20 Tahun Kliniix Slimm, Perjalanan Panjang dalam Inovasi Tanpa Henti

Medan, IDN Times - Lampu kristal Regale Convention Centre Medan malam itu menjadi saksi perjalanan dua dekade Kliniix Slimm, klinik slimming dengan pendekatan Slimming Tanpa Diet. Ribuan tamu memenuhi ruangan, bukan sekadar untuk merayakan ulang tahun, tetapi untuk menghormati sebuah perjalanan panjang yang dibangun dari ketekunan, keberanian, dan visi yang tak pernah padam.
Dalam perayaan 20 tahun Kliniix Slimm menjadi momentum refleksi atas perjuangan, dedikasi, dan inovasi yang mengantarkan klinik ini hingga berada di titik sekarang.
Perayaan yang dikemas dalam gala dinner tersebut dihadiri ribuan undangan dari berbagai kalangan. Ucapan selamat dan apresiasi mengalir kepada pendiri Kliniix Slimm, Jusuf Efendi dan sang istri, dr. Imelda Tjoe, atas konsistensi mereka membangun klinik estetika dan pelangsingan yang kini dikenal luas sebagai rujukan utama di Kota Medan dan sekitarnya.
1. Keterbukaan Kliniix Slimm dalam mengadopsi teknologi terbaru

Salah satu apresiasi datang dari Tun. dr. H. Rahmat Shah, Ketua Palang Merah Indonesia Provinsi Sumatera Utara sekaligus Konsul Jenderal Kehormatan Turki di Medan.
Dalam sambutannya, dia mengungkapkan rasa salut dan bangganya terhadap pencapaian Kliniix Slimm yang dibangun dari nol hingga berkembang pesat. Seperti saat ini Tun. dr. H. Rahmat Shah menilai, perjalanan Kliniix Slimm sebagai contoh nyata dari kerja keras dan keberanian menghadapi tantangan.
Menurutnya, Jusuf Efendi dan dr. Imelda Tjoe telah melalui berbagai fase jatuh bangun dalam membangun usaha, namun tetap berpegang pada komitmen untuk terus belajar dan berkembang. Salah satu hal yang ia soroti adalah keterbukaan Kliniix Slimm dalam mengadopsi teknologi terbaru demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.
Dia juga berharap agar para pendiri Kliniix Slimm senantiasa menjaga nilai kerendahan hati, kepedulian sosial, serta terus bersandar kepada Tuhan dalam setiap langkah. “Resep saya sederhana: lakukan kebaikan untuk diri sendiri, jangan berbohong kepada Tuhan dan diri sendiri,” ujarnya, seraya menekankan bahwa hidup yang bermanfaat bagi orang lain adalah kunci kebahagiaan dan umur panjang.
2. Kliniix Slimm di tahun 2005 berawal dari sebuah ruang praktik sederhana di sebuah ruangan berukuran 3x4 meter

Dalam sambutannya, Jusuf Efendi, yang didampingi dr. Imelda Tjoe, menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran para undangan yang telah meluangkan waktu untuk merayakan dua dekade perjalanan Kliniix Slimm.
“Terima kasih atas dukungan Bapak, Ibu, serta seluruh mitra dan sahabat. Berkat kepercayaan inilah Kliniix Slimm dapat tumbuh dan berkembang hingga hari ini,” ungkapnya.
Ditegaskannya bahwa, perayaan ini bukan sekadar penanda usia klinik, melainkan bentuk apresiasi atas kerja keras, dedikasi, dan cinta yang tak pernah surut dari seluruh tim, serta peran besar dr. Imelda Tjoe yang selama ini menjadi sosok sentral di balik perkembangan klinik.
Baginya, perjalanan Kliniix Slimm adalah perjalanan keluarga, dibangun dengan kepercayaan, komitmen, dan visi jangka panjang.
Dua puluh tahun bukan hanya tentang waktu, melainkan tentang kerja hati dan dedikasi.
Kliniix Slimm di tahun 2005 berawal dari sebuah ruang praktik sederhana dengan keterbatasan fasilitas, namun memiliki visi menghadirkan perawatan estetika dan pelangsingan yang aman, personal, dan bermakna melalui konsep Slimming Tanpa Diet. Tantangan di masa awal justru menjadi pelajaran berharga yang mengantarkan klinik ini tumbuh menjadi pusat estetika dengan fasilitas lengkap, teknologi terkini, serta metode perawatan modern yang terus diperbarui.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Imelda Tjoe berbagi kisah perjuangan yang menjadi fondasi berdirinya Kliniix Slimm.
Dia mengenang masa awal praktiknya di sebuah ruangan berukuran 3x4 meter, yang hanya cukup menampung meja konsultasi dan beberapa tempat tidur terapi. Meski ruang terbatas, komitmennya terhadap kualitas pelayanan tak pernah berkurang. Selama bertahun-tahun, ia menerima pasien dengan berbagai keluhan, terutama di bidang pelangsingan dan perawatan wajah.
3. Tantangan terberat pada kondisi pemulihan pasca COVID-19 serta tanggung jawab merawat bayi berusia enam bulan

Tantangan terberat datang pada tahun 2020, ketika ia harus meninggalkan tempat praktik lama tanpa membawa peralatan dan mesin, di tengah kondisi pemulihan pasca COVID-19 serta tanggung jawab merawat bayi berusia enam bulan. Dalam situasi tersebut, dr. Imelda harus kembali memulai dari nol.
“Di titik itu, fighting saya justru semakin besar,” kenangnya. Dengan dukungan suami dan tim, ia membangun kembali klinik baru dalam waktu 11 bulan. Seluruh perlengkapan, mulai dari kebutuhan dasar hingga mesin berteknologi Amerika dan Eropa, dipersiapkan secara mandiri demi memastikan standar pelayanan tetap terjaga.
Bagi dr. Imelda, teknologi bukan sekadar alat, melainkan bagian dari komitmen untuk terus belajar dan memberikan hasil terbaik bagi pasien. Ia bersama tim rutin mengikuti pelatihan dan pengembangan di berbagai negara, agar Kliniix Slimm selalu selangkah lebih maju dalam menghadirkan perawatan yang aman dan efektif.
Prosesi pemotongan tumpeng menjadi puncak acara sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan yang telah dilalui. Momen tersebut menandai bukan hanya pencapaian dua dekade, tetapi juga harapan akan inovasi dan pertumbuhan di masa depan. Kliniix Slimm, sebagai klinik slimming No.1 di Indonesia, tidak hanya menatap pengembangan di Medan, tetapi juga membuka peluang ekspansi ke kota lain, bahkan ke tingkat internasional.
Perjalanan dua dekade Kliniix Slimm menegaskan satu hal: keberanian, ketekunan, dan inovasi mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Dari ruang praktik kecil hingga pusat estetika terkemuka dengan konsep Slimming Tanpa Diet, kisah ini bukan sekadar tentang pertumbuhan sebuah klinik, melainkan tentang nilai, perjuangan, dan dedikasi yang terus hidup di setiap langkahnya.


















