Sejumlah perusahaan pun disasar para aktivis lingkungan. Di antaranya adalah Toba Pulp Lestari (TPL) dan NSHE. Bagi mereka dua perusahaan ini dainggap sudah merusak lingkungan.
“Salah satunya mereka yang melakukan pembabatan hutan di beberapa kabupaten di kawasan Danau Toba. sebut saja TPL,” kata Roy.
Wilson dari Aman Tano Batak juga memberikan komentar pedas soal TPL. Dia menuding TPL menjadi perusak nomor satu di tanah adat Batak.
“Ini tidak sesuai dengan program pemerintah yang ingin mencanangkan pariwisata. tapi tetap masih dipertahankan perusahaan ini dan ikut acara seperti ini,” tukasnya.
Belum lagi soal hutan kemenyan yang terus menyusut. Wilson menduga TPL lah penyebabnya.
Sedangkan untuk NSHE, tudingan yang disampaikan para aktivis adalah soal semakin luasnya bukaan hutan di rimba terakhir Batangtoru.
“Mereka melakukan pembukaan untuk konsesi untuk perluasan dan untuk membangun konstruksi PLTA itu sendiri,” ujarnya.