Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sofyan Tan: Pembinaan Sepak Bola Harus juga Perhatikan Pendidikan Anak
Penyerahan bola FIFA ke siswa-siswa SSB di Lapangan Marindal, Deli Serdang (IDN Times/Doni Hermawan)

Medan, IDN Times- Anggota DPR RI Komisi X, Sofyan Tan, melontarkan kegelisahannya soal pembinaan sepak bola di Indonesia. Dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 278 juta jiwa, mengapa begitu sulit menemukan sebelas pemain sepak bola yang benar-benar tangguh untuk mengharumkan nama bangsa?

Menurutnya, persoalan itu bukan semata pada bakat, melainkan pada arah dan konsistensi pembinaan sejak usia dini.

Indonesia, kata Sofyan Tan, sudah menggelontorkan anggaran besar untuk rekrutmen dan pembinaan, bahkan sampai mendatangkan pemain naturalisasi. Namun hasilnya belum memuaskan.

“Persoalannya di mana? Persoalan kita itu adalah pembinaan sejak awal yang tidak konsisten,” tegas Sofyan saat menyerahkan bola FIFA ke para siswa SSB di Lapangan Marindal, Deli Serdang, Rabu (25/2/2026) lalu.

1. Latihan bukan hanya fisik dan otot, tetapi juga pola pikir, karakter, dan wawasan.

Penyerahan bola FIFA ke siswa-siswa SSB di Lapangan Marindal, Deli Serdang (IDN Times/Doni Hermawan)

Ia menilai pembinaan anak-anak tidak dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Padahal, yang dilatih bukan hanya fisik dan otot, tetapi juga pola pikir, karakter, dan wawasan.

Seorang anak yang masuk dunia sepak bola, menurutnya, harus memiliki tujuan yang benar. Bukan sekadar ingin terkenal atau mendapatkan uang, tetapi ingin berprestasi dan membanggakan orang tua. Dari kebanggaan keluarga, lahir kebanggaan bagi bangsa dan negara.

“Biasanya anak-anak yang sukses itu ingin mengangkat harkat dan derajat keluarganya,” ujarnya.

2. Program bantuan beasiswa rutin dilakukan

Penyerahan bola FIFA ke siswa-siswa SSB di Lapangan Marindal, Deli Serdang (IDN Times/Doni Hermawan)

Berangkat dari kegelisahan itu, Sofyan Tan menggagas pendekatan konkret, mendekati sekolah-sekolah yang memiliki potensi sepak bola sekaligus memberikan dukungan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Dia mengatakan sudah membantu beasiswa untuk pendidikan banyak anak. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi dengan jumlah yang berbeda.

Menurutnya, banyak anak berbakat tidak berkembang karena terkendala biaya pendidikan dan fasilitas. Padahal, jika negara serius, dukungan bisa diambil dari anggaran pendidikan yang mencapai ratusan triliun rupiah.

Ia mempertanyakan kecilnya alokasi anggaran olahraga dibandingkan besarnya total anggaran pendidikan nasional. “Masa tidak bisa ambil lima triliun untuk pembinaan serius?” ujarnya.

Bagi Sofyan Tan, olahraga adalah bagian dari pembangunan sumber daya manusia (SDM), bukan sekadar kegiatan rekreasi.

3. Menghidupkan kembali tradisi kompetisi

Penyerahan bola FIFA ke siswa-siswa SSB di Lapangan Marindal, Deli Serdang (IDN Times/Doni Hermawan)

Selain bantuan pendidikan, ia menekankan pentingnya kompetisi rutin dan konsisten. Ia mengenang kejayaan turnamen Marahalim Cup yang pernah melambungkan nama PSMS Medan pada masanya.

Turnamen tersebut digelar secara konsisten dan menjadi ajang bergengsi yang membangun kebanggaan daerah. Ia menyebut peran gubernur kala itu, almarhum Marahalim Harahap, yang dikenal konsisten dan serius mendukung sepak bola.

“Orang bisa ikut Marahalim Cup itu sudah hebat sekali. Sekarang rasa kebanggaan itu hilang,” katanya.

Ia menilai pemerintah daerah kurang konsisten dalam pembinaan dan terlalu mengedepankan pendekatan instan. Ketika tidak ada pemain unggul, solusi yang diambil adalah mencari dari luar, bukan membangun dari bawah.

Sofyan Tan juga menyoroti minimnya fasilitas olahraga, terutama lapangan terbuka yang kerap dialihfungsikan menjadi pasar malam atau kepentingan lain.

Menurutnya, banyak pemimpin melihat pembangunan hanya dari perspektif pendapatan jangka pendek. Ruang publik tidak dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang.“Orang yang main sepak bola relatif lebih ceria dan emosinya terkelola,” ujarnya.

Satu hal yang paling ia tekankan adalah menjauhkan olahraga dari kepentingan politik.

“Kalau olahraga digabungkan dengan politik, hilang sportivitasnya,” tegasnya.

Bagi Sofyan Tan, solusi sepak bola Indonesia bukan pada langkah instan, melainkan membangun dari akar. Pembinaan sejak usia sekolah dasar. “Olahraga itu investasi jangka panjang untuk SDM kita,” pungkasnya.

Editorial Team