Puluhan warga Medan Kota geruduk dapur MBG Jalan Turi (IDN Times/Eko Agus Herianto)
Saat masa interview, Efita merasa harapan untuk diterima bekerja kembali terbit. Mereka ditanyai soal bagaimana jika seandainya bekerja menjadi pencuci ompreng, keamanan, dan lain-lain.
"Kami datang dipanggil interview. Bukan melalui WhatsApp, tapi warga sini juga. Kami disuruh pakai baju hitam putih. Tapi yang pakai baju putih hitam putih ini atau orang-orang setempat sini, kok belum dipanggil-panggil? Yang dipanggil ke dalam yang sudah di-WhatsApp dulu. Ya, kami bingung, ini apa maksudnya? Setelah selesai. Mungkin orang ini (pihak SPPG) takut ribut, disuruhlah kami masuk, ditanyai apa saja," jelas Efita.
Perempuan paruh baya ini mulanya merasa senang karena dipanggil interview. Namun berjalannya waktu disebut Efita, setelah mereka tunggu-tunggu, ternyata tidak diterima.
"Sudah pasti masuk yang di grup WhatsApp. Kami 23 dari 26 warga sini enggak diterima sama sekali. Jadi, aksi kami ini sebenarnya spontan datang ke sini. Karena kami lihat, kok, kami enggak ada (diterima kerja) gitu. Cuma, ya, kami tidak buat anarkis. Hanya cuma ngasih aspirasi. Karena kami juga bukan warga jauh, loh," bebernya.