Erupsi Gunung Api Sinabung, Karo, Sumatra Utara, Rabu (19/8/2020) pukul 18.23 WIB. (Istimewa)
Relokasi membuat sebagian warga berpindah dari posko pengungsian menuju hunian baru. Namun, perpindahan rumah tidak otomatis menyelesaikan persoalan kehidupan mereka. Data BNPB menunjukkan pada 29 Januari 2016 masih terdapat 3.315 jiwa pengungsi. Pada Agustus 2016, jumlahnya kembali tercatat mencapai 9.318 jiwa atau 2.592 KK yang tersebar di sembilan posko ketika aktivitas Sinabung meningkat dan awan panas terus meluncur.
Dalam program relokasi, pemerintah juga menerapkan pola relokasi mandiri. Data BNPB pada 2016 mencatat pembangunan hunian tetap untuk 1.683 KK melalui pola relokasi mandiri, kemudian jumlah penerimanya bertambah 220 KK sehingga menjadi 1.903 KK. Sementara itu, BNPB juga mencatat sebanyak 1.098 KK direncanakan direlokasi ke kawasan Siosar. Artinya, angka-angka tersebut merupakan sasaran pada program atau tahap berbeda, sehingga tidak tepat dijumlahkan sebagai jumlah keluarga yang berbeda.
Persoalan lain muncul setelah rumah tersedia. Sebagian besar warga Sinabung menggantungkan hidup pada pertanian sehingga lahan usaha menjadi bagian penting dari keberhasilan relokasi. Data BNPB menunjukkan warga di Siosar membutuhkan lahan pertanian untuk memulihkan mata pencaharian. Bahkan survei BNPB pada 2015 menunjukkan sebagian penghuni belum langsung menempati rumah baru karena menunggu masa sewa rumah dan kesiapan lahan pertanian.
Pada 2020, persoalan relokasi masih belum sepenuhnya selesai. IDN Times melaporkan ribuan warga masih menunggu proses relokasi. Pada tahap III, pemerintah kemudian membangun hunian tetap untuk 892 KK. Kementerian Sosial pada Desember 2020 juga memberikan bantuan isi hunian tetap kepada 892 KK. Namun, proses penyediaan lahan usaha tani terus berjalan hingga tahun-tahun berikutnya.
Data teranyar juga menyebut Pemkab Karo segera mengeksekusi lahan Usaha Tani (LUT) Relokasi Tahap III, yang akan digunakan untuk mendukung pemulihan kehidupan masyarakat terdampak erupsi Gunung Sinabung.
Adapun lahan yang akan dieksekusi meliputi ±260 hektar di wilayah Desa Partibi Lama, Kecamatan Merek, serta ±100 hektar di wilayah Desa Kacinambun dan Desa Sukamaju, Kecamatan Tiga Panah. Lahan-lahan tersebut telah ditetapkan sebagai lokasi Usaha Tani Relokasi Tahap III bagi warga korban erupsi Gunung Sinabung.
Pada periode ini, erupsi juga belum seutuhnya berhenti. Pada 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB, statusnya diturunkan dari Level IV menjadi Level III atau Siaga. Meski demikian, guguran awan panas dan aktivitas kubah lava masih menjadi perhatian.
Pada 10 Agustus 2020, Sinabung kembali erupsi dengan kolom abu sekitar 5.000 meter di atas puncak. Kolom abu berwarna kelabu dan bergerak ke arah timur serta tenggara. Saat itu status Sinabung masih Level III atau Siaga.
Erupsi kembali terjadi pada 5 September 2020. Kolom erupsi mencapai sekitar 800 meter di atas puncak. Badan Geologi kemudian masih mencatat aktivitas guguran awan panas dan gempa-gempa vulkanik pada akhir Oktober tahun yang sama.
Memasuki 2021, aktivitas erupsi masih berlangsung. Salah satu erupsi signifikan terjadi pada 2 Maret 2021. Kolom abu mencapai sekitar 5.000 meter di atas puncak dan sebarannya terbawa hingga sejumlah wilayah di Aceh, termasuk Aceh Tenggara dan Aceh Selatan.
Data capaian Kementerian ESDM mencatat Sinabung termasuk gunung api yang mengalami erupsi sepanjang 2021. Dalam laporan tersebut, Sinabung juga tercatat mengalami 13.500 guguran lava dan 55 kejadian awan panas. Erupsi terakhir dalam rangkaian aktivitas tersebut tercatat pada 28 Juli 2021. Setelahnya, aktivitas vulkanik cenderung menurun.
Sumber data: BNPB, Data Bencana Indonesia 2016, laporan BNPB tentang relokasi mandiri, Kementerian Sosial, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dan pemberitaan IDN Times. Data pengungsi 3.315 jiwa merupakan kondisi pada 29 Januari 2016, sedangkan 9.318 jiwa merupakan kondisi pada Agustus 2016; keduanya tidak menggambarkan total warga yang pernah mengungsi.