Bisnis Kopi Disiapkan Jadi Warisan Konservasi Berkelanjutan di Sumatra

TFCA-Sumatra mendorong bisnis kopi sebagai cara menjaga dampak konservasi setelah pendanaan hibah berakhir.
Model bisnis menghubungkan petani, koperasi, pengolahan, industri, dan pembeli melalui sektor hulu, antara, serta hilir.
Empat konsorsium disiapkan untuk membangun ekosistem kopi yang memasukkan praktik pertanian berkelanjutan dan konservasi.
Medan, IDN Times – Program konservasi menghadapi persoalan yang tidak kalah penting setelah pendanaan berakhir, memastikan perubahan yang sudah dibangun bisa berkelanjutan. Tropical Forest Conservation Action (TFCA) - Sumatra mencoba menjawab tantangan itu dengan mendorong bisnis kopi yang menghubungkan petani, pengolahan, koperasi, hingga pasar.
Model tersebut dikembangkan melalui Siklus Hibah X Bisnis dan Konservasi. Empat konsorsium disiapkan untuk membangun rantai bisnis kopi yang tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga memasukkan praktik pertanian berkelanjutan dan kepentingan konservasi dalam prosesnya.
1. TFCA-Sumatra ingin dampak konservasi tetap berjalan setelah hibah

Kebun kopi masyarakat berdampingan dengan hutan di Kecamatan Ulu Pungkut Kabupaten Mandailingnatal Sumatra Utara. Masyarakat banyak memanfaatkan kebun yang sudah lama tidak digarap untuk menanam kopi. (Mirza Baihaqie for IDN Times) Kopi dinilai memiliki potensi mempertemukan kebutuhan ekonomi masyarakat dengan upaya menjaga hutan. Petani mendapatkan sumber penghidupan dari kebun, sementara praktik budidaya yang lebih baik diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap kawasan hutan.
Namun, membangun kebun bukan satu-satunya persoalan. Tantangan berikutnya adalah memastikan petani memiliki sistem usaha, kelembagaan, dan akses pasar yang mampu membuat kegiatan tersebut terus berjalan ketika dukungan hibah berakhir.
Direktur TFCA Sumatra Samedi mengatakan ukuran keberhasilan konservasi tidak cukup hanya dilihat dari apa yang berhasil dibangun selama program berlangsung.
“Legacy konservasi bukan hanya tentang apa yang dibangun selama program berjalan, tetapi tentang apa yang tetap hidup setelah hibah berakhir,” ujar Samedi saat membuka diskusi pemantapan proposal Siklus Hibah X Bisnis dan Konservasi, dilansir dari laman resmi TFCA, Sabtu (15/8/2026).
Karena itu, model yang disiapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi kopi. Petani, koperasi, unit pengolahan, industri, dan pembeli dihubungkan dalam satu rantai nilai agar kegiatan ekonomi tetap memiliki pijakan setelah pendanaan program selesai.
Fondasi produksi kopi tersebut sebenarnya sudah tersedia. Kajian TFCA-Sumatra pada 2021 mencatat kebun kopi Arabika masyarakat dampingan mitra sebelumnya mencapai sekitar 725 hektare dengan potensi produksi sekitar 484 ton per tahun.
Wilayah produksinya antara lain mencakup Sipirok, Mandailing, dan Kerinci. Sementara itu, kebun Robusta di wilayah dampingan proyek mitra mencapai hampir 47 ribu hektare, antara lain di Serampas, Merangin, Kepahiang, Bengkulu, dan Tanggamus.
2. Rantai kopi dibangun dari kebun sampai ke pasar

Proses sortase biji di KSU Komanja. Untuk menjaga kualitas kopinya, Komanja melakukan proses produksi yang cukup ketat. (IDN Times/Prayugo Utomo) Model bisnis yang dikembangkan dibagi menjadi tiga sektor, yakni hulu, antara, dan hilir. Ketiganya dirancang untuk saling terhubung, sehingga peningkatan produksi di kebun tidak berhenti ketika kopi keluar dari tangan petani.
Pada sektor hulu, fokusnya adalah memperkuat petani dan praktik budidaya. Petani didorong menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), pemanenan berkelanjutan, serta menjaga kualitas kopi sejak dari kebun.
Koperasi primer menjadi salah satu bagian penting dalam tahap tersebut. Selain mengelola hasil produksi, koperasi diharapkan dapat memperkuat posisi petani dalam rantai bisnis.
“Produksi harus berjalan dengan memperhatikan keberlanjutan lanskap tempat kopi tersebut tumbuh. Dengan demikian, praktik pertanian menjadi bagian dari strategi konservasi. Masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari kebun, sementara praktik pengelolaan lahan yang lebih baik dapat membantu mengurangi tekanan terhadap kawasan hutan,” ujar Samedi.
Dari sektor hulu, kopi kemudian masuk ke sektor antara. Tahapan ini berfokus pada kualitas hasil produksi melalui proses pengolahan. Kopi diproses melalui wet mill atau Unit Pengolahan Hasil (UPH) tahap pertama, sebelum dilanjutkan ke dry mill untuk menghasilkan green bean sesuai standar pasar.
Good Processing Practices, sertifikasi kelompok, dan mekanisme pengolahan menjadi bagian dari tahapan tersebut. “Koperasi sekunder dirancang sebagai entitas yang menghubungkan produksi petani dengan industri dan pasar. Dengan kata lain, sektor antara menjadi jembatan antara kebun dan konsumen,” ungkapnya.
Sementara sektor hilir diarahkan untuk memastikan kopi yang sudah memenuhi standar memiliki akses ke pasar dan pembeli atau off-taker yang mampu memberikan nilai tambah.
Pada tahap ini, kualitas, keterlacakan (traceability), sertifikasi, serta teknologi informasi menjadi penting. Dengan begitu, nilai kopi tidak hanya ditentukan dari harga jual, tetapi juga dari asal produk, proses produksi, dan cara lahan dikelola.
3. Empat konsorsium disiapkan membangun rantai bisnis kopi

diskusi pemantapan proposal Siklus Hibah X Bisnis dan Konservasi, dilansir dari laman resmi TFCA-Sumatra, Senin (10/8/2026). (Dok: TFCA-Sumatra) Membangun rantai bisnis dari petani hingga pasar tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga. Setelah proses pengembangan proposal sejak 2022, empat konsorsium dipilih untuk menjalankan program, yakni Konsorsium Gayo, Konsorsium Caritas, Mitra AKSI, dan Konsorsium SUCCESS.
Masing-masing memiliki peran pada sektor hulu, antara, dan hilir. Pembagian tersebut dibuat agar setiap bagian dalam rantai bisnis dapat saling melengkapi.
“Empat mitra dengan peran berbeda harus bekerja sebagai satu Aliansi untuk membangun model bisnis kopi konservasi yang berkelanjutan,” ujar Samedi.
Untuk mematangkan model tersebut, pertemuan lanjutan berlangsung di Medan pada 10–15 Agustus 2026. Forum itu membahas penyamaan persepsi, pembagian peran, desain proyek, hingga kesiapan mitra menjalankan bisnis kopi konservasi secara terintegrasi.
Tantangan berikutnya adalah memastikan model tersebut tidak kembali bergantung pada hibah. Sebab, sebuah program dapat menghasilkan kebun, melatih petani, dan meningkatkan produksi selama pendanaan tersedia. Persoalannya, belum tentu semua perubahan itu bertahan ketika proyek berakhir.
Karena itu, legacy atau warisan yang ingin dibangun mencakup pengetahuan petani, kelembagaan koperasi, jaringan pasar, tata kelola, dan praktik konservasi yang dapat berjalan secara mandiri.
“Pendekatan ini sejalan dengan mandat TFCA-Sumatra yang tidak hanya berfokus pada perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga pada penguatan masyarakat lokal, peningkatan kesejahteraan, dan penciptaan insentif bagi keterlibatan masyarakat dalam konservasi,” ungkap Samedi.
Dalam model tersebut, hibah berperan sebagai pemicu untuk membangun kapasitas, sistem, dan kelembagaan. Setelah itu, keberlanjutan bisnis diharapkan bertumpu pada hubungan antarpelaku, kualitas produk, tata kelola, dan akses pasar.
“Yang dibangun bukan sekadar kebun kopi, tetapi ekosistem bisnis yang menjadikan praktik konservasi sebagai bagian dari rantai nilai,” pungkasnya.








![[BREAKING] Gempa M6,4 Guncang Simalungun, Tidak Berpotensi Tsunami](https://image.idntimes.com/post/20241217/whatsapp-image-2021-09-03-at-32341-pm-1-898990624f716b05d98005571a4b3049-600x400-0c6864124349d90afbd54996585e4743.jpeg)

![[BREAKING] Gempa di Simalungun M 6.4, Terasa Sampai di Medan](https://image.idntimes.com/post/20250330/bencana-gempa2-600x400-0d54f2f4269dc94170f1e09739d8c76c.jpg)







