Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harga Emas Meroket, Pengamat: Bukti Ekonomi Sedang Tak Baik-Baik Saja

ilustrasi emas (unsplash.com/Zlaťáky.cz)
ilustrasi emas (unsplash.com/Zlaťáky.cz)
Intinya sih...
  • Harga emas naik 151 persen dari Februari 2024, menjadi kabar baik bagi investor
  • Meningkatnya tensi geopolitik menjadi pemicu utama kenaikan harga emas
  • Risiko perang dunia ketiga kini kian dekat akibat gejolak politik dan ekonomi global
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Dalam dua tahun terakhir, harga emas dunia alami kenaikan yang signifikan. Bahkan, bisa dibilang harga emas dunia naik tanpa mengalami koreksi yang tajam selama dua tahun terkahir.

Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin menyoroti hal tersebut pada tren kenaikan harga emas telah dimulai sejak Februari 2024, dan berlangsung hingga hari ini. Dia menilai kenaikan atau meroketnya harga emas ini menjadi bukti ekonomi sedang tidak baik-baik saja.

1. Harga emas naik 151 persen dari Februari 2024

ilustrasi emas (unsplash.com/Zlaťáky.cz)
ilustrasi emas (unsplash.com/Zlaťáky.cz)

Dia mengatakan harga emas dunia pada Februari 2024 ditransaksikan dikisaran $1.974 per ons, dan pada hari ini harga emas ditransaksikan dikisaran $4.950 per ons troy, atau naik sekitar 2.5 kali (151%).

"Kenaikan harga emas tersebut menjadi kabar baik bagi mereka yang memegang emas sebagai instrumen investasinya. Namun, dibalik kemilau harga emas menyisahkan kekuatiran bahwa kondisi ekonomi saat ini tengah memburuk. Karena sejarah membuktikan bahwa disaat terjadi gejolak ekonomi, harga emas berada dalam tren naik," katanya, pada Jumat (23/1/2026).

2. Meningkatnya tensi geopolitik menjadi salah satu hal yang membuat harga emas meroket

ilustrasi emas (pexels.com/Michael Steinberg)
ilustrasi emas (pexels.com/Michael Steinberg)

Menurutnya, ada banyak hal yang membuat harga emas meroket belakangan ini. Yakni, meningkatnya tensi geopolitik menjadi pemicu utama kenaikan harga emas.

"Setelah perang Rusia – Ukraina, tensi geopolitik alami peningkatan akhir-akhir ini. Seperti memburuknya hubungan politik antara AS dengan Rusia, China dengan AS dan Taiwan, Israel dan AS dengan Iran, AS dengan NATO, Arab Saudi dengan Yaman, AS dengan Venezuela, AS dengan sejumlah negara Amerika latin, hingga Kamboja dengan Thailand," sambungnya.

3. Gunawan sebut risiko perang dunia ketiga kini kian dekat

ilustrasi emas (unsplash.com/Scottsdale Mint)
ilustrasi emas (unsplash.com/Scottsdale Mint)

Tidak berhenti disitu, tensi geopolitik yang memburuk juga merembet ke masalah ekonomi seperti perang tarif antara AS dengan NATO.

"Padahal sebelumnya ekonomi global juga mendapatkan tekanan dari AS yang memberlakukan kebijakan kenaikan tarif terhadap mitra dagangnya termasuk Indonesia, dan muara dari gejolak politik dan ekonomi tersebut menggiring dunia diambang pertikaian. Kini, kian dekat dengan risiko perang dunia ketiga," ucap Gunawan.

Baginya, tidak sulit untuk siapapun dalam memilih instrumen yang tepat menyimpan kekayaannya. Sebab, pada akhirnya membuat emas menjadi primadona dan banyak diburu saat ini. Apalagi, disaat masyarakat dunia dikhawatirkan dengan isu perang dan ketidakpastian kondisi ekononomi kedepan. Maka, hal yang paling umum untuk membenamkan kekayaannya dalam instrumen yang bersifat universal.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

Harga Emas Semakin Meroket, Berikut 3 Tips Bagi Pemula untuk Investasi

23 Jan 2026, 19:00 WIBNews