5 Fakta Barus, Kota Tua di Sumut Sudah Dikenal Dunia Sejak Abad ke-2

- Barus di Tapanuli Tengah pernah menjadi pusat perdagangan internasional, menghubungkan Nusantara dengan pedagang Arab, Persia, India, dan Tiongkok melalui komoditas kapur barus serta kemenyan.
- Catatan Ptolemaeus sejak abad ke-2 dan Marco Polo pada 1292 menunjukkan Barus telah dikenal dunia jauh sebelum kolonialisme, sebagai pelabuhan penting di jalur perdagangan.
- Nisan bertahun 48 Hijriah di Kompleks Makam Mahligai menandakan jejak awal Islam pada 661 M, sementara legenda raksasa laut menyimpan ingatan kolektif tentang bencana pesisir.
Kota Barus di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, bukan sekadar dikenal sebagai daerah penghasil kapur barus. Di balik namanya, kota pesisir ini menyimpan jejak sejarah panjang yang pernah menghubungkan Nusantara dengan berbagai bangsa dari belahan dunia lain.
Berabad-abad silam, Barus dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan yang menarik kedatangan pedagang dari Arab, Persia, India, hingga Tiongkok. Letaknya yang strategis membuat kawasan ini menjadi bagian penting dalam jalur perdagangan internasional pada masa lampau.
Sayangnya, kisah kejayaan Barus belum banyak dikenal masyarakat luas. Padahal, kota tua ini menyimpan beragam cerita menarik, mulai dari jejak hubungan dengan dunia luar hingga tradisi dan legenda yang masih hidup di tengah masyarakat.
Kini, Barus mungkin terlihat tenang. Namun, di balik suasananya, tersimpan warisan sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Berikut lima fakta unik tentang Barus yang mungkin belum banyak kamu ketahui.
1. MarcoPolo Pernah Berlabuh dan Menulis Tentang Barus

Wisatawan menikmati keindahan pantai Barus (Mangara Wahyudi) Dalam perjalanannya pulang dari Asia Timur pada 1292, Marco Polo singgah di wilayah Sumatra bagian utara, termasuk Barus. Ia mencatat Barus sebagai pusat komoditas berharga seperti kapur barus dan kemenyan.
Kehadiran nama Barus dalam catatan Marco Polo memperlihatkan bahwa kota ini sudah dikenal dunia jauh sebelum era kolonial masuk ke Indonesia.
2. Makam Bertahun 48 Hijriah, Bukti Islam Sudah Hadir di Barus Pada 661 M

Pondok bersantai disekitar pantai Barus (Mangara Wahyudi) Di Kompleks Makam Mahligai, terdapat nisan kuno dengan inskripsi tahun 48 Hijriah. Temuan ini menunjukkan bahwa Islam sudah masuk ke Barus pada abad ke-7, jauh lebih awal dari berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.
Keunikan makam tersebut terletak pada usianya yang sangat tua dan panjangnya yang tidak biasa, menandakan tokoh penting asal Timur Tengah pernah tinggal dan wafat di sini.
3. Kapur Barus dari Sumatra Diduga Dipakai Mengawetkan Mumi Mesir

ilustrasi tangan terkena kapur (pexels.com/KatyaWofl) Tidak banyak yang mengetahui bahwa kapur barus dari Barus digunakan bangsa Mesir kuno sebagai bahan pengawet jenazah para Firaun. Komoditas ini diekspor sejak ribuan tahun lalu dan sangat bernilai karena hanya tumbuh di wilayah tertentu Asia Tenggara.
Inilah alasan mengapa nama “kapur barus” melekat kuat hingga kini jejak internasional yang sudah dimulai jauh sebelum zaman modern.
4. Barus Muncul dalam Catatan Geografer Yunani-Romawi Sejak Abad ke-2

Pemukiman di Barus tampak dari atas (Mangara Wahyudi) Ahli geografi kuno seperti Ptolemaeus sudah menuliskan “Barousai,” yang diyakini merujuk pada Barus. Artinya, kota ini telah dikenal dalam peta perdagangan dunia sekitar 1.800 tahun lalu.
Pelabuhan Barus menjadi titik temu pedagang global, jauh sebelum kota-kota pelabuhan besar di Nusantara berkembang.
5. Legenda Raksasa Laut yang Menjadi Ingatan Kolektif Bencana Kuno

Pantai Barus (Mangara Wahyudi) Masyarakat Barus memiliki legenda tentang makhluk raksasa dari laut yang menghancurkan kota dalam semalam. Banyak ahli membaca legenda ini sebagai memori lama tentang bencana besar, kemungkinan tsunami dahsyat yang pernah melanda wilayah pesisir Barus pada masa lampau.
Cerita itu diwariskan sebagai simbol kehancuran sebuah kota besar yang kemudian hilang ditelan waktu.
Barus bukan hanya kota tua yang indah, tapi simpul peradaban yang pernah berhubungan langsung dengan dunia luar, tempat ide-ide baru masuk dan komoditas berharga keluar. Lima fakta di atas hanya sebagian kecil dari sejarah panjang Barus yang terkubur waktu, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kota ini layak ditempatkan sebagai salah satu titik penting dalam sejarah Nusantara.
Makin banyak jejaknya diungkap, makin jelas bahwa Barusmenyimpan cerita yang jauh lebih megah daripada yang dibayangkan orang selama ini.




















