diskusi pemantapan proposal Siklus Hibah X Bisnis dan Konservasi, dilansir dari laman resmi TFCA-Sumatra, Senin (10/8/2026). (Dok: TFCA-Sumatra)
Membangun rantai bisnis dari petani hingga pasar tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga. Setelah proses pengembangan proposal sejak 2022, empat konsorsium dipilih untuk menjalankan program, yakni Konsorsium Gayo, Konsorsium Caritas, Mitra AKSI, dan Konsorsium SUCCESS.
Masing-masing memiliki peran pada sektor hulu, antara, dan hilir. Pembagian tersebut dibuat agar setiap bagian dalam rantai bisnis dapat saling melengkapi.
“Empat mitra dengan peran berbeda harus bekerja sebagai satu Aliansi untuk membangun model bisnis kopi konservasi yang berkelanjutan,” ujar Samedi.
Untuk mematangkan model tersebut, pertemuan lanjutan berlangsung di Medan pada 10–15 Agustus 2026. Forum itu membahas penyamaan persepsi, pembagian peran, desain proyek, hingga kesiapan mitra menjalankan bisnis kopi konservasi secara terintegrasi.
Tantangan berikutnya adalah memastikan model tersebut tidak kembali bergantung pada hibah. Sebab, sebuah program dapat menghasilkan kebun, melatih petani, dan meningkatkan produksi selama pendanaan tersedia. Persoalannya, belum tentu semua perubahan itu bertahan ketika proyek berakhir.
Karena itu, legacy atau warisan yang ingin dibangun mencakup pengetahuan petani, kelembagaan koperasi, jaringan pasar, tata kelola, dan praktik konservasi yang dapat berjalan secara mandiri.
“Pendekatan ini sejalan dengan mandat TFCA-Sumatra yang tidak hanya berfokus pada perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga pada penguatan masyarakat lokal, peningkatan kesejahteraan, dan penciptaan insentif bagi keterlibatan masyarakat dalam konservasi,” ungkap Samedi.
Dalam model tersebut, hibah berperan sebagai pemicu untuk membangun kapasitas, sistem, dan kelembagaan. Setelah itu, keberlanjutan bisnis diharapkan bertumpu pada hubungan antarpelaku, kualitas produk, tata kelola, dan akses pasar.
“Yang dibangun bukan sekadar kebun kopi, tetapi ekosistem bisnis yang menjadikan praktik konservasi sebagai bagian dari rantai nilai,” pungkasnya.