Batam, IDN Times - Di pesisir Batam yang terus bergemuruh oleh geliat industri, ada yang perlahan lenyap tanpa suara, hutan mangrove. Akar-akar pohon bakau jenis Rhizophora apiculata dan Rhizophora Mucronata yang dahulu menjadi rumah bagi kepiting bangkang kini rapuh, terbakar arang atau terkubur reklamasi.
Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam mencatat, sekitar 30 persen hutan mangrove telah rusak. Namun, Akar Bhumi Indonesia punya angka lain. "Bukan 30 persen, tapi sudah setengahnya hilang," kata Ketua Akar Bhumi Indonesia, Sony Riyanto, Jumat (14/2/2025).
Dari total 18.335 hektar hutan mangrove di Batam, sekitar 400 hektar berada di luar kawasan hutan. Sony dan timnya melihat langsung bagaimana degradasi itu terjadi.
"Banyak yang kita lihat bukan lagi tegakan pohon bakau, tapi hanya ranting-ranting tersisa. Tegakan primer dengan diameter lebih dari 10 sentimeter sudah lama ditebang untuk arang bakau," ungkapnya.
Menurutnya, Batam adalah pulau kecil dengan daya dukung lingkungan yang rapuh. Jika mangrove terus dihancurkan, dampaknya bukan hanya pada hilangnya keanekaragaman hayati, tapi juga pada keberlangsungan hidup manusia.
