3 Wajah Lama Maju Pilwalkot Medan, Pengamat Soroti Peran Parpol

Medan, IDN Times - Pengamat Politik, Faisal Riza menyoroti 3 wajah lama yang akan maju pada ajang Pilwalkot Medan 2024 mendatang.
Dia mengatakan bahwa, parpol adalah sebagai produksi mekanisme perkaderan kepemimpinan yang berhasil mencetak para pimpinan yang juga disertai dengan adanya wajah segar (orang baru) yang memberi harapan baru.
"Ya, saya kira wajah lama itu mencerminkan kegagalan produksi kepemimpinan di tingkat partai politik (Parpol)," katanya pada IDN Times, pada Rabu (10/7/2024).
Adapun 3 nama yang dimaksud adalah Aulia Rachman yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Wali Kota Medan, Akhyar Nasution sebagai mantan Wali Kota Medan, dan Rahudman Harahap yang juga mantan Wali Kota Medan. Ketiganya ini sudah mendaftar di sejumlah partai politik.
1. Salah satu bakal calon Wali Kota Medan ada yang relatif masih segar

Salah satunya adalah Aulia Rachman yang dinilai relatif masih segar. Sebab, ia masih menjabat sebagai Wakil Wali Kota Medan untuk mendampingi Bobby Nasution saat ini, dan masyarakat dapat menggantungkan harapan kepadanya untuk memimpin Kota Medan.
Sedangkan untuk 2 nama wajah lama yakni Rahudman Harahap dan Akhyar Nasution dinilai bahwa masyarakat harus mempertimbangkan ulang.
"Itu kalau diharapkan kembali saya kira kita perlu pertimbangkan ulang. Nama mereka semacam konfirmasi bahwa imajinasi publik Kota Medan tentang sosok kepemimpinan itu seperti menjaga ingatan terhadap kepemimpinan sebelumnya sebelum Bobby," kata Faisal.
2. Wajah baru yang maju ini harus memiliki suasana kebatinan

Sementara itu, untuk wajah baru di antaranya seperti Rico Waas dan Prof Ridha Dharmajaya dinilai bahwa mereka tidak melulu datang dari partai politk.
"Apakah nama-nama itu yang memang orang memahami geliat atau aspirasi masyarakat kota Medan. Jadi, ini perlu diuji dalam pemilihan nanti," katanya.
Menurutnya, jika nanti wajah baru ini akan mendapatkan banyak dukungan. Maka, pengharapan dan ide baru itu kan lebih diletakkan masyarakat. Artinya, masyarakat jenuh akan sosok yang lama.
"Tapi, kalau mereka (wajah baru) ini tidak mendapatkan dukungan besar atau tidak menang. Berarti mereka nama baru yang muncul begitu saja tanpa memahami kehendak atau bahkan bekerja atau mendekati masyarakat ini memiliki jejak di Kota Medan atau tidak," jelasnya.
Hal lain juga dalam penilaian ini, mereka memiliki suasana batin atau tidak. Sehingga masih perlu diuji.
3. Tugas berat kepemimpinan yang baru nanti adalah meneruskan infrastruktur Bobby jika tidak selesai

Tugas berat dari kepemimpinan yang baru nantinya adalah, infrastruktur jika tidak terselesaikan di kepemimpinan Bobby.
"Ini akan menjadi tugas berat para pemimpin nanti yang kemudian ingin memformulasi tawaran apa yang memungkinkan untuk Kota Medan. Kalau tidak lebih baik dari Bobby Nasution ini bisa repot juga," ucapnya.
Jika nantinya, lanjut Faisal para bakal calon Wali Kota Medan ini hanya menawarkan program yang lama. Maka, Kota Medan tidak bisa menjadi hal yang baru.



















