Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Permainan Tradisional Medan Ajak Anak Hindari Kecanduan Gawai

Kota Medan
Permainan Tradisional Medan Ajak Anak Hindari Kecanduan Gawai
Disdikbud Medan bersama KPOTI menggelar festival permainan tradisional dalam rangka HUT ke-81 RI (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Festival permainan tradisional di Taman Budaya Medan diikuti 650 peserta PAUD hingga SMP sebagai rangkaian HUT ke-81 RI.
  • Kegiatan ini melatih keberanian tampil, tanggung jawab, disiplin, kerja sama tim, dan sportivitas melalui berbagai lomba permainan rakyat.
  • Disdikbud Medan menggelar festival untuk mengurangi ketergantungan gawai, melestarikan budaya, serta memperluas pengenalan permainan tradisional secara bergantian tiap tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Medan, IDN Times - Festival Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Disdikbud Kota Medan bersama Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia KPOTI Kota Medan menjadi lebih dari sekadar ajang lomba. Kegiatan ini dijadikan sarana membentuk karakter peserta didik, khususnya dalam melatih keberanian tampil dan rasa tanggung jawab.

Festival yang merupakan rangkaian peringatan HUT ke-81 RI itu berlangsung di Taman Budaya Kota Medan, Sabtu 15 Agustus 2026. Sebanyak 650 peserta dari jenjang PAUD hingga SMP se-Kota Medan mengikuti lomba guli, ketapel, main tali atau yeye, bolak-balik balok, pecah piring, congklak, hingga memasukkan paku ke dalam botol.

  1. 1. Menumbuhkan keberanian sejak PAUD

    IMG-20260815-WA0137.jpg
    Disdikbud Medan bersama KPOTI menggelar festival permainan tradisional dalam rangka HUT ke-81 RI (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Kepala TK Mahanaim Kids Medan, Ernita Manurung, yang mendampingi dua siswanya pada lomba mewarnai, menilai festival ini penting untuk perkembangan mental anak.

    "Sebenarnya kegiatan ini jangan kita anggap untuk mencari menang, tapi anak berani tampil dan juga belajar bertanggung jawab. Dari mulai persiapan, datang tepat waktu, sampai menerima hasil lomba," katanya kepada Mistar, Sabtu 15 Agustus 2026.

    Ernita berharap kegiatan serupa dapat diagendakan rutin setiap tahun. Menurutnya, dengan latihan sejak dini, anak akan terbiasa menghadapi situasi baru tanpa rasa takut.

    "Saya sendiri sebelum lomba memang melatih anak. Kebetulan saya dulu juga pernah belajar mewarnai, jadi saya berikan pengarahan yang sedikit berbeda dari anak lain," tutur Ernita.

  2. 2. Belajar kerja sama dan sportivitas

    IMG-20260815-WA0135.jpg
    Disdikbud Medan bersama KPOTI menggelar festival permainan tradisional dalam rangka HUT ke-81 RI (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Antusiasme juga terlihat dari peserta tingkat SMP. Sofi dan Aira, siswi kelas IX SMP IT Arisa Kecamatan Medan Deli, mengaku ini adalah pengalaman pertama mereka mengikuti lomba di luar sekolah.

    "Seru sekali. Deg-degan juga, tapi jadi berani tampil di depan banyak orang. Kami belajar harus kompak sama tim," kata Sofi, 14 tahun.

    "Kami pernah main beberapa permainan tradisional, tapi waktu masih kecil. Sekarang main lagi jadi ingat harus sportif, menang kalah itu biasa," ujar Aira.

    Meski sempat kalah di cabang pecah piring dan bolak-balik balok, tim SMP IT Arisa berhasil meraih kemenangan pada cabang ketapel dan memasukkan paku ke dalam botol.

    Hal senada disampaikan Calvin Rafael, siswa SMPN 41 Medan. Ia mengaku awalnya gugup, namun lama-lama terbiasa.

    "Kalau permainan tradisional yang sering saya mainkan itu pecah piring. Tapi alhamdulillah saya menang di kategori ketapel. Senang karena bisa buktiin ke diri sendiri kalau berani coba," kata Calvin tersipu malu.

  3. 3. Cegah ketergantungan gawai

    IMG-20260815-WA0139.jpg
    Disdikbud Medan bersama KPOTI menggelar festival permainan tradisional dalam rangka HUT ke-81 RI (IDN Times/Indah Permata Sari)

    Kepala Disdikbud Kota Medan, Ahmad Barli Mulia Nasution, mengatakan festival ini sengaja digelar untuk mengalihkan anak dari ketergantungan gawai sekaligus menjaga warisan budaya.

    "Tujuannya supaya warisan budaya kita tidak hilang. Di masa digital ini anak-anak cenderung main gawai yang sifatnya individual. Sementara di sini mereka belajar bersilaturahmi, kerja sama, dan menghargai teman," ujarnya.

    Barli menambahkan, Disdikbud juga akan menggelar lomba berbalas pantun di Taman Cadika Medan minggu depan. "Setiap tahun lombanya kita ganti agar permainan tradisional lainnya juga dikenal anak-anak," katanya.

    Ketua KPOTI Kota Medan, Masnur Lukito, merinci festival tahun ini mengusung format 8+1 kegiatan. Sebanyak 100 siswa PAUD mengikuti lomba mewarnai merah putih. Tingkat SD dari 20 kecamatan melombakan guli, karet yeye, bolak-balik balok, dan ketapel. Tingkat SMP dari 32 sekolah melombakan pecah piring, congklak, dan guli paku.

    "Lewat permainan ini anak-anak belajar aturan, disiplin, kerja sama tim, dan berani tampil di depan umum. Itu bagian dari pendidikan karakter yang sekarang perlu kita kuatkan lagi," kata Masnur yang akrab disapa Bang Luki.

    Rangkaian lomba akan berlanjut ke babak perempat final, semifinal, hingga final untuk menentukan juara dari berbagai kategori.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More