Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Biaya Produksi Tinggi, Pedagang Tahan Kenaikan Harga di Medan

Biaya Produksi Tinggi, Pedagang Tahan Kenaikan Harga di Medan
Petani terdampak potong leher di desa Pragak memilih panen padinya lebih cepat untuk hindari kerugian besar. IDN Times/ Riyanto.
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Harga pangan di Medan masih stabil pada Mei 2026, didorong oleh lonjakan pasokan meski biaya produksi seperti pakan ayam dan pupuk terus meningkat.
  • Kenaikan biaya produksi membuat pedagang menahan harga jual atau mengurangi isi kemasan produk untuk menjaga daya beli konsumen.
  • Ekonom memperingatkan potensi lonjakan harga pada Juni–Juli 2026 akibat kenaikan HPP dan dampak El Niño yang bisa ganggu pasokan komoditas pertanian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Medan, IDN TimesHarga sejumlah kebutuhan pokok di Kota Medan pada pekan ketiga Mei 2026 terpantau masih stabil. Namun di balik angka yang tenang itu, pedagang dan produsen tengah menanggung tekanan biaya produksi yang terus naik. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan potensi lonjakan harga dalam beberapa bulan ke depan.

1. Penurunan harga sejumlah komoditas saat ini lebih banyak dipicu oleh lonjakan pasokan

Petani saat melakukan pemupukan tanaman padi (IDN Times/Ruhaili)
Petani saat melakukan pemupukan tanaman padi (IDN Times/Ruhaili)

Menurut pengamat ekonomi Gunawan Benjamin, penurunan harga sejumlah komoditas saat ini lebih banyak dipicu oleh lonjakan pasokan, bukan karena biaya produksi turun.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Medan, harga daging ayam yang sebelumnya sempat menyentuh di atas Rp40.000 per kg kini turun dan bertahan di level Rp35.050 per kg. Penurunan ini dipicu oleh pasokan yang cukup signifikan dan membanjiri pasar tradisional.

Meski harga jual turun, biaya produksi justru bergerak naik. Gunawan menyebut harga pakan ayam dalam sebulan terakhir naik lebih dari Rp300 per kg, sehingga margin keuntungan peternak semakin tertekan.

Komoditas daging sapi juga terpantau stabil di kisaran Rp142.500 hingga Rp150.000 per kg. “Di lapangan pedagang daging sapi tengah menanggung rugi karena tidak berani menaikkan harga jual,” jelasnya pada IDN Times, pada Rabu (20/5/2026).

Harga telur ayam mengalami penurunan ke rentang Rp1.600 hingga Rp2.100 per butir. Gunawan menjelaskan penurunan ini juga dipicu faktor supply. “Produksi telur ayam naik seiring dengan peningkatan produksi,” tambahnya.

Untuk komoditas sayur dan bumbu, harga cabai merah rata-rata dijual Rp31.500 per kg, sementara cabai rawit Rp35.300 per kg. Minyak goreng curah berada di kisaran Rp20.400 per kg. Harga beras yang sebelumnya naik kini stabil di Rp14.850 hingga Rp15.050 per kg untuk jenis medium.

Bawang merah juga menunjukkan tren kenaikan tipis sekitar Rp200 per kg dalam sepekan terakhir, namun masih bertahan di rata-rata Rp40.900 per kg.

2. Biaya produksi naik, pedagang pilih tahan harga

Petani terdampak potong leher di desa Pragak memilih panen padinya lebih cepat untuk hindari kerugian besar. IDN Times/ Riyanto.
Petani terdampak potong leher di desa Pragak memilih panen padinya lebih cepat untuk hindari kerugian besar. IDN Times/ Riyanto.

Gunawan menilai stabilitas harga saat ini tidak sejalan dengan kondisi di lapangan. Kenaikan harga pupuk dan plastik sejak Maret lalu mulai menekan komponen biaya produksi petani dan pelaku usaha.

“Secara keseluruhan harga memang masih terpantau bergerak stabil. Namun yang menjadi persoalan adalah kestabilan harga itu terjadi disaat ada kenaikan pada komponen biaya produksi,” jelas Gunawan.

Dampaknya, sebagian pedagang memilih menahan harga jual. Sebagian lain mengurangi kuantitas barang dalam kemasan, atau yang dikenal sebagai shrinkflation. Fenomena ini mudah ditemui pada produk yang menggunakan kemasan plastik.

3. Ancaman lompatan harga pada bulan Juni-Juli

IMG_20260409_124930.jpg
Sambas Plastik di Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)

Gunawan menghitung dampak kenaikan Harga Pokok Produksi (HPP) baru akan terasa pada Juni dan Juli mendatang. Inflasi akibat kenaikan harga plastik juga mulai merembet ke sejumlah kebutuhan lain sejak Mei.

“Dampak dari kenaikan HPP tersebut nantinya akan mendorong kenaikan harga jual di level petani. Dan jika realisasi harga di level konsumen nantinya masih dibawah harga keekonomian, maka potensi lonjakan harga tetap akan berpeluang terjadi kemudian,” ujarnya.

Ia mencontohkan harga cabai merah yang diperkirakan masih bisa stabil di bawah Rp40.000 per kg pada Juni karena pasokan di wilayah Sumut cukup besar. Namun skenario ini bisa berubah jika wilayah lain mengalami gangguan produksi akibat El Nino.

“Dan akan menjadi sangat berbahaya jika wilayah lain tanaman cabainya alami gangguan produksi karena El Niño. Sehingga scenario harga stabil saat bulan Juni menyisahkan kemungkinan lompatan di bulan-bulan selanjutnya,” tutup Gunawan.

Pemerintah diminta lebih berhati-hati memantau komoditas hortikultura dan tanaman pangan. Tanpa intervensi yang tepat, stabilitas harga saat ini berisiko hanya bersifat sementara sebelum akhirnya melonjak tajam.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan

Latest News Sumatera Utara

See More