Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Maknai Waisak, Umat Buddha Gelar Pemandian Rupang di Vihara Maitreya Medan
Umat Buddha memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak 2026 (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Umat Buddha di Vihara Maitreya Medan merayakan Waisak 2026 dengan ritual pemandian rupang Buddha selama tiga hari, dari 30 Mei hingga 1 Juni.
  • Pemandian rupang dimaknai sebagai simbol penyucian diri dari sifat buruk seperti keserakahan dan kebencian, bukan sekadar membersihkan patung.
  • Tema Waisak 2026 menekankan Dharma sebagai sumber moral dan kebajikan, dengan harapan membawa kedamaian serta harmoni bagi seluruh masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
30 Mei 2026

Rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2026 di Vihara Maitreya Medan dimulai dengan ritual pemandian rupang Buddha sebagai bagian dari kegiatan tiga hari.

31 Mei 2026

Hari kedua sekaligus puncak perayaan Waisak berlangsung di Vihara Maitreya. Umat Buddha melakukan pemandian rupang dan merenungkan makna spiritualnya.

1 Juni 2026

Rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2026 berakhir, ditutup dengan harapan agar umat membawa energi kebajikan dan perdamaian ke kehidupan sehari-hari.

kini

Perayaan Waisak 2026 di Vihara Maitreya telah memasuki hari kedua, dengan tema Dharma sebagai sumber moral dan kebajikan yang mengajak umat untuk hidup harmonis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Umat Buddha menggelar ritual pemandian rupang Buddha sebagai bagian dari perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2026 di Vihara Maitreya, Medan.
  • Who?
    Ritual diikuti umat Buddha dan dijelaskan oleh Dicky selaku pengurus Vihara Maitreya yang memimpin rangkaian kegiatan keagamaan tersebut.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Vihara Maitreya, Kota Medan, Sumatera Utara, yang menjadi pusat perayaan Waisak tahun ini bagi umat setempat.
  • When?
    Perayaan berlangsung selama tiga hari, mulai 30 Mei hingga 1 Juni 2026, dengan puncak acara pada Minggu, 31 Mei 2026.
  • Why?
    Pemandian rupang dilakukan untuk memaknai ajaran Buddha tentang penyucian diri dari sifat buruk serta menumbuhkan moral dan kebajikan sesuai tema Waisak tahun ini.
  • How?
    Umat menyirami rupang Buddha dengan air suci secara khidmat sebagai simbol membersihkan diri dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin demi kedamaian batin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Orang-orang Buddha datang ke Vihara Maitreya di Medan buat rayain Waisak. Mereka siram patung Buddha pakai air suci selama tiga hari, dari tanggal 30 Mei sampai 1 Juni 2026. Kata Pak Dicky, air itu buat bersihin hati dari marah dan serakah. Sekarang udah hari kedua dan semua orang berdoa biar hidup damai dan baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Perayaan Waisak di Vihara Maitreya menghadirkan suasana penuh kedamaian dan refleksi batin, ketika umat Buddha memaknai pemandian rupang bukan sekadar ritual, melainkan proses penyucian diri dari sifat negatif. Dengan tema Dharma sebagai sumber moral dan kebajikan, kegiatan ini menumbuhkan semangat etika, toleransi, serta harmoni yang meluas dari vihara ke kehidupan sehari-hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Denting lonceng vihara dan air suci jadi saksi. Umat Buddha memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak 2026 salah satu rangkaian ritualnya yaitu pemandian rupang Buddha.

Kegiatan ini tengah berlangsung selama 3 hari, mulai 30 Mei hingga 1 Juni 2026. Untuk hari ini pada Minggu (31/5/2026) bertepatan dengan puncak perayaan Waisak.

1. Pemandian rupang Buddha merupakan sarat makna spiritual

Umat Buddha memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak 2026 (IDN Times/Indah Permata Sari)

Dicky sebagai pengurus Vihara Maitreya menjelaskan ritual inti Waisak di vihara ini bukan sekadar seremoni. Ada dua kegiatan utama yaitu pemasangan bilun waisak sebagai simbol perayaan, dan pemandian rupang Buddha yang sarat makna spiritual.

Dia juga menyebutkan saat Waisak, umat Buddha datang ke vihara untuk menyirami rupang Buddha dengan air. Namun, tujuannya jauh lebih dalam dari sekadar membersihkan patung.

“Pada saat kita menyirami rupang Buddha dengan sikap hormat, sebenarnya kita menyirami diri kita sendiri. Kita menyirami dosa, moha, lobha - kebodohan batin, keserakahan, kebencian yang ada dalam diri,” jelas Dicky.

Setiap tetes air jadi simbol harapan: sifat-sifat buruk perlahan luruh. “Waktu kita menyirami rupang Buddha itu, kita menyirami keserakahan kita dulu. Kita berharap semakin hari kita semakin baik seperti itu,” tambahnya.

2. Tema Waisak 2026 yakni Sumber Moral dan Kebajikan

Dicky sebagai pengurus Vihara Maitreya Cemara (IDN Times/Indah Permata Sari)

Dikatakannya bahwa tahun ini panitia mengambil tema khusus yaitu Dharma sebagai sumber dari moral dan kebajikan.

"Lewat tema ini, umat diajak merenungkan ajaran Buddha sebagai panduan hidup beretika, toleransi, dan saling menghargai," sambungnya.

Kini, rangkaian sudah masuk hari kedua pada 31 Mei 2026. Total perayaan berlangsung 3 hari, dari 30 Mei sampai 1 Juni 2026, agar umat punya waktu cukup untuk beribadah dan merenung.

3. Diharapkan Waisak tahun ini dapat memberikan perdamaian

Umat Buddha memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak 2026 (IDN Times/Indah Permata Sari)

Di akhir perayaan, dia memberikan pesan agar seluruh masyarakat bisa damai "Semoga masyarakat semakin hidup harmonis dan semoga semua makhluk berbahagia," tuturnya.

Lanjutnya, lewat pemandian rupang ini, para umat membawa energi kebajikan ke luar vihara. Ke keluarga, ke lingkungan, ke sesama manusia tanpa sekat.

Editorial Team

Related Article