Pemerintah Dorong Kebangkitan UMKM Inklusif Pascabencana

- Pemerintah memperkuat ekosistem UMKM inklusif pascabencana dengan pendampingan komprehensif, mencakup legalitas usaha, peningkatan kapasitas, akses pembiayaan, dan pemasaran bagi perempuan serta penyandang disabilitas.
- Sebanyak 300 pelaku usaha mikro di Medan, Deli Serdang, dan Binjai mengikuti pelatihan literasi keuangan dan kewirausahaan untuk memperkuat kapasitas serta membuka peluang kemitraan bisnis nasional.
- Melalui program #KitaJagaUsaha, pemerintah menyalurkan bantuan modal Rp1 juta dan sembako kepada 100 UMKM miskin dan difabel, disertai dukungan lanjutan lewat Klinik UMKM Bangkit.
Medan, IDN Times - Bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir 2025 tak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga memukul keberlangsungan usaha para pelaku UMKM. Kelompok yang paling rentan terdampak adalah pengusaha ultramikro, terutama perempuan dan penyandang disabilitas yang selama ini mengandalkan usaha kecil sebagai sumber penghidupan.
Kementerian UMKM mengklaim terus melakukan upaya mempercepat pemulihan. Termasuk UMKM inklusif di Sumatera Utara. Upaya ini dilakukan melalui berbagai program penguatan usaha agar pelaku UMKM bisa kembali bangkit dan berdaya setelah terdampak bencana.
1. Pemerintah perkuat ekosistem UMKM inklusif

Menteri Maman menegaskan pemerintah tengah memperkuat ekosistem UMKM inklusif melalui berbagai bentuk pendampingan yang lebih komprehensif. Program ini mencakup dukungan mulai dari legalitas usaha, peningkatan kapasitas pelaku usaha, hingga akses terhadap pembiayaan dan pasar.
“Bentuknya antara lain pemberian legalitas usaha, peningkatan kapasitas, akses pembiayaan, pemasaran, hingga kemitraan dalam rantai pasok,” kata Menteri Maman dalam keterangan resmi, Jumat (13/3/2026).
Data Kementerian UMKM menunjukkan bahwa sekitar 4,76 persen pelaku UMKM di Indonesia merupakan penyandang disabilitas atau sekitar 1,3 juta pengusaha. Selain itu, perempuan juga memegang peran besar dalam sektor usaha dengan porsi kepemilikan usaha mencapai 64,5 persen.
“Perempuan di Indonesia memiliki peran yang sangat penting, bukan hanya sebagai pilar keluarga, tetapi juga sebagai fondasi kekuatan ekonomi nasional,” kata Maman.
2. Ratusan UMKM mikro dapat pelatihan dan kurasi usaha

Sebagai langkah konkret pemulihan usaha, Kementerian UMKM bersama UMKMIndonesia.id menggelar pelatihan literasi keuangan, kewirausahaan, dan manajemen usaha bagi 300 pelaku usaha mikro inklusif. Peserta berasal dari Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, dan Kota Binjai.
Pelatihan tersebut digelar di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Kota Medan sebagai ruang penguatan kapasitas bagi pelaku usaha yang terdampak bencana. Setelah mengikuti pelatihan, peserta akan menjalani proses kurasi agar mendapatkan pendampingan lebih intensif serta peluang untuk terhubung dengan mitra usaha yang lebih besar dalam ekosistem bisnis nasional.
3. Bantuan modal hingga akses KUR untuk percepat pemulihan usaha

Selain pelatihan, pemerintah juga menyalurkan bantuan usaha kepada 100 pelaku UMKM yang tergolong miskin atau berada pada kelompok desil 1–2 serta penyandang disabilitas melalui program #KitaJagaUsaha. Setiap penerima mendapatkan bantuan usaha sebesar Rp1 juta serta paket sembako.
Program ini disalurkan melalui kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Pemerintah juga menyiapkan dukungan lanjutan melalui program Klinik UMKM Bangkit yang membantu pelaku usaha mengakses pembiayaan, memperbaiki proses produksi, hingga memperluas pemasaran.
“Kami berharap para pengusaha mikro dapat diringankan bebannya, bangkit kembali, dan mengembangkan usahanya seperti sebelum bencana terjadi,” ujar Menteri Maman.
Program pemulihan ini juga mendapat respons positif dari para penerima manfaat. Salah satunya, Uhwaina Lubis, yang mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap pelaku UMKM difabel.
“Saya berterima kasih kepada Menteri UMKM atas terselenggaranya kegiatan ini. Saya merasa sangat bahagia karena UMKM disabilitas semakin diperhatikan,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Dewi Natadiningrat, pendiri Rumah Difabel Sharaswaty yang menggagas program Difabelpreneur. Ia menilai bantuan tersebut sangat membantu para pelaku usaha difabel untuk kembali mengembangkan usahanya.
“Alhamdulillah, kami sangat senang dengan kegiatan ini. Bantuan yang disalurkan tentu sangat bermanfaat bagi pelaku UMKM difabel yang tergabung dalam komunitas kami,” tutur Dewi.


















