Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Disebut Dalam Film 'Pesta Babi', Ini Profil Konglomerat Asal Siantar Martua Sitorus

Disebut Dalam Film 'Pesta Babi', Ini Profil Konglomerat Asal Siantar Martua Sitorus
Joko Widodo menghadiri penanaman tebu perdana PT Global Papua Abadi di Kampung Sermayam, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, pada Selasa, 23 Juli 2024. Mereka disambut Wirastuty Fangiono, Martias Fangiono, dan Martua Sitorus (kanan). (BPMI Setpres/Muchlis Jr)

Gala Premiere Film dokumenter investigatif berjudul ‘Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita’ digelar pada Pesta Media 2026 AJI Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (12/4/2026). Film ini mengundang perhatian banyak orang. Kuota 150 penonton langsung ludes di-booking secara online dalam beberapa jam saja.

Alhasil, pada hari penayangan antrean penonton yang tidak kebagian 'booking online' membludak. Tak sedikit penonton yg rela berdiri dan duduk lesehan untuk menyaksikan film ini.

Pesta Babi merekam perjuangan masyarakat adat Papua mempertahankan tanah leluhur dari ekspansi proyek industri raksasa atas nama “ketahanan pangan” dan “transisi energi”, di tengah bayang-bayang militerisme hingga separatisme.

Disutradarai oleh Dandhy Laksono bersama Cypri Dale ini, merupakan hasil kolaborasi antara Jubi Media, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia,

Dalam film digambarkan bagaimana konglomerat sawit terlibat dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) Tebu Merauke dan menggorbankan keberadaan Masyarakat Adat di Papua. Beberapa di antaranya yang disebut dalam film ini adalah Wirastuty Fangiono, Martias Fangiono, dan Martua Sitorus.

Bagi warga Sumatera Utara, nama Martua Sitorus tentu tidak asing. Ia dikenal sebagai pengusaha asal Siantar, Sumatera Utara yang pernah masuk jajaran 20 besar orang terkaya Indonesia, urutan ke-18 versi Forbes pada tahun 2023.

Berikut profil Maratua Sitorus, Konglomerat kelahiran Sumatera Utara yang namanya disebut dalam film dokumenter ‘Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita’:

1. SMA di Siantar, Alumni Universitas HKBP Nomensen Medan

Martua Sitorus. (Dok: Wilmarinternasional.com)
Martua Sitorus. (Dok: Wilmarinternasional.com)

Martua Sitorus, atau Thio Seng Hap, adalah pengusaha kelahiran Kota Pematang Siantar 6 Februari 1960. Menamatkan SMA dari Sekolah Budi Mulia Pematangsiantar. Kemudian menempuh pendidikan sarjana di Universitas HKBP Nomensen, Medan, Indonesia

Pada tahun 1991, bersama Kuok Khoon Hong ia mendirikan perusahaan dengan nama “Wilmar” yang diambil dari gabungan nama William (Kuok) dan Martua. Awalnya hanya mengelola 7.100 hektare kebun sawit, Martua Sitorus mampu mengembangkannya melalui strategi hilirisasi dan pembangunan rantai pasok yang efisien.

Pendekatan inilah yang membuat Wilmar tumbuh menjadi perusahaan agribisnis kelas dunia dengan lebih dari 500 pabrik dan operasi di lebih dari 50 negara. Produk-produknya pun sangat dekat dengan masyarakat Indonesia, seperti minyak goreng Sania, Fortune, Sovia, hingga tepung terigu Sania.

Namun pada tahun 2018, Martua Sitorus mundur dari jajaran direksi Wilmar Group dan mulai membangun dinasti bisnis baru melalui KPN Corporation (dulu Gama Corp) bersama saudaranya, Ganda Sitorus. Perusahaan ini memiliki portofolio bisnis yang beragam. KPN mengelola perkebunan kelapa sawit melalui KPN Plantation dan sektor properti, termasuk pembangunan kota mandiri di Medan.

Selain itu, perusahaan ini juga menekuni industri semen lewat Cemindo Gemilang dan sektor kesehatan melalui Rumah Sakit Murni Sadar.

2. Memiliki beberapa perusahaan raksasa

profil Martua Sitorus
Martua Sitorus (dok. forbes.com)

Dilansir dari Google News Inilah.com, selain Wilmar dan KPN Plantation, Maratua juga memiliki beberapa perusahaan.

Pertama, PT Murni Sadar Tbk, merupakan langkah Martua memasuki industri kesehatan. 

Berdiri sejak tahun 2010, perusahaan ini berkembang dari sebuah layanan kesehatan menjadi jaringan rumah sakit modern yang menonjolkan fasilitas lengkap dan pelayanan yang lebih ramah pasien.  Perusahaan ini kemudian mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan kode MTMH.  Saat melantai di BEI pada tahun 2022, Rumah Sakit Murni Sadar berhasil memperoleh dana sebesar Rp342.09 triliun.

Kedua, Cemindo Gemilang. Adalah bisnis yang menjadi pintu masuk Martua Sitorus ke industri semen. Melalui merek Semen Merah Putih, perusahaan ini tidak hanya fokus memproduksi semen, tetapi juga memastikan distribusi yang efisien ke berbagai daerah. 

Pada tahun 2021, Cemindo Gemilang resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode CMNT. Pada penawaran saham perdana tersebut, perusahaan ini berhasil menghimpun dana sebesar Rp1.254 triliun.

Ketiga, Gamaland adalah perusahaan properti yang dibangun Martua Sitorus bersama saudaranya, Ganda Sitorus. Perusahaan ini memiliki portofolio yang luas, mulai dari hunian, perkantoran, hingga hotel dan kawasan komersial. 

Di Jakarta, Gamaland dikenal sebagai pemilik Gama Tower dan The Westin Hotel yang berada di dalamnya, serta proyek hunian, seperti Apartemen Pulo Gadung dan Arandra Residence. 

Di berbagai kota lain, Gamaland mengelola proyek, seperti Nivadra Residence di Pekanbaru, Koleza 9 di Deli Serdang, hingga properti di Bandung, Bekasi, Cilegon, Medan, Kubu Raya, Bali, bahkan Aviva Tower di Inggris.

3. Jumlah Kekayaan Martua Sitorus

Flyer Nonton Bareng Pesta Babi (Dok. Facebook Farid Gaban)
Flyer Nonton Bareng Pesta Babi (Dok. Facebook Farid Gaban)

Berdasarkan Real Time Net Worth Forbes per 26 November 2025, kekayaan Martua Sitorus tercatat mencapai US$3.6 miliar, yang jika dikonversi dengan kurs Rp16.656,60, setara dengan kurang lebih Rp59.96 triliun.

Data Forbes juga menunjukkan bahwa kekayaan Martua Sitorus mengalami kenaikan dan penurunan dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2020, kekayaan Martua Sitorus berada di angka US$1.8 miliar atau sekitar Rp29,98 triliun. Kemudian pada 2021, meningkat menjadi US$2 miliar atau sekitar Rp33,31 triliun. 

Pertumbuhan signifikan terlihat di 2022, ketika kekayaan Martua Sitorus naik menjadi US$2.9 miliar atau kurang lebih Rp48,30 triliun. Pada 2023, angka tersebut kembali naik ke US$3 miliar, setara dengan Rp49,96 triliun. Membuatnya masuk jajaran 20 besar orang terkaya Indonesia, tepatnya pada urutan ke-18 versi Forbes pada tahun 2023.

Sedangkan pada 2024, Forbes mencatat kekayaannya mencapai US$3.4 miliar atau sekitar Rp56,63 triliun, sebelum akhirnya menyentuh US$3.6 miliar atau sekitar Rp59.96 triliun di tahun 2025.

Lantas mengapa nama Martua Sitorus disebut dalam film "Pesta Babi"?

4. Tebu Dalam Konglomerasi Sawit

PSN-Tebu_Asrida-Elisabeth-8-1024x768.jpg
Joko Widodo menghadiri penanaman tebu perdana PT Global Papua Abadi di Kampung Sermayam, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, pada Selasa, 23 Juli 2024. Mereka disambut Wirastuty Fangiono, Martias Fangiono, dan Martua Sitorus (kanan). (BPMI Setpres/Muchlis Jr)

Dikutip dari artikel Project Multatuli berjudul "Konglomerat Sawit di PSN Tebu Merauke: Rebut Hak Ulayat, Dibeking Tentara dan Negara" yang tayang pada 7 Februari 2025, (Artikel lengkapnya bisa dibaca pada link berikut ini: https://projectmultatuli.org/konglomerat-sawit-di-psn-tebu-merauke-rebut-hak-ulayat-dibeking-tentara-dan-negara/)

Masifnya pembukaan lahan untuk perkebunan tebu oleh korporasi swasta didukung dengan pembentukan Satuan Tugas Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol di Merauke melalui Keppres No. 15/2024 yang ditandatangani Jokowi, April tahun lalu.

Kala itu, Satgas dipimpin Bahlil Lahadalia yang menjabat Menteri Investasi. Tidak ada informasi apakah jabatan Ketua Satgas telah berpindah ke Menteri Investasi dan Hilirisasi era Presiden Prabowo Subianto, Rosan Roeslani, atau masih dipegang Bahlil. 

Sejak sederet regulasi karpet merah dibuat negara untuk korporasi, semakin sering juga pejabat pemerintah dan pengusaha mengunjungi Merauke. Juli 2024, Jokowi menghadiri kegiatan penanaman perdana tebu Global Papua Abadi. Mantan presiden itu datang didampingi pengusaha Martua Sitorus serta Martias Fangiono dan anaknya, Wirastuty Fangiono. 

Pada 2013, Wilmar International pernah mengungkapkan akan bekerja sama dengan Noble Group Ltd. untuk membuka lahan sawit di Papua tetapi rencana itu dikabarkan tidak pernah terwujud.

Kendati demikian, sejak 2010, Wilmar telah mengantongi izin atas lahan seluas 200 ribu ha di Merauke untuk perkebunan tebu. 

Artikel yang ditulis Project Multatuli ini juga menemukan keterkaitan Tan Keng Liam, pengusaha yang memegang saham di sejumlah perusahaan dalam PSN tebu, dengan Martua Sitorus. Tan teridentifikasi sebagai Direktur Katingan Timber Group dan perusahaan hutan tanaman industri di Merauke, PT Wahana Samudera Sentosa. Kedua perusahaan dilaporkan berada di bawah kontrol Wilmar International. 

Friends of the Earth, lembaga nirlaba berbasis di Belanda yang dikutip Project Multatuli, melaporkan Wilmar bertanggung jawab atas deforestasi ilegal dan perusakan lingkungan yang melibatkan pembukaan hutan gambut sedalam 4 meter di wilayah operasionalnya di Riau. Selain itu, Greenpeace Indonesia pada 2017 menyebut Wilmar sebagai perusahaan penyebab utama deforestasi di Indonesia. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

Sudah 2 Hari Hilang di Air Terjun Situmurun, Christoper Belum Ditemukan

13 Apr 2026, 22:00 WIBNews