Suasana perayaan Deepavali di kuil Shri Mariamman Medan (IDN Times/Indah Permata Sari)
Tokoh masyarkat Hindu, Manugren menjelaskan Deepavali adalah gabungan kata dari "deep" yang artinya "baris" dan "avali" yang berarti "cahaya". Jadi, arti Diwali atau Deepavali adalah "baris cahaya". Sementara menurut istilah, Diwali atau Deepavali disebut juga sebagai "Festival Cahaya". Festival ini identik dengan penggunaan "Diya", yakni sejenis lampu minyak untuk menerangi rumah dan bangunan.
Diwali jatuh pada bulan "Ashwayuja" dalam kalender Hindu, yang biasanya berkisar antara Oktober dan November dalam kalender Masehi. Jadi, perayaan ini memiliki tanggal yang berbeda setiap tahunnya. Artinya, Diwali atau Deepavali yang merujuk pada salah satu perayaan hari kemenangan terbesar dalam agama Hindu dari etnis India.
“Jadi filosofinya kita sebagai manusia yang yang hidup dimuka bumi ini, ada sifat-sifat yang harus kita bakar didalam diri kita maka itu disebut dalam Hindu Trikaya Parisudha. Berpikir yang benar, melihat yang benar, berbicara yang benar, perbuatan yang benar. Ada sifat iblis, setan, dengki, iri, cemburu harus dibakar didalam perayaan Depaavali ini. Pada saat itu Sri Krishna mengalahkan narakasura itu raksasa, manusia juga mempunyai sifat raksasa,” jelasnya.
Menurutnya, banyak hal yang harus dibakar dalam kehidupan ini sehingga iman bisa menajdi lebih kuat menghadapi Tuhan yang maha kuasa.
“Mari kita menjalankan cahaya Depaavali ini dan kita juga mendukung seluruh program pemerintah, maka disebutkan dalam dharma negara ada Adharma agama. Apapun yang dibuat negara harus kita hormati, apa yang ditentukan didalam agama harus kita hormati jadi kedua-duanya singkron,” pungkasnya.