Chef Azwar MasterChef Bagi 1.200 Bubur Pedas Melayu di Medan

- Chef Azwar, alumni MasterChef Indonesia Season 12, memimpin aksi bagi 1.200 porsi Bubur Pedas Melayu Deli gratis di Lapangan Merdeka Medan dalam acara Karisma Event Nusantara 2026.
- Bubur Pedas Melayu Deli khas dengan 40 rempah tanpa cabai, menghasilkan rasa hangat alami; bahan pelengkapnya bisa ayam, kambing, atau seafood tergantung daerah pesisir.
- Chef Azwar menekankan pentingnya melestarikan tradisi kuliner gotong royong Melayu sebagai warisan budaya yang harus terus dijaga dan diteruskan oleh generasi muda Medan.
Medan, IDN Times – Lapangan Merdeka Medan penuh sesak, pada Senin (29/6/2026) sore. Sebanyak 1.200 porsi Bubur Pedas Melayu Deli dibagikan gratis kepada masyarakat. Jumlah itu lebih banyak dari target awal 1.000 porsi karena animo warga yang di luar dugaan.
Acara yang bertema “Masak Besar 1.000 Porsi Bubur Pedas Melayu Deli” ini merupakan bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 dan Gelar Melayu Serumpun (GEMES) 2026 yang digelar Dinas Pariwisata Kota Medan.
1. Resep juara MasterChef turun ke jalanan

Yang memimpin dapur umum kali ini Chef Azwar, Kepala Koki acara sekaligus alumni MasterChef Indonesia Season 12.
“Bubur ini sudah selesai masak. Kita lebihkan jadi sekitar 1.200 porsi. Tadi kita nggak nyangka antusiasnya sebanyak ini,” kata Azwar di lokasi.
Bagi Azwar, bubur yang dimasak adalah resep asli keluarga Melayu. “Ini bubur asli Melayu karena saya orang Melayu asli. Keluarga saya Melayu dan ini masakan keluarga yang sudah kita lalui. Ini pernah masuk MasterChef dan menang,” ujarnya.
2. Ada 40 Rempah tanpa cabai dan rasanya hangat

Ciri khas Bubur Pedas Melayu Deli ada pada bumbunya. “Bubur pedas ini makanya dibilang 40 rempah. Pedasnya bukan karena cabai. Tapi memang pedas itu karena rempah. Jadi bukan pedas tapi hangat,” jelas Azwar.
Tidak ada cabai yang digunakan. Ayam atau kambing hanya sebagai side dish. Di daerah pesisir seperti Tanjung Balai, bubur pedas bahkan memakai seafood. “Tergantung daerahnya, karena kan pesisir,” katanya.
3. Masakan keluarga yang harus dilestarikan

Bagi Azwar, bubur pedas bukan sekadar makanan. Ia adalah masakan gotong royong. “Biasanya di Ramadan. Masakan beberapa keluarga di desa. Bawa sayur-sayuran, digabung jadi satu, masak bareng-bareng sambil ngobrol,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan seperti ini terus ada. “Semoga tahun ke tahun ini selalu ada. Nggak harus bubur pedas. Tapi apapun itu budayanya tetap harus dilestariin. Setiap anak budaya yang ada di Kota Medan ini,” tegasnya.
“Orang Melayu juga harus membudayakan budaya Melayu. Karena kita bisa bilang budaya Melayu ini luar biasa ya. Bangsa, bukan suku lagi tapi bangsa yang besar. Nah orang dikit inilah yang maunya harus menaikin,” tutup Azwar.


















