Faktor Kekerasan pada Anak Menurut Psikolog

Medan, IDN Times -Direktur Minauli Consulting Medan Irna Minauli menyoroti para pelaku kekerasan terhadap anak yang sering terjadi di manapun berada. Menurut Irna, para pelaku pada umumnya dalam kasus ini memiliki sejarah kekerasan pada masa kanak-kanaknya.
Mereka terbiasa diasuh dengan kekerasan. Dengan begitu, pola pengasuhan ini yang kemudian dilanjutkan pada anak-anaknya.
"Hubungan pelaku dengan orangtuanya juga sering kurang baik sehingga ketika mereka memiliki anak, hubungan dengan anaknya pun menjadi kurang baik," katanya.
Dari Irna, berikut beberapa faktor maupun hal-hal yang menjadi pemicu para pelaku kekerasan pada anak.
1. Kurang memiliki pemahaman tentang kebutuhan dasar perkembangan anaknya

Irna menjelaskan bahwa, yang perlu diketahui adalah para pelaku kekerasan kurang memiliki pemahaman tentang kebutuhan dasar perkembangan anaknya. Hal ini menjadi dasar, pelaku untuk berharap anaknya sudah dapat melakukan sesuatu tugas yang belum sesuai usianya.
"Misalnya, anak-anak umumnya sering lupa dengan barang-barang bawaannya sehingga mengharapkan bahwa anak tidak lupa tanpa memberikan solusinya menjadi hal yang kurang bijak. Seharusnya supaya tidak lupa, anak diajarkan melihat catatan yang diberikan ibunya, apa saja yang harus dibawa kembali sepulang sekolah, seperti perlengkapan makannya," jelasnya.
2. Salah satu faktornya adalah ekonomi dalam keluarga

Selain itu, yang menjadi pemicu maupun faktor adalah kondisi stres akibat masalah ekonomi, keluarga dan adanya masalah dalam perkawinannya.
"Contohnya, seorang ibu yang stres akibat perlakuan buruk dari suami dan mertuanya, cenderung melampiaskan kemarahannya pada anaknya," kata Irna.
3. Masalah kesehatan mental dari sosok ibu dapat menjadi pemicunya

Selain itu, masalah kesehatan mental dari sosok ibu dapat menjadi pemicunya. Mulai dari masalah depresi, kecemasan atau PTSD (Post-traumatic stress disorder) sering dijumpai pada ibu yang melakukan kekerasan terhadap anaknya.
"Kondisi kekerasan terhadap anak dapat dicegah dengan pemberian dukungan sosial dari keluarga, teman atau tetangga. Ibu yang terlalu lelah terbebani dengan pekerjaan rumah tangga, cenderung menjadi gampang marah. Itu sebabnya bantuan dari lingkungan menjadi sangat penting," pungkas Irna.



















