Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sumut Prioritaskan Kawasan Unggulan Perikanan Pantai Barat-Timur
ilustrasi perikanan (unsplash.com/@ph_an_tom)
  • Pemprov Sumut menyiapkan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya dengan pola pengembangan dari hulu hingga hilir.
  • Pantai Barat dan Pantai Timur diprioritaskan pada 2026 berdasarkan potensi serta produksi perikanan daerah.
  • Kepulauan Nias direncanakan masuk pengembangan 2027, sementara budidaya udang vaname dan rumput laut juga diperhatikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2025

Total produksi perikanan Sumut tercatat mencapai 382.127,77 ton. Kampung Nelayan Merah Putih telah dibangun di empat wilayah.

2026

Pantai Barat dan Pantai Timur diprioritaskan untuk pengembangan perikanan tangkap. Target produksi perikanan Sumut ditetapkan sebesar 383.036,91 ton.

triwulan II 2026

Realisasi produksi perikanan Sumut mencapai 200.931,45 ton atau sekitar 52,46 persen dari target tahunan.

Jumat (18/9/2026)

Jenny Masniari Sinaga menyatakan data produksi ikan menjadi dasar penentuan lokasi kawasan unggulan.

2027

Kepulauan Nias direncanakan masuk tahap pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pemprov Sumut menyiapkan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya dari hulu hingga hilir.
  • Who?
    Pemprov Sumut, DKP Sumut, USU, Jenny Masniari Sinaga, dan Muhammad Riza Kurnia Lubis.
  • Where?
    Pantai Barat, Pantai Timur, Kepulauan Nias, serta sejumlah daerah di Sumatera Utara.
  • When?
    Pantai Barat dan Pantai Timur diprioritaskan pada 2026, sedangkan Kepulauan Nias direncanakan masuk pada 2027.
  • Why?
    Penentuan kawasan mengacu pada potensi dan produksi perikanan di masing-masing daerah.
  • How?
    Pengembangan dilakukan dengan bantuan alat tangkap, hilirisasi hingga pengolahan, serta pengembangan budidaya dan kawasan pengolahan ikan asin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aku tahu Pemprov Sumut sedang menyiapkan tempat khusus untuk perikanan. Pada 2026, Pantai Barat dan Pantai Timur jadi yang didahulukan. Nias akan masuk pada 2027. DKP Sumut dan USU membuat rencana ini. Mereka juga memperhatikan udang vaname, rumput laut, dan pengolahan ikan asin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pola pengembangan dari hulu hingga hilir membuka ruang agar potensi perikanan di berbagai daerah Sumut tidak hanya dicatat sebagai produksi. Penyiapan bantuan alat tangkap, hilirisasi, pengolahan ikan asin, serta perhatian pada udang vaname dan rumput laut menunjukkan cakupan pengembangan yang mencakup tangkap, budidaya, dan pengolahan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

MEDAN, IDN Times – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) menyiapkan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya dengan pola pengembangan dari hulu hingga hilir. Pada 2026, pengembangan perikanan tangkap diprioritaskan di kawasan Pantai Barat dan Pantai Timur, sedangkan Kepulauan Nias direncanakan masuk tahap pengembangan pada 2027.

Program tersebut disusun Pemprov Sumut melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) bersama Universitas Sumatera Utara (USU). Penentuan kawasan mengacu pada potensi dan produksi perikanan di masing-masing daerah.

1. Produksi perikanan Sumut capai 382 ribu ton

Ilustrasi perikanan (pexels.com/Mitchell Soeharsono)

Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Sumut Jenny Masniari Sinaga mengatakan data produksi menjadi salah satu dasar dalam menentukan lokasi kawasan unggulan. Pada 2025, total produksi perikanan Sumut tercatat mencapai 382.127,77 ton.

Sementara target produksi perikanan Sumut pada 2026 ditetapkan sebesar 383.036,91 ton. Hingga triwulan II 2026, realisasi produksi telah mencapai 200.931,45 ton atau sekitar 52,46 persen dari target tahunan.

Sejumlah daerah disebut memiliki produksi perikanan tinggi pada 2025, di antaranya Tapanuli Tengah, Batubara, Asahan, dan Tanjungbalai. Data tersebut kemudian digunakan pemerintah daerah sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan kawasan pengembangan.

“Data produksi ikan inilah yang menjadi dasar kami untuk memilih penentuan lokasi sebagai kawasan unggulan yang konsepnya dibangun dari hulu ke hilir, dimana nelayan kita berikan alat tangkap dan bantuan lain yang dibutuhkan dan nanti dibantu hilirisasinya hingga pengolahan,” terang Jenny dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026).

2. Pantai Barat dan Timur Jadi Prioritas 2026

Ilustrasi nelayan. (Dok: Konservasi Indonesia)

Untuk wilayah perairan yang masuk WPPNRI 572, pengembangan mencakup Kepulauan Nias serta sejumlah daerah di Pantai Barat, seperti Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Mandailing Natal. Komoditas yang disebut potensial antara lain cakalang, tongkol, tenggiri, tuna sirip kuning, kembung, layang, selar kuning, tembang, kuwe, dan bawal.

Sementara kawasan Pantai Timur mencakup Langkat, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Tanjungbalai, Asahan, Labuhanbatu, dan Labuhanbatu Utara. Potensi komoditasnya antara lain kembung, tembang, kerang darah, tetengkek, senangin, cumi-cumi, tenggiri, udang jerbung, dan layang benggol.

Dalam nomenklatur Kementerian Kelautan dan Perikanan, WPPNRI 571 mencakup perairan Selat Malaka dan Laut Andaman, sedangkan WPPNRI 572 mencakup Samudra Hindia sebelah barat Sumatra dan Selat Sunda.

Jenny mengatakan pengembangan kawasan tidak diarahkan hanya untuk meningkatkan produksi. Pemerintah juga menargetkan peningkatan kesejahteraan nelayan, penguatan rantai usaha, serta keberlanjutan sumber daya laut.

Salah satu bentuk hilirisasi yang disiapkan adalah pengembangan kawasan pengolahan ikan asin di Sibolga, Asahan, Batubara, dan Tanjungbalai.

“Kita harapkan potensi ikan yang berlebih di daerah ini bisa diolah menjadi ikan asin,” kata Jenny.

3. Nias masuk pengembangan 2027, budidaya udang dan rumput laut disiapkan

ilustrasi nelayan (pexels.com/Clive Kim)

Setelah memprioritaskan Pantai Barat dan Pantai Timur pada 2026, Pemprov Sumut merencanakan pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap di Kepulauan Nias pada 2027. Wilayah yang disebut meliputi Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, dan Kota Gunungsitoli.

Pengembangan tersebut juga berjalan beriringan dengan program Kampung Nelayan Merah Putih. Berdasarkan keterangan DKP Sumut, program tersebut telah dibangun di empat wilayah pada 2025, sementara pada 2026 direncanakan mencakup kawasan di Pantai Timur dan Pantai Barat.

Pada sektor budidaya, DKP Sumut menyebut udang vaname sebagai salah satu komoditas unggulan yang masih memiliki pasar ekspor. Pemerintah provinsi juga memberikan perhatian pada rumput laut yang dinilai memiliki peluang pasar ekspor.

Kepala Bidang Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Sumut Muhammad Riza Kurnia Lubis mengatakan pengembangan budidaya tersebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah terhadap komoditas kelautan yang memiliki nilai ekonomi.

“Ada juga beberapa komoditas lain yang menjadi konsern Sumut seperti tahun ini kita prioritaskan rumput laut juga diminati pasar ekspor,” kata Riza.

Editorial Team

Related Article