ilustrasi Anggaran (IDN Times/Aditya Pratama)
Pengelolaan anggaran yang tidak becus juga berimbas terhadap Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Desa ini membuat panglong atau toko bangunan. Anggaran dana desa dikucurkan hingga ratusan juta dengan harapan dapat menggerakan roda perekonomian malah sudah tidak beroperasi lagi alias lenyap.
Warga mengaku adapun anggaran untuk Bumdes Panglong pada waktu itu sebesar Rp200 juta dua tahap. "Tahap pertama tahun anggaran 2019 Rp100 juta dan tahap kedua Rp 2020 Rp100 juta lagi," kata Rabial, salah seorang warga disana.
Menurut Rabial, tutupnya Bumdes panglong diduga karena tidak ada keseriusan dari pengurus dalam menggelola. "Memang ada utang warga kalau saya tak salah sekitar Rp 29 juta, itupun sudah dikembalikan oleh masyarakat," jelas Rabial.
Bumdes panglong di Desa Halaban, diterangkan Rabial, lenyap dari peredaran sekitar tahun 2021. "Soal unit air bersih itu tak jelas. Karena apa, belum ada pengukuhannya. Tapi desa mengatakan itu Bumdesnya," terang eks ketua unit air bersih ini.
Bahkan menurut Rabial beserta warga lainnya, hingga sekarang mereka tidak tahu induk Bumdes di Desa Halaban itu yang mana. "Karena yang diklaim desa itu unitnya. Pengurus Bumdes orangnya itu-itu saja. Kades tidak berani memecat orang-orang yang ada di Bumdes itu," tegas Rabial.