Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dari Jakarta ke Desa, Bisnis Drone Rico Jadi Favorit di Bukit Holbung
Salah satu tempat wisata menikmati Danau Toba dari Bukit Holbung (IDN Times/Indah Permata Sari)
  • Rico G Nadeak, pemuda asal Hariara Pohan, mendirikan Water Man Studio di Bukit Holbung setelah pulang dari Jakarta, memanfaatkan keahliannya sebagai pilot drone untuk dokumentasi wisata.
  • Water Man Studio tidak hanya melayani turis mancanegara tetapi juga menjadi wadah pelatihan anak muda lokal agar memiliki keterampilan drone dan digital tanpa harus merantau.
  • Melalui video udara yang menarik, Water Man Studio membantu promosi Bukit Holbung dan Danau Toba, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat sekitar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Sebelum 2025

Rico G Nadeak bekerja di Jakarta di bidang drone mapping tata wilayah dan kota, menguasai dasar penerbangan drone serta pengolahan data.

Tahun 2025

Rico mendirikan Water Man Studio di Bukit Holbung bersama seorang teman dengan modal dua unit drone seadanya.

kini

Water Man Studio memiliki tiga pilot drone termasuk Rico, satu admin, dan satu editor. Studio ini aktif melayani wisatawan lokal maupun mancanegara setiap hari dan berperan mempromosikan Bukit Holbung lewat video udara.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pendirian Water Man Studio, usaha jasa dokumentasi udara menggunakan drone di Bukit Holbung, Samosir, yang digagas oleh Rico G Nadeak untuk melayani wisatawan dan memberdayakan pemuda desa.
  • Who?
    Rico G Nadeak bersama tim muda dari Desa Hariara Pohan, termasuk tiga pilot drone, satu admin, dan satu editor yang tergabung dalam Water Man Studio.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Bukit Holbung, Kecamatan Harian Boho, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, dengan studio berlokasi di Desa Hariara Pohan.
  • When?
    Water Man Studio berdiri pada tahun 2025 dan beroperasi setiap hari pukul 07.00 hingga 18.00 WIB sesuai permintaan wisatawan.
  • Why?
    Rico mendirikan usaha ini untuk memanfaatkan potensi wisata lokal, mengurangi urbanisasi pemuda desa, serta membantu promosi Bukit Holbung melalui video udara berkualitas.
  • How?
    Dengan dua unit drone awal, Rico melatih anak muda setempat menjadi pilot drone profesional dan menawarkan paket dokumentasi mulai Rp300.000 hingga Rp1.500.000 bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Rico dulu kerja di Jakarta, tapi dia pulang ke kampungnya di Hariara Pohan. Dia bisa terbangin drone dan bikin video dari atas langit. Di sana dia buka Water Man Studio buat bantu turis ambil gambar di Bukit Holbung. Sekarang banyak anak muda belajar sama dia supaya bisa kerja juga dan bantu promosi tempat itu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kisah Rico G Nadeak menunjukkan bagaimana kepulangan ke desa dapat menjadi sumber inovasi dan pemberdayaan. Dengan mendirikan Water Man Studio di Bukit Holbung, ia tidak hanya mengembangkan bisnis dokumentasi drone yang diminati wisatawan mancanegara, tetapi juga membuka ruang belajar bagi anak muda lokal untuk memperoleh keterampilan digital yang relevan dengan potensi daerahnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Pulang kampung gak selamanya soal menyerah. Bagi Rico G Nadeak, pemuda asli Hariara Pohan, pulang justru jadi awal membangun sesuatu. Berbekal skill pilot drone dari Jakarta, Rico mendirikan Water Man Studio yang merupakan jasa dokumentasi drone di Bukit Holbung, Samosir yang kini ramai dipakai turis mancanegara.

Kepada IDN Times, Rico menceritakan awal mula membuka usaha drone di Bukit Holbung bersama anak muda di sekitaran tempat wisata ini. Sebelum 2025, Rico kerja di Jakarta di bidang drone mapping tata wilayah dan kota. “Capeknya kerasa banget di ibukota,” katanya. Tapi justru dari situ dia kuasai basic dalam menerbangkan drone, mapping, olah data.

Pas balik ke Hariara Pohan, Rico lihat Bukit Holbung yang semakin ramai dikunjungi para turis. Banyak para wisatawan mengeluh dengan dokumentasi yang hanya foto biasa.

“Awalnya turis Singapura nanya, ‘di sini ada drone gak?’ Lama-lama Malaysia, travel-travel bawa bule. Ada yang punya drone sendiri. Aku mikir, kenapa kita gak bikin aja?," katanya pada IDN Times.

Tahun 2025, Water Man Studio lahir. Modal awal yang dimilikinya hanya 2 unit drone seadanya, ia bersama satu teman yang juga eks perantauan.

1. Bisnis sekaligus sekolah untuk anak desa

Rico G Nadeak, pemuda asli Hariara Pohan membuka jasa dokumentasi drone di Bukit Holbung (IDN Times/Indah Permata Sari)

Dalam benaknya, ia tak mau berjalan sendiri. Dia kemudian merekrut dan melatih anak-anak muda Hariara Pohan untuk bisa menggunakan drone atau menjadi pilot drone.

"Kita ajak anak SMA di sini. Kita kasih tau, karena ini daerah wisata. Mau kuliah silakan, gak kuliah pun kalian udah punya skill," jelasnya.

Dari studio yang didirikannya, Water Man Studio sekarang memiliki Pilot drone 3 orang termasuk Rico, Admin 1 orang, dan Editor 1 orang. Untuk partner ia mengakui banyak, terutama anak sekolah dan pemuda lokal.

Rico juga menjelaskan tujuannya mendirikan studio ini adalah agar anak muda tidak harus merantau. “Kita manfaatin potensi kampung sendiri. Sekaligus ikut promosiin Bukit Holbung lewat video,” ujar Rico.

Dari data tamu Water Man Studio menunjukan kekuatan pasar wisata Danau Toba sekarang saat ini, dia menyebutkan ada 70 persen wisatawan manca negara yang berasal dari Malaysia, kemudian 10 persen dari negara lain seperti Thailand dan Singapura, serta 20 hingga 25 persen dari wisatawan lokal.

“Semua pelaku usaha di Bukit Holbung 70% bisa berkembang karena tamu Malaysia,” kata Rico. Tim-nya sampai belajar logat Melayu biar komunikasi lancar.

2. Suka duka menjadi pilot drone dari joget India sampai bujuk anak-anak nangis

Salah satu tempat wisata menikmati Danau Toba dari Bukit Holbung (IDN Times/Indah Permata Sari)

Rico pernah kerja menjadi seorang barista, joki game, sampai di bank. Tapi pilot drone di Bukit Holbung menurutnya paling berkesan. “Seru banget. Tamu beda-beda: Gen Z, Gen Alpha, bule, ibu-ibu. Kadang ketawa bareng, kadang ada kesalnya juga,” cerita Rico.

Baginya, pekerjaan tidak selalu mulus. Dia merasa ada tantangan unik selama menjadi pilot drone di Bukit Holbung. Yakni request aneh seperti ada yang minta direkam sambil joget India.

Selanjutnya, ada drama dengan anak klien yang menangis, sehingga ia ikut berperan untuk membujuk dahulu baru syuting. Selain itu ujian lainnya saat ada yang komplain. "Namanya kerja sama orang, kadang ada yang marah," tutur Rico.

Namun, hal itulah yang membuat Rico bertahan. “Kerjaan ini ngajarin bahasa, sabar, baca mood orang. Gak ngebosenin," baginya.

3. Water Man Studio turut berperan mempromosikan wisata lewat udara

Salah satu tempat wisata menikmati Danau Toba dari Bukit Holbung (IDN Times/Indah Permata Sari)

Menurutnya, nama “Water Man” diambil karena identik sama Danau Toba. Visi Rico simpel yakni pelayanan dan keberlanjutan. “Kalau wisatawan puas sama video kita, mereka share. Orang lain jadi tau Bukit Holbung," ungkapnya.

Ke depan, Rico berencana Water Man Studio jadi tempat anak Hariara Pohan belajar keterampilan digital. “Drone pintu masuknya. Nanti bisa ke editing, foto, marketing wisata," tuturnya kembali.

Dari mapping Jakarta ke motret turis Malaysia. Rico G Nadeak membuktikan kalau keterampilan dari kota dengan adanya potensi desa sama dengan peluang. Sekarang Bukit Holbung gak cuma indah dilihat mata, tapi juga keren dari udara, berkat anak muda yang pilih pulang.

Untuk operasional dibuka setiap hari Senin–Minggu, mulai pukul 07.00 hingga 18.00 WIB. Bisa lebih pagi buat sunrise, lebih sore buat sunset sesuai request. Paket harga detailnya mulai dari Rp300.000 untuk satu lokasi dan video pendek Rp1.500.000 dengan multi lokasi, mendapatkan video sinematik. Harga ini tergantung jenis drone dan jumlah footage

Trafik klien, untuk hari biasa bisa 3 hingga 10 tamu, hari akhir pekan mencapai 10 sampai 20 tamu, dan bisa lebih jika hari libur.

Editorial Team