Karo, IDN Times - Sembilan tahun sudah Gunung Sinabung di Kabupaten Karo mengalami erupsi. Belasan ribu orang harus mengungsi, tiga desa terpaksa direlokasi karena hilang diterjang debu dan lahar panas.
Namun hingga kini belum semua pengungsi yang mendapatkan relokasi dari Pemerintah Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Gunung Sinabung memuntahkan debu vulkanik pertama kali pada 27 Agustus 2010. Ribuan warga mengungsi secara tersebar yang difasilitasi oleh Pemda Karo. Para pengungsi diarahkan kembali ke daerah asal masing-masing mengingat gunung Sinabung tidak lagi erupsi. '
Namun tahun 2013 terjadi letusan hebat. Mengakibatkan beberapa desa rusak parah. Kala itu jumlah warga yang mengungsi mencapai 18.412 jiwa.
Pada 18 Juni 2015 Gunung Sinabung mengalami erupsi hebat lagi. Berdasarkan data BNPB, tercatat pengungsi sebanyak 10.377 jiwa (2.762 KK) yang tersebar di 10 pos pengungsian.
Akibat dampak letusan tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan ada tiga desa yang harus direlokasi yaitu Desa Sukameriah, Simacem dan Bakerah.
Dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 2.917 kepala keluarga atau 11.668 orang harus meninggalkan tiga desa dan mendapat relokasi tempat tinggal.
Relokasi tahap I ke Desa Siosar untuk 370 KK dalam bentuk rumah dan 457 KK dalam bentuk lahan usaha tani. Relokasi tahap I sudah selesai.
Relokasi mandiri tahap II tersebar di lokasi beberapa hamparan dengan 1.655 KK mendapat rumah baru dan 1.679 KK mendapat lahan usaha tani. Penanganan tahap II ini juga sudah selesai.
Namun untuk relokasi tahap III atau tahap akhir, nasib 892 KK atau sekitar 3.500 jiwa masih terkatung-katung. Pembangunan rumah untuk mereka hingga kini belum juga selesai.
