Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

13 Tahun Relawan TIK, Berupaya Jadi Dokter Teknologi untuk Warga

13 Tahun Relawan TIK, Berupaya Jadi Dokter Teknologi untuk Warga
Ketua Umum Relawan TIK Indonesia, Fajar Eri Dianto (IDN Times/Indah Permata Sari)
Share Article

Medan, IDN Times - Relawan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) Indonesia sudah 13 tahun hadir di Indonesia.  Ketua umum Relawan TIK Fajar Eri Dianto menjelaskan bahwa hadirnya relawan TIK bertujuan untuk menjaminkan teknologi aman dan nyaman.

Hal ini disampaikannnya, saat momen memperingati Hari Ulang Tahun Relawan TIK yang ke-13 tahun di Medan. Jejak relawan TIK selama 13 tahun, dikatakannya saat itu sejak mengenalkan email dan cara pengoperasiannya, media sosial, hingga sampai sekarang dampak pemanfaatan teknologi yang sudah bermunculan.

Namun, jika diteliti lagi, ada yang menarik untuk dibahas yakni maraknya pinjaman hingga judi online yang berdampak kepada hal negatif. Sehingga, munculnya ini merupakan tanggungjawab relawan TIK agar relawan TIK setiap daerah bisa mengenali giat kompetensi masyarakat terhadap teknologi yang seharusnya meningkatkan kompetensi anggota.

"Kami punya Artika (akademi relawan TIK) jadi teman yang jadi anggota harusnya masuk dulu di Artika untuk dijadikan penguatan pengetahuannya kemampuannya kemudian disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Nah, hari ini pas tanggal 5 Juli 2024 Alhamdulillah hari ultah relawan TIK ke 13 tahun," katanya.

1. Kota Medan dinilai termasuk dalam kota dengan indeks literasi digital yang cukup baik

Ketua Umum Relawan TIK Indonesia, Fajar Eri Dianto bersama anggota relawan TIK di Sumut (IDN Times/Indah Permata Sari)
Ketua Umum Relawan TIK Indonesia, Fajar Eri Dianto bersama anggota relawan TIK di Sumut (IDN Times/Indah Permata Sari)

Dijelaskannya, Relawan TIK itu adalah kumpulan komunitas melalui orang-orang yang peduli beragam segmen dari beragam intelektual dan apapun menjadi tugas mereka sehari-hari yang rela denganwaktu, memiliki motivasi, tenaga, minat, kemauan, dan kepedulian terhadap masyarakat terutama masyarakat penikmat teknologi.

"Saya sebagai ketua umum relawan TIK Indonesia berharap Kota Medan adalah kota dengan indeks literasi yang cukup baik. Baik dalam tanda kutip terutama baik dalam teknologi. Indeks member judi online cukup besar disini dan itu merupakan tanggungjawab kita. Ayo teman-teman di medan Sumut buatlah program ayo kita diskusi dengan teman akademisi buat program yang menyasar dari lini sekolah dasar sampai dengan netizen yang ada di Medan ini," ungkapnya.

Sehingga, mereka bisa dengan bijak memanfaatkan platform digital termasuk salah satunya judi online atau pinjol.

Baginya, hal ini merupakan kerja nyata para relawan TIK jika bisa memiliki program yang konsisten dan bisa menjadi dokter teknologi bagi masyarakat di kota medan.

"Sehingga, teknologi bukan jebakan batman lagi tapi teknologi adalah alat yang bisa memfasilitasi kehidupan masyarakat," katanya.

2. Saat ini kasus judi online dan pinjaman online jadi sorotan relawan TIK

Ketua Umum Relawan TIK Indonesia, Fajar Eri Dianto (IDN Times/Indah Permata Sari)
Ketua Umum Relawan TIK Indonesia, Fajar Eri Dianto (IDN Times/Indah Permata Sari)

Lanjutnya, terkait Indeks literasi digital kota Medan akan direncanakan adanya evaluasi untuk memastikan angka yang valid 

"Artinya kami butuh bantuan teman-teman RTIK yang ada di kampus untuk melakukan kajian, analisa, terhadap hal yang memang menjadi indikator untuk pencapaian indeks. Jadi, angkanya sementara valid karena memang sudah ditetapkan oleh pemerintah tapi ini tidak bisa membuat kita senang," ucapnya.

Jika angka tersebut masuk dalam penilaian jelek, maka ini menjadi pembelajaran bagi relawan TIK. Sebab, kenyataan menurutnya yang saat ini paling tinggi adalah kasus judi online yang merebah sangat luas dan otomatis juga ke pinjaman online dikarenakan bermodalnya dari situ.

"Jadi pendapatan yang tidak seberapa itu diterima dengan 1 atau 2 putaran slot uang yang dikembalikan akan lebih besar tapi ternyata malah bablas sehingga harus pinjol. Beberapa hari di Medan itu yang saya dapatkan informasinya. Mudah-mudahkan tidak benar tapi itu yang saya dengar," tuturnya.

Dari hal tersebut, dibutuhkan penguatan kompetensi anggota relawan di TIK sehingga pantas disebut menjadi pendamping, dengan demikian mereka memiliki kewajibannya untuk bisa mendampingi masyarakat dalam memanfaatkan teknologi sehingga menjadi bisa memberikan solusi-solusi kalau memang ada jebakan-jebakan sudah di terima oleh masyarakat.

3. Diharapkan teknologi bukan lagi jadi kambing hitam

Ketua Umum Relawan TIK Indonesia, Fajar Eri Dianto bersama anggota relawan TIK di Sumut (IDN Times/Indah Permata Sari)
Ketua Umum Relawan TIK Indonesia, Fajar Eri Dianto bersama anggota relawan TIK di Sumut (IDN Times/Indah Permata Sari)

Kendala selama 13 tahun, Fajar mengatakan relawan TIK itu tidak ada yang diberi gaji. Jadi, mereka belum menemukan cara untuk bisa melakukan optimal setiap kegiatan.

"Sebetulnya ini bukan harapan tapi perintah, karena pakai seragam kalau tidak berani ambil konsekuensinya sebagai relawan TIK. Konsekuensinya sebagai relawan TIK menjadi pendamping masyarakat, begitu menjadi pendamping masyarakat ukur diri pantas gak menjadi pendamping masyarakat. Jika tidak pantas, maka kuatkan semangat, motivasi, tekat, dan skill termasuk kuatkan ijin dari keluarga karena ternyata dapatnya rezeki itu di kemudian hari saat kita berbuat sesuatu," harapnya.

Lewat tema tahun ini adalah kolaborasi dan sinergi, Dajar mengatakan karena sekarang masalah dampak teknologi sudah sangat kompleks seperti kebocoran data walaupun tidak bisa menyentuh sampai tingkat data nasional. Namun, memiliki upaya yaitu menjaga netizen untuk bisa bijak memanfaatkan datanya.

Dia berharap, teknologi bukan lagi jadi kambing hitam. Namun, dapat dijalankan masyarakat secara etika.

"Kami punya 4 pilar literasi digital didalam pilar itu ada etika dan budaya. Kami berharap netizen yang ada di Indonesia menjadi masyarakat yang tahu tata krama, adat istiadat, etika, perilaku, budi pekerti dan lain sebagainya. Sehingga, teknologi yang digunakan adalah teknologi yang memang bermanfaat. Jadi, tidak gampang untuk bisa jadi FOMO, YOLO dan hal negatif lainnya," pungkasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Indah Permata Sari
Arifin Al Alamudi
3+
Indah Permata Sari
EditorIndah Permata Sari

Latest News Sumatera Utara

See More

Abdul Rozzaq, Menyemai Asa dengan Bertani Cabai Pasca Bencana

14 Jun 2026, 20:42 WIBNews