Tempat Pemungutan Suara (TPS) 04, Jalan Pembangunan Baru, Kelurahan Sitirejo II, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan (IDN Times/Prayugo Utomo)
Setelah kericuhan itu, akses warga ke TPS dibatasi. Kata Wina, anak Kepling setempat memasang tali rafia, untuk memberi jarak pengunjung ke TPS yang ada di halaman rumah warga itu.
“Katanya yang bisa masuk hanya yang berkepentingan doang. Padahal ini kan harusnya bisa disaksikan semua,” kata Wina.
Soal pelarangan warga masuk ke dalam TPS ini juga dikonfirmasi oleh warga lainnya. Dewi (bukan nama sebenarnya) juga mengungkap pelarangan warga masuk ke dalam TPS untuk menyaksikan proses pemungutan suara setelah kericuhan terjadi.
Bahkan Dewi menyebut Kepling setempat sempat mengamuk saat kericuhan itu terjadi. Dia memarahi masyarakat.
Saat kericuhan itu terjadi Lurah Medan Amplas Hasrun Syarif Dongoran juga berada di lokasi. “Lurahnya pun diam saja,” kata Dewi.
Setelah kericuhan itu, petugas KPPS baru melakukan verifikasi antara DPT, undangan memilih dan KTP orang yang akan memilih.
Sebelumnya, IDN Times bersama awak media lain sudah berupaya mengonfirmasi ketua KPPS TPS 04. Seorang anggota KPPS sempat meminta awak media menunggu. IDN Times dan awak media lainnya kemudian mewawancaraii Wina.
Saat wawancara hendak berakhir, seorang anggota KPPS kemudian mendokumentasikan Wina dengan ponselnya. Wina kemudian marah karena didokumentasikan tanpa izin. Wina kemudian meminta anggota KPPS itu menghapus fotonya.
Namun anggota KPPS itu menolak. Anggota KPPS perempuan tersebut kemudian berdalih jika Wina tidak minta izin kepada mereka untuk diwawancarai awak media. Bahkan, anggota KPPS juga mengatakan, jurnalis harus meminta izin kepada mereka jika ingin mewawancarai warga.
Seorang petugas Linmas KPPS berinisial MAR bahkan mencoba melarang jurnalis mengambil dokumentasi di TPS. Dia menuding, para jurnalis sudah mengganggu ketertiban karena melakukan peliputan.
Dugaan kecurangan pemilu dengan motif yang saa juga terjadi di kawasan Kecamatan Medan Kota, Kota Medan. Tepatnya di TPS 05 Teladan Barat. Namun beruntung, orang-orang yang dicurigai itu tidak sempat memilih.
Anggota KPPS 05, Saiful Hadit membenarkan adanya dugaan hal tersebut terjadi di TPS tempat dirinya bertugas. Saiful mengatakan sejumlah orang tersebut dicurigai dari gestur saat dipanggil untuk memberikan hak suaranya. Namun setelah mengambil formulir C6, seorang terduga pelaku langsung kabur. Sementara sejumlah lainnya dibawa warga ke kantor kecamatan.