Perjalanan Gampong Ulee Lheue juga lekat dengan catatan sejarah dan bencana. Kawasan ini pernah mengalami kehancuran akibat konflik pada masa penjajahan serta bencana alam, termasuk tsunami yang melanda Aceh pada 2004.
Jelajah Ulee Lheue: Menyusuri Laut, Berburu Sunset, hingga Kuliner

- Gampong Ulee Lheue di Banda Aceh menawarkan wisata pesisir dengan panorama laut, senja dari perahu, kopi Aceh, kuliner lokal, serta jejak sejarah konflik dan tsunami 2004.
- Pengunjung dapat memilih paket berkeliling laut Rp50 ribu, banana boat, snorkeling berpemandu, dan paket makan Rp100 ribu berisi hidangan laut khas Aceh.
- Wisata bahari ini dikelola masyarakat sejak 2019 dengan dukungan perahu dan speed boat pemerintah, meski keterlibatan warga masih terbatas dalam pengembangan destinasi.
Banda Aceh, IDN Times - Gampong Ulee Lheue bukan sekadar perkampungan pesisir biasa. Terletak di Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, gampong ini menyimpan beragam destinasi wisata yang menawarkan panorama laut, keindahan senja, kuliner khas Aceh, hingga jejak sejarah dan wisata religi.
Di balik perjalanan panjang tersebut, Ulee Lheue terus menyimpan daya tarik yang mengundang wisatawan untuk datang dan mengenal lebih dekat pesona pesisir Banda Aceh.
Kali ini, IDN Times menjelajahi Gampong Ulee Lheue untuk menyusuri sejumlah destinasi wisata, pada Kamis (22/10/2026). Mulai dari menikmati suasana laut dan senja, mencicipi kuliner lokal, serta melihat potensi wisata yang dikembangkan masyarakat setempat.
1. Menikmati senja dari atas perahu

Wisata bahari di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh. (IDN Times/Muhmmad Saifullah) Salah satu pengalaman yang ditawarkan Desa Wisata Ulee Lheue adalah menikmati matahari terbenam dari atas perahu. Wisatawan diajak mendekati kawasan kapal tongkang untuk menyaksikan perubahan warna langit menjelang malam dari tengah perairan.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Ulee Lheue, sekaligus Sekretaris Desa, Dara Mastura, mengatakan wisata sunset menjadi salah satu daya tarik yang diminati pengunjung, terutama kalangan anak muda.
“Kalau yang paling menarik itu sudah jelas sunset. Kita naik boat di dekat kapal tongkang. Di situ biasanya bisa melihat sunset secara langsung, lebih dekat,” kata Dara.
Pengalaman tersebut tidak hanya menawarkan pemandangan laut. Pengelola juga menyuguhkan kopi Aceh dan makanan ringan untuk menemani wisatawan menikmati senja.
Konsep coffee sunset ini memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk bersantai di atas perahu sambil mengabadikan panorama laut melalui kamera maupun ponsel.
Menurut Dara, wisatawan yang datang tidak hanya berasal dari Aceh. Sejumlah pengunjung mancanegara, termasuk dari Malaysia, juga pernah menikmati pengalaman wisata tersebut.
2. Berkeliling laut hingga mencoba banana boat dan snorkeling

Wisata bahari di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh. (IDN Times/Muhmmad Saifullah) Selain menikmati senja, wisatawan dapat menjelajahi perairan menggunakan perahu. Pengelola menawarkan paket berkeliling dengan tarif Rp50 ribu per orang.
Harga tersebut sudah termasuk makanan ringan dan minuman, seperti kopi serta aneka kue basah dan kue kering.
Bagi pengunjung yang ingin mencoba aktivitas lebih menantang, tersedia pula wahana banana boat dengan tarif Rp50 ribu per orang. Aktivitas ini menggunakan perahu bermesin untuk menarik wahana di perairan yang sesuai.
Dara menjelaskan, wisatawan bisa menghubungi pengelola untuk mengetahui ketersediaan wahana dan mengatur jadwal kunjungan. Aktivitas wisata bahari mulai tersedia sekitar pukul 10.00 WIB.
“Pengunjung dapat menghubungi pengelola Pokdarwis atau perangkat desa untuk memperoleh informasi mengenai paket wisata,” ujar Dara.
Tak hanya itu, wisatawan juga bisa mencoba snorkeling dengan pendampingan pemandu. Pengunjung disarankan menghubungi pengelola lebih awal agar perlengkapan dan jadwal kegiatan dapat dipersiapkan.
Jika beruntung, wisatawan juga berkesempatan melihat lumba-lumba yang sesekali melintas di perairan sekitar kawasan tersebut. Namun, kemunculan satwa laut itu tidak dapat dipastikan setiap saat.
3. Mencicipi kuliner khas Aceh di kawasan pesisir

Wisata bahari di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh. (IDN Times/Muhmmad Saifullah) Menjelajahi Ulee Lheue terasa belum lengkap tanpa mencicipi sajian kuliner khas Aceh. Pengelola desa wisata turut menawarkan paket makan dengan tarif Rp100 ribu per orang.
Menu yang disajikan mengandalkan hasil laut dan racikan bumbu khas Aceh. Di antaranya ikan bakar, kuah asam keueng, serta lobster yang dapat diolah dengan saus asam manis atau saus Padang.
Pengunjung juga dapat menyampaikan permintaan menu kepada pengelola. Sajian makanan dihidangkan untuk dinikmati bersama, sehingga pengalaman bersantap menjadi bagian dari perjalanan wisata.
Selain hidangan utama, makanan ringan khas Aceh juga disediakan sebagai pelengkap paket wisata bahari.
Perpaduan panorama laut dan kuliner lokal menjadi cara pengelola memperkenalkan kekayaan daerah kepada pengunjung. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga mengenal cita rasa masakan Aceh.
4. Wisata yang tumbuh dari inisiatif masyarakat

Wisata bahari di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh. (IDN Times/Muhmmad Saifullah) Dara mengatakan, pengembangan wisata bahari Ulee Lheue berangkat dari potensi alam yang tersedia di kawasan pesisir. Masyarakat kemudian berupaya mengelolanya agar dapat memberikan pengalaman wisata yang lebih beragam.
Dara mengatakan kegiatan wisata di kawasan tersebut telah berjalan sejak 2016, meskipun pada awalnya dikelola oleh pihak yang berbeda. Pada 2019, pengelolaan mulai dilakukan oleh kelompok yang sekarang menjalankan kegiatan wisata hingga saat ini.
Dalam proses pengembangannya, pengelola turut mendapat dukungan sarana dari pemerintah. Dara menyebut bantuan senilai Rp120 juta dari DPUP digunakan untuk pengadaan perahu dan speed boat yang mendukung aktivitas wisata bahari.
Bantuan tersebut menjadi salah satu penunjang bagi pengelola untuk menyediakan pilihan kegiatan bagi wisatawan, mulai dari berkeliling laut hingga wahana banana boat.
Namun, pengembangan destinasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas. Keterlibatan masyarakat menjadi tantangan tersendiri yang masih dihadapi pengelola.
Menurut Dara, jumlah sumber daya manusia yang terlibat masih terbatas. Sejumlah kegiatan wisata masih dijalankan oleh orang-orang yang sama, sehingga pengembangan potensi destinasi belum dapat dilakukan secara maksimal.
“Kalau kita menunggu semua orang mau terlibat, wisata ini tidak akan berkembang. Jadi, kami yang mau saja dulu, lalu merangkul masyarakat sampai bisa berkembang seperti sekarang,” ujarnya.
Dara berharap semakin banyak warga yang bersedia terlibat dalam pengelolaan wisata. Dengan keterlibatan yang lebih luas, kegiatan wisata diharapkan dapat berkembang dan membuka kesempatan bagi masyarakat setempat.
5. Berharap Ulee Lheue semakin dikenal wisatawan

Wisata bahari di Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh. (IDN Times/Muhmmad Saifullah) Bagi pengelola, pengembangan Desa Wisata Ulee Lheue bukan hanya tentang menyediakan wahana baru. Lebih dari itu, mereka ingin memperkenalkan potensi pesisir kepada wisatawan dari berbagai daerah.
Kombinasi wisata bahari, panorama senja, kopi Aceh, dan kuliner khas menjadi modal untuk menarik pengunjung. Aktivitas snorkeling serta kesempatan melihat lumba-lumba juga menambah pilihan pengalaman bagi wisatawan, meskipun keduanya bergantung pada kondisi di lapangan.
Dara berharap kunjungan wisatawan dapat membantu memperluas promosi destinasi sekaligus mendorong pengembangan wisata yang melibatkan masyarakat.
“Harapan kami, dengan datangnya teman-teman berkunjung ke sini, wisata ini bisa lebih berkembang dan lebih dikenal, bukan hanya di Aceh, tetapi di seluruh Indonesia, bahkan seluruh dunia,” tuturnya.
Potensi tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk menjadikan Ulee Lheue sebagai salah satu pilihan wisata pesisir di Kota Banda Aceh.
Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana laut dengan cara berbeda, secangkir kopi Aceh di atas perahu saat matahari perlahan tenggelam bisa menjadi pengalaman yang patut dicoba.






















