Posko Pengaduan Cegah Kecurangan SPMB 2026

28 Mei 2026, 20:00 WIBNews