Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sinergi Inalum dan Warga Cegah Karhutla, Menjaga Napas Konservasi Danau Toba
Aksi Masyarakat Peduli Api Inalum saat memadamkan api di kawasan Sibolangit (dok.MPA)
  • Inalum membentuk Masyarakat Peduli Api di kawasan tangkapan air Danau Toba untuk deteksi dini, pemadaman awal, dan edukasi pencegahan karhutla bersama warga serta instansi terkait.
  • Hingga 2026, terdapat 23 kelompok MPA di 23 desa, dengan target bertambah menjadi 28 kelompok. Mereka dibekali pelatihan, aplikasi pendeteksi titik panas, dan peralatan pemadaman.
  • Program konservasi Inalum di DTA Danau Toba selama tiga tahun mencakup 1.370 hektare dan 585 ribu pohon, sekaligus menghubungkan rehabilitasi lahan, perlindungan biodiversitas, serta pemberdayaan masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dari bumi, air mengalir menjadi energi untuk menghidupkan industri. Dari Danau Toba, Sumatra Utara, aliran airnya ke Sungai Asahan menjadi sumber energi yang dimanfaatkan PT Inalum anggota MIND ID dalam mata rantai produksi aluminium. Perjalanan air menjadi energi tak hanya bergantung bendungan dan turbin. Dari hulu, ada vegetasi kawasan tangkapan air yang harus tetap lestari dari ancaman kerusakan seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kesadaran itu membawa Januar Sinaga (36), warga Desa Hutajulu, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan menjadi bagian dari Masyarakat Peduli Api (MPA) bentukan PT Inalum. Tanggung jawab itu diambilnya karena sejak awal ikut ambil bagian dari program konservasi di kawasan DTA Danau Toba.

"Saya masuk MPA itu pertengahan 2025. Kami awalnya ikut program penghijauan konservasi untuk menjaga kelestarian alam. Kemudian kami diajak ikut MPA. Lalu ada sosialisasi dan pelatihan di Desa Hutajulu yang melibatkan Inalum, Damkarhutla dan KPH. Kita diajarkan cara mengatasi dan memadamkan api dengan peralatan yang diberikan," kata Januar mengawali cerita kepada IDN Times, Kamis (17/9/2026).

Dari MPA kecamatannya, Januar mengatakan biasanya bergerak sekitar 30 sampai 40 orang. Hingga saat ini Januar sudah tiga kali ikut aksi pemadaman. Terakhir pada Agustus 2026 lalu di Desa Hutajulu. "Tentunya pengalaman tak terlupakan. Rasanya sesak napas karena asapnya. Mau diulang gak mungkin, kayak trauma. Tapi namanya kami berusaha. Kalau sudah itu ingat keluarga di rumah jadinya," ucapnya.

Pemadaman saat itu melibatkan bantuan dari Petugas Damkarhutla. Hal ini karena api sudah meluas. "Pertama kami berusaha dulu, tentu sambil koordinasi dengan Inalum dan pemerintah setempat. Waktu itu anginnya kencang kali jadi cepat meluas apinya. Kami panggil Damkar dan syukurnya apinya bisa dipadamkan," ucapnya.

Januar mengakui ada beberapa faktor yang biasanya menyebabkan kebakaran hutan dan lahan. Biasanya karena ulah manusia juga. "Biasanya penyebabnya karena warga buka lahan dia sendiri lalu dibakarnya. Ada juga karena ingin menjadikan kompos membakar sampah, dan juga karena puntung rokok. Apalagi di sini rumputnya ilalang yang mudah terbakar," ucapnya.

Januar mengatakan sejauh ini MPA cukup bermanfaat. Namun dia menyarankan agar dibentuk struktur yang lebih resmi, sehingga masyarakat merasa lebih bertanggung jawab walaupun lahan yang terbakar bukan daerahnya.  Selain itu edukasi soal bahaya membakar lahan juga harus terus digalakkan. "Saya juga sarankan agar MPA ada strukturnya. Jadi ada tanggung jawabnya walaupun yang terbakar bukan lahannya," ucapnya.

Januar mengatakan kawasan konservasi tentunya perlu dilindungi. Sejak 2023 dirinya terlibat dalam penanaman berbagai bibit tanaman konservasi. "Kalau di daerah saya tanaman itu dominannya pinus, sisanya alpukat," tambahnya..

 

Aksi Masyarakat Peduli Api Inalum saat memadamkan api di kawasan Sibolangit (dok.MPA)

Koordinator MPA Alvi Syahrin mengatakan, MPA sudah dibentuk sejak 2024. Diawali dari empat desa yakni Desa Sibolangit, Desa Tonggin, Desa Kodon-kodon, Kabupaten Karo serta  Desa Paropo I di Kecamatan Silahisabungan, KabupatenDairi.

"Teman-teman Inalum ada lahan konservasi DTA Danau Toba. Sudah ada beberapa kali lahan konservasinya terbakar. Jadi kami inisiasi untuk penguatan untuk masyarakat dan kelembagaan dan dinas terkait. BPBD, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Dari pemerintahan kan terbatas untuk dananya. Jadi Inalum yang membentuk MPA bekerja sama dengan Manggala Agni," kata Alvi kepada IDN Times, Kamis (17/9/2026).

Kemudian para peserta pun mendapatkan pelatihan cara memadamkan api dan pendeteksian dini. Peserta dibekali jet shooter, alat pemukul api, garukan besi untuk pemisah bara api hingga sepatu dan baju untuk identifikasi MPA.

"Pelatihannya pertama pendeteksi titik api atau panas. Ada aplikasinya. Pelatihan-pelatihan simulasi pemadaman memakai peralatan yang kami berikan seperti pompa punggung (jet shooter), Gepyak cara memukulnya bagaimana, seperti jangan sampai mendatangi arah angin, dan juga peralatan sederhana lainnya," ucap pria berusia 47 tahun itu.

MPA ini berfungsi sebagai penanggulangan dini. Selain itu juga sebagai informasi pertama untuk penanganan. "Jadi pemadaman awal sebelum membesar apinya. Soalnya mereka kan warga yang ada di titik terdekat.  Mekanismenya kalau ada penanganan lahan terbakar, kami kerahkan MPA. Kalau gak mampu kami minta bantuan BPBD, KPH, dibantu petugas gabungan TNI/Polri," ucapnya.

Seperti saat karhutla di Desa Hutajulu, Kabupaten Humbahas pada 27 Agustus 2026 lalu. MPA sempat melakukan pencegahan, namun api sempat membesar. "Kami kerahkan MPA awalnya, tapi gak mampu karena api semakin membesar karena angin kencang.  Tapi gak mampu karena api semakin besar, angin kencang. Selanjutnya kami koordinasi ke BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Humbahas supaya Damkar turun. Karena informasinya cepat dan respon cepat, api berhasil dipadamkan," ucapnya.

Setelah empat desa di awal tahun 2014, kini secara bertahap MPA terus bertambah. Tahun 2025 ada 14 MPA yang dibentuk yakni Desa Situnggaling (Karo), Desa Paropo, Silalahi 1, II dan III (Dairi), Desa Sinar Naga Mariah (Simalungun), Hutajulu, Parsingguran I, Parsingguran II, Martodo (Humbahas), Hasinggahan, Tanjung Bunga, Siogung-ogung, Hutaginjang (Samosir).

Sementara untuk tahun 2026 sudah lima desa dibentuk yakni Desa Unong-unong julu, Paerung Silali, Pansur Batu, Sosor Gonting dan Tipa (Humbahas).  Total kini sudah 23 kelompok MPA yang terbentuk dari 23 desa. Rencananya akhir September ini ada 5 desa lagi yang akan dibentuk MPA yakni Desa Parhorasan, Desa Parbaba Dolok, Hariara Pintu, Sabulan dan Lintong Nihuta di Samosir. "Jadi nanti totalnya 28 tahun ini. Targetnya setiap tahun kami membentuk 10 MPA," ucapnya.

Selain itu dengan adanya MPA  dan edukasi yang diberikan masyarakat juga dibentuk kesadarannya untuk tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan. "Edukasi ada untuk menyadarkan masyarakat bahwa bahaya kebakaran. Terus kami ingatkan soal bahaya membakar lahan. Intinya cukup membantulah penanganan Karhutla, karena yang kita harapkan mereka yang tinggal di sana. Dari aplikasi saja gak akurat, tapi informasi awal itu dari mereka," ucapnya.

Upaya Inalum dalam penanganan Karhutla tak hanya ada di Sumut. Inalum bersama grup MIND ID pada Agustus 2026 lalu turut terjun dalam upaya pengendalian dan pemadaman pada sejumlah titik api di Mempawah, Kalimantan Barat. Ini merupakan area Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Phase 1 dan 2 dalam proyek hilirisasi nasional bersama PT Antam dengan anak perusahaan PT Borneo Alumina Indonesia. Di bawah koordinasi Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin, 60 personel Tim Emergency Response Group (ERG) dari perusahaan-perusahaan MIND ID diterjunkan.

Direktur Utama PT Inalum Melati Sarnita mengatakan, upaya ikut memadamkan karhutla menjadi bentuk tanggung jawab sosial PT Inalum untuk masyarakat.

“Bagi Inalum, keberadaan perusahaan harus memberikan manfaat dan rasa aman bagi masyarakat di sekitarnya. Ketika terdapat situasi darurat seperti karhutla, kami berupaya bergerak bersama seluruh pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan untuk membantu penanganannya. Kolaborasi menjadi kunci agar respons di lapangan dapat berlangsung lebih cepat dan efektif,” ujar Melati dalam keterangan tertulisnya, 6 September 2026 lalu.

Pekerja Smelter Peleburan Inalum di Kualatanjung, Batubara di antara tumpukan ingot, Selasa (2/9/2025) (IDN Times/Doni Hermawan)

Kepala Grup Layanan Strategis PT Inalum Daniel Hutahuruk mengatakan, upaya konservasi tak bisa dilakukan Inalum sendirian. Perlu kolaborasi tak hanya dengan masyarakat juga pemerintah daerah.

“Konservasi tidak hanya sekadar seremonial, habis ditanam lalu ditinggal. Kita fokus ke keberlanjutannya. Dengan pemerintah kabupaten, kita selalu berusaha agar mendapat dukungan dari kabupaten. Itu membantu kita menjaga konservasi seperti saat kebakaran di Samosir. Kerugian kita tidak sampai puluhan hektare lagi,” ujar Daniel di Medan, 3 September 2026 lalu.

Daniel mengatakan hadirnya MPA menjadi salah satu bagian dari ikhtiar menjaga kelestarian kawasan Danau Toba dengan melibatkan masyarakat. Dalam menjaga napas konservasinya, Inalum menghubungkan rehabilitasi lahan, perlindungan keanekaragaman hayati. pengurangan risiko kebakaran, dan pemberdayaan.

“Program konservasi lahan di DTA Danau Toba terus berjalan masif. Pada tiga tahun terakhir sudah mencapai 1.370 ha total area dengan 585 ribu pohon ditanam di 7 kabupaten,” kata Daniel.

Tahun 2023 mencakup 370 ha dengan 185 ribu pohon. Berlanjut 500 ha tahun 2024 dengan 200 ribu pohon ditanam. Kemudian 2025 dengan 500 ha dengan 200 ribu pohon ditanam. Jenis tanaman mulai dari alpukat, mangga, aren, makadamia, pinus, mahoni, damar, kahyu afrika, petai, jengkol, matoa, durian, manggis, keiri, pinang dan cengkeh.

Jenis tanaman yang dipilih disesuaikan dengan kondisi lahan dan manfaat ekologisnya.Program tersebut diharapkan mampu membantu mengurangi erosi, meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air, serta memperluas tutupan vegetasi di kawasan Danau Toba. Selain itu juga ada empat ha Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kehati dengan konservasi flora dan fauna endemik DTA Danau Toba. Ditambah lagi sumur resapan, sumur injeksi, biopori, Sekolah Peduli Lingkungan dan lainnya.

Semua ini menjadi bagian dari ikhtiar Inalum untuk menerapkan prinsip Environment, Social, Governance (ESG). Saat ini ESG bukan hanya pilihan, tetapi strategi untuk nilai jangka panjang bagi perjalanan bisnis Inalum.

“Inalum punya keunggulan tidak hanya sisi bisnisnya, listrik berasal dari rewenable energi yaitu air. Apa yang kita lakukan untuk sustanaibility kita ingin menciptakan nilai ekonomi jangka panjang, ada pemberdayaan masyarakat. Kita ingin mempraktikkan bisns kita berdasar tata kelola yang baik,” pungkasnya.

 

 

Editorial Team

Related Article