Wajah Lesu Pedagang Pasar Petisah, Kini Sepi Pembeli Jelang Lebaran

- Menjelang Idul Fitri 2026, Pasar Petisah Medan tampak sepi pembeli, banyak toko tutup permanen, dan pedagang mengeluhkan penurunan omzet hingga lebih dari 50 persen.
- Pedagang seperti Iwan dan Azwar menyebut penjualan online serta melemahnya ekonomi masyarakat sebagai penyebab utama turunnya daya beli hingga 80 persen dalam dua tahun terakhir.
- Banyak pedagang berharap pemerintah membatasi harga jual di platform online agar tidak jauh di bawah harga pasar tradisional yang menanggung biaya operasional lebih tinggi.
Medan, IDN Times - Menjelang lebaran biasanya Pasar Petisah Kota Medan selalu menjadi pilihan favorit warga Kota Medan untuk berbelanja kebutuhan fesyen/fashion. Namun kini, 2 tahun belakangan para pedagang menjerit dengan sepinya pembeli.
Dari pantauan IDN Times jelang Idul Fitri 1447 Hijriah ataun ini, Pasar Petisah Kota Medan tak seperti pada era-nya. Wajah lesu menyelimuti para pedagang. Meski kalender menunjukkan Idul Fitri tinggal sepekan lagi, keriuhan pembeli yang biasanya memadati lorong-lorong pasar legendaris ini justru tak tampak. Bahkan, banyak toko-toko yang memilih untuk tutup permanen.
Iwan sebagai pemilik toko pakaian pria mengakui bahwa, dirinya sangat berdampak pada situasi saat ini.
"Memang situasi sekarang ini boleh dikatakan berpengaruh lebih 50 persen omzet kami turun terutama dampak yang dirasakan dari penjualanan online, mungkin juga ekonomi masyarakat yang kini melambat. Sehingga berdampak kepada kami," katanya pada IDN Times, Minggu (15/3/2026).
Dalam sehari toko Iwan selama ramadan hanya dibeli 20 pcs/hari.
1. Pedagang merasa pesimis dengan kondisi Pasar yang sepi

Selain itu, dia menilai adanya kebijakan efisiensi anggaran juga berdampak pada pedagang sepertinya.
Meskipun sebenarnya dia juga mendukung penjualanan online, namun jangan terlalu jauh dari harga di pasar. Sehingga, menjadi persaingan yang membuat pedagang sepi pembeli. Sebab, ia juga pernah berjualan online secara online namun merasa tidak efektif dan efisien.
Menurutnya, para laki-laki biasanya berbelanja atau memilih pakaian merasa puas jika melihat langsung dilokasi (tidak secara online). Untuk harga yang dijual Iwan mulai dari Rp100 ribu/3 pcs, Rp50 ribu/pcs hingga Rp250 ribu/pcs.
Diharapkan ekonomi semakin stabil dan membaik.
"Kalau tidak membaik ekonomi ya sudah pensiun sajalah apalagi," pungkasnya yang sudah 17 tahun lalu berdagang.
2. Daya beli berkurang hingga 80 persen sejak 2 tahun terakhir

Sementara itu, hal yang sama juga dirasakan oleh Azwar sebagai pemilik toko yang menjual perlengkapan salat. Dia mengatakan bahwa, kondisi saat ini sangat terasa kepada pedagang di Pasar. Sehingga, daya beli berkurang hingga 80 persen sejak 2 tahun terakhir.
Dia mengatakan kendala yang dirasakan juga kurang mmahami penjualanan secara online, maka tidak memilih strategi tersebut.
"Kurang paham masalah online ini kalau berjualan," ucapnya.
3. Pembeli menilai tahun ini menjadi tahun yang paling sepi pembeli

Baginya, tahun ini merupakan tahun yang sangat sepi pembeli."Ini tahun sangat menyedihkan, karena hampir penjualanan itu anjlok, daya beli masyarakat turun dan memilih online. Kita sebagai pedagang berdampak sekali karena banyak yang kita pikirkan seperti penyewaaan gedung, pembayaran karyawan, listrik dan kebutuhan lainnya.
Dia berharap kepada pemerintah,harus memerhatikan hal ini. Ia berharap penjual online ini harus dibatasi harganya. "Kalau bisa, harganya itu jangan di bawah harga jual pedagang offline. Pasar tradisional ini sangat terdampak dengan adanya penjualanan online ini karena harga di bawah standar kita merasa tidak sanggup bersaing," sambungnya.
Azwar juga merasa dirinya tidak mampu menyaingi penjualanan secara online karena mereka tidak membutuhkan banyak biaya dibandingkan penjualanan secara offline. Seperti upah karyawan, sewa tempat, listrik dan lainnya.


















