Demo massa aksi yang akan menggeruduk Kantor Bupati Nagan Raya di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang (IDN Times/Muhammad Saifullah)
Orasi tidak hanya dilakukan oleh orator laki-laki. Seorang perempuan bernama Saudah atau yang akrab disapa Mak Wood turut membakar semangat massa aksi.
Mak Wood menjadi salah satu sosok yang paling lantang menyuarakan penolakan tambang hari itu. Ibu tiga anak yang juga menjadi penggerak berdirinya Perempuan Beutong Bersatu (PBB) tersebut berdiri di hadapan massa. Satu alasan yang menurutnya tidak bisa ditawar, yakni bencana.
Menurut Mak Wood, masyarakat Beutong Ateuh sudah merasakan sendiri pahitnya bencana longsor. Karena itu, mereka tidak ingin ancaman serupa semakin besar akibat aktivitas pertambangan.
“Jangan sampai nanti kami yang tinggal di bawah kaki bukit ini tidak punya tempat tinggal lagi karena tambang,” kata Mak Wood.
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak menolak pembangunan. Rencana Bupati Nagan Raya untuk membangun daerah, termasuk menghadirkan pelabuhan internasional, menurutnya tidak pernah dipersoalkan warga. Namun ada satu hal yang tidak bisa dikompromikan.
“Yang kami larang, tanah kami jangan diganggu. Itu saja yang kami mau,” katanya.
Mak Wood juga menilai janji tambang yang disebut dapat membuka lapangan pekerjaan sudah tidak lagi dipercaya masyarakat. Ia berkaca pada pengalaman keberadaan perusahaan tambang sebelumnya yang dinilai hanya sedikit melibatkan warga lokal.
Baginya, kekhawatiran terbesar bukan soal pekerjaan, melainkan keselamatan lingkungan dan masa depan kampung mereka. Ia khawatir aktivitas tambang akan memperbesar risiko longsor yang dapat menghancurkan Beutong Ateuh.
“Bukan hanya hancur. Beutong ini nanti hanya tinggal nama,” ucapnya.
Sama halnya seperti Teungku Malikul, Mak Wood juga mendorong agar Beutong Ateuh ditetapkan sebagai wilayah adat. Menurutnya, pengakuan tersebut penting agar masyarakat memiliki perlindungan hukum atas ruang hidup mereka dan tidak lagi mudah dimasuki pihak luar tanpa persetujuan warga.
Sebagai perempuan, ia mengaku merasakan langsung besarnya dampak kerusakan lingkungan terhadap kehidupan sehari-hari. Air bersih, udara, hingga keberlangsungan hidup keluarga, menurutnya, menjadi hal yang paling terancam jika tambang beroperasi.
“Hari ini kita berbicara tentang Beutong bukan hanya untuk Aceh, tetapi untuk kita semua,” katanya.
Di tengah penolakan terhadap tambang, Mak Wood mengingatkan bahwa banyak warga Beutong yang hingga kini masih berjuang bangkit dari bencana silam. Sebagian korban, katanya, masih tinggal di hunian sementara dan hidup dalam kondisi serba terbatas.
Karena itu, harapan masyarakat kepada pemerintah saat ini bukanlah membuka tambang, melainkan membangun rumah bagi korban bencana, memperbaiki irigasi, serta membantu petani memulihkan mata pencaharian mereka.
Namun ketika ditanya apakah masyarakat akan menerima tambang jika seluruh kebutuhan itu dipenuhi pemerintah, jawaban Mak Wood tetap tegas.
“Tidak. Kalau tambang, tidak ada alasan untuk diterima apa pun alasannya,” tegas ibu tiga anak itu.