Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jurnalis dan Seniman Suarakan Isi Hati Lewat Teatrikal Kemanusiaan

Jurnalis dan Seniman Suarakan Isi Hati Lewat Teatrikal Kemanusiaan
Pementasan teatrikal kemanusiaan yang diperankan oleh jurnalis dan seniman Kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Jurnalis dan seniman Medan berkolaborasi dalam teatrikal kemanusiaan bertema “Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan” sebagai bentuk kepedulian terhadap penyintas bencana di Sumatera.
  • Pementasan mengusung konsep jurnalisme pertunjukan dengan naskah berbasis kisah nyata yang menyoroti keteguhan perempuan menghadapi dampak bencana dan kehilangan.
  • Kegiatan dilengkapi pameran foto serta seruan menjaga alam, sekaligus membuka donasi bagi korban bencana yang masih berjuang memulihkan kehidupan mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Medan, IDN TimesJurnalis dan seniman di Kota Medan menggelar teatrikal kemanusiaan yang bertema "Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan" pada Sabtu (7/3/2026) di Auditorium Bung Karno Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) di Jalan Sunggal, Kota Medan. Penampilan teatrikal ini sebagai wujud kepedulian terhadap para penyintas bencana di Sumatera, serta menjadi sebuah fenomena baru dalam dunia jurnalistik dan seni.

Namun, di balik angka statistik dan laporan berita yang perlahan tenggelam dalam arus informasi, masih ada ribuan nyawa yang terus bergelut di tengah puing-puing bencana. Sebuah pesan kemanusiaan yang sering kali terabaikan oleh media arus utama, kini "dihidupkan" kembali melalui panggung teater.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi strategis antara Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Rumah Literasi Ranggi (RLR), dan komunitas teater Medan Teater Tronic (MTT).

1. Jurnalis turun ke panggung untuk tampil teatrikal kemanusiaan

IMG_20260307_171226.jpg
Pementasan teatrikal kemanusiaan yang diperankan oleh jurnalis dan seniman Kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Biasanya jurnalis selalu melakukan peliputan konvensional yang hanya mengandalkan data dan wawancara. Namun, kali ini penyampaian pesan dilakukan dengan pementasan yang mengusung konsep performance journalism atau jurnalisme pertunjukan. Tidak hanya duduk di balik meja redaksi, namun hadir langsung di atas panggung dengan tubuh, suara, dan emosi mereka.

Ketua Umum FJPI, Khariah Lubis, mengungkapkan bahwa ide ini muncul berdasarkan pengalaman dari para jurnalis yang melihat ataupun turun langsung ke lapangan.

"Awalnya kami melihat data dari media, lalu turun langsung melihat kondisi para korban. Sekarang suara mereka sudah jarang terdengar di televisi, radio, atau media lainnya, padahal dampak bencana itu masih belum selesai," ujar Khariah, yang akrab disapa Awi.

Menurut Awi, hingga awal Ramadan, sekitar 13.000 warga masih bertahan di pengungsian. Sebagian besar hidup di tenda, sementara yang lain menyewa rumah sementara atau bertahan di rumah rusak. Bahkan, kondisinya belum banyak berubah, apalagi menjelang Lebaran.

2. Naskah yang dibuat berdasarkan kisah nyata dan fokus pada ketahanan perempuan

IMG_20260307_170835.jpg
Pementasan teatrikal kemanusiaan yang diperankan oleh jurnalis dan seniman Kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Judul pementasan, Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan, bukan sekadar hiasan. Naskah yang ditulis oleh Ranggini Krisna ini meramu kegelisahan nyata terhadap kondisi para penyintas, dengan fokus khusus pada peran perempuan.

"Kita tahu naskah hanya rangkaian kata yang tidak punya nyawa. Tapi ketika dimainkan oleh para aktor, kata-kata itu bisa hidup dan menyampaikan pesan," kata Ranggini, pendiri Rumah Literasi Ranggi.

Lanjutnya, cerita ini diangkat dari kisah nyata, terutama perempuan yang harus tetap kuat di tengah situasi sulit. Salah satu adegan yang paling menyentuh diperankan oleh Ema Martondang, yang memerankan sosok ibu kehilangan hampir segalanya akibat banjir namun tetap berusaha menjadi kuat demi anak-anaknya.

"Dalam cerita ini, seorang ibu mencoba tetap tegar, menenangkan anak-anaknya meski dirinya sendiri sedang berduka," kata Ema.

3. Bukan sekadar mengharukan, tapi menyadarkan

IMG_20260307_172210.jpg
Pementasan teatrikal kemanusiaan yang diperankan oleh jurnalis dan seniman Kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Sutradara teater, Hafiz Taadi, menilai kolaborasi antara jurnalis dan seniman ini menghadirkan medium baru dalam menyampaikan pesan sosial. Ia menekankan bahwa tujuan pementasan ini bukan untuk menguras air mata penonton, melainkan untuk membangkitkan kesadaran.

"Pagelaran ini bukan untuk membuat orang menangis, tetapi untuk mengingatkan bahwa ada manusia di balik peristiwa bencana itu. Ketika berita sudah senyap, mereka masih ada dan masih berjuang," tegas Hafiz.

Pementasan ini melibatkan sekitar 20 pemain, termasuk lima jurnalis perempuan yang telah berlatih intensif selama dua bulan. Hafiz juga mengapresiasi keberagaman generasi yang terlibat, mulai dari anak-anak hingga orang tua, menciptakan dinamika lintas generasi yang menarik.

4. Realitas di balik pameran foto

IMG-20260307-WA0052.jpg
Pementasan teatrikal kemanusiaan yang diperankan oleh jurnalis dan seniman Kota Medan (Dok. Raden for IDN Times)

Sebagai pelengkap teater, kegiatan ini juga menghadirkan Pameran Foto Bencana. Fotografer freelance, Mafa Yuli, memamerkan potret kondisi terkini para penyintas yang diambil langsung di lokasi bencana tiga minggu lalu.

"Pemulihan di sana belum banyak terjadi. Anak-anak penyintas bahkan banyak yang masih belum kembali bersekolah," kata Mafa. Foto-foto tersebut menjadi bukti visual yang menampar realitas bahwa krisis kemanusiaan masih berlangsung.

5. Seruan menjaga alam dan donasi

IMG_20260307_181010.jpg
Pementasan teatrikal kemanusiaan yang diperankan oleh jurnalis dan seniman Kota Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Dalam sambutannya, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dan Pendiri YPSIM, dr. Sofyan, menekankan bahwa bencana alam bukan sekadar takdir, melainkan juga konsekuensi dari perilaku manusia.

"Bencana alam yang terjadi di Sumatera Utara, Padang dan yang lainnya bukan karena kutukan Tuhan tapi karena perbuatan manusia, manusialah yang mencederai. Kegiatan ini bukan hanya mengumpulkan donasi tetapi merupakan penyadaran bahwa pentingnya menjaga alam," pungkasnya.

Melalui pementasan dan pameran foto ini, panitia berharap masyarakat tidak melupakan para korban bencana yang hingga kini masih berjuang untuk bangkit. Selain sebagai media edukasi, kegiatan ini juga membuka pintu penggalangan donasi untuk korban bencana di Sumatera.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More