Medan, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Balai Besar Wilayah I Medan menerbitkan peringatan dini cuaca Sumatra Utara untuk periode 30 September-2 Oktober 2026. Medan tercantum sebagai salah satu wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang, sementara sejumlah daerah lain berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat.
Dalam edaran peringatan dini BMKG yang diterima pada 30 Oktober 2026, Kota Medan tercantum di antara wilayah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang pada 30 September dan 1 Oktober 2026. Daftar tersebut juga mencakup sejumlah wilayah lain seperti Deli Serdang, Karo, Binjai, Langkat, Labuhanbatu, Nias, Padang Lawas Utara, Serdang Bedagai, dan Simalungun.
Medan juga tercantum dalam wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang pada tabel untuk 30 September dan 1 Oktober. Pada daftar tersebut terdapat pula Deli Serdang, Karo, Binjai, Serdang Bedagai, Tebing Tinggi, Langkat, Mandailing Natal, Nias, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Nias Selatan, Nias Utara, Padang Lawas, Pakpak Bharat, dan Simalungun.
BMKG juga mencantumkan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang. Pada daftar tersebut terdapat Asahan, Batubara, Dairi, Deli Serdang, Karo, Binjai, Pematang Siantar, Medan, Tebing Tinggi, Langkat, Mandailing Natal, Nias Barat, Nias Selatan, Nias, Pakpak Bharat, Serdang Bedagai, Simalungun, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah.
Untuk daftar tanggal berikutnya dalam tabel, wilayah yang tercantum meliputi Dairi, Humbang Hasundutan, Sibolga, Mandailing Natal, Pakpak Bharat, Samosir, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, serta Langkat, Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Padang Lawas, dan Simalungun. Medan tidak tercantum dalam dua daftar tersebut.
BMKG menyebut gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial yang aktif di Pulau Sumatra menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di Sumatra Utara. Kondisi itu diperkuat adanya konvergensi dan belokan angin di wilayah Sumut.
Selain itu, suhu muka laut di perairan Selat Malaka dan Samudera Hindia sebelah barat Sumatra disebut cukup hangat. BMKG juga mencatat kelembapan yang cukup tinggi di setiap lapisan serta kondisi labilitas atmosfer yang cukup labil, sehingga menambah suplai uap air dan meningkatkan pertumbuhan awan hujan.
