Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sejarah Harian Medan Pos, Lahir Pasca G30S/PKI Dulu Bernama Sinar Revolusi

Sejarah Harian Medan Pos, Lahir Pasca G30S/PKI Dulu Bernama Sinar Revolusi
Kantor Harian Umum Medan Pos di Jalan Perdana Medan (Dok. Google Street 360)
Intinya Sih
  • Harian Medan Pos berdiri pada 9 Mei 1966 dengan nama awal Sinar Revolusi, didirikan oleh Ibrahim Sinik di tengah situasi politik pasca G30S/PKI.
  • Nama koran ini beberapa kali berubah hingga resmi menjadi Medan Pos pada 1990, dan sejak 2020 hadir pula dalam versi daring bernama Medan Pos Online.
  • Dalam sejarahnya, tiga wartawan Medan Pos tewas akibat aktivitas jurnalistik yang mengungkap kasus kriminal serta dugaan korupsi aparat negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tanggal 9 Mei 2026 salah satu media legendaris di Kota Medan merayakan Hari Ulang Tahun ke-60 Tahun. Yaitu Harian Umum Medan Pos. Media ini dipimpin oleh Farianda Putra Sinik.

Puluhan papan bunga memadati trotoar Jalan Perdana hingga ke depan kantor Harian Medan Pos hingga hari ini. Selain koran, kini juga eksis di platform online dan media sosial, Medan Pos terus tegak berdiri menantang perubahan zaman.

Selama 60 tahun Medan Pos telah melalui berbagai tantangan zaman. Termasuk merasakan akhir masa rezim orde lama, orde baru, hingga kini ke orde reformasi.

Sepanjang sejarah penerbitannya, setidaknya 3 orang wartawan koran ini menjadi korban pembunuhan, diduga karena aktivitas jurnalistiknya. Ketiga jurnalis tersebut sama-sama memberitakan kasus kriminal dan korupsi aparat negara.

Bagi Gen Z dan Gen Alpa tentu nama Media Medan Pos tidak begitu ramah di telinga. Berikut IDN Times merangkum sejarah Harian Umum Medan Pos, media legendaris dan salah satu yang tertua di Sumatera Utara.

1. Dulu bernama Sinar Revolusi, lahir di tengah huru-hara politik pasca G30S/PKI

Medan  Pos 2.png
Kantor Harian Umum Medan Pos di Jalan Perdana Medan (Dok. Google Map)

Koran Medan Pos lahir di tengah huru-hara politik pasca G30S/PKI. Pendirinya Ibrahim Sinik, wartawan yang sudah sepuluh tahun menggawangi sejumlah koran lokal.

Sejak April 1965, saat presiden Soekarno masih memimpin, Sinik mengikat kontrak dengan Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia Sumatera Utara untuk menerbitkan harian Tjahaya, koran propaganda lawan politik Partai Komunis Indonesia tersebut.

Pada 9 Mei 1966, Sinik resmi menerbitkan koran sendiri, Sinar Revolusi. Untuk merintis koran ini, ia dibantu istri dan saudara-saudaranya, lewat Jajasan Penerbitan Berdikari.

Dalam beberapa tahun saja, tiras koran ini mencapai 5.000 eksemplar.

2. Sejak 21 Januari 2020, koran ini dapat dibaca secara daring lewat Medan Pos Online

Medan POS.png
Kantor Harian Umum Medan Pos di Jalan Perdana Medan (Dok. Google Map)

Seiring bergulirnya Orde Baru, nama Sinar Revolusi dianggap tidak lagi sesuai. Pada 1968, atas saran Panglima Kodam II/Bukit Barisan Leo Lopulisa namanya diganti jadi Sinar Pembangunan. Namun, nama tersebut baru resmi dipakai 3 tahun kemudian, setelah Departemen Penerangan menyetujui surat izin terbit bertanggal 2 April 1971.

Saat bernama Sinar Pembangunan inilah ia mencapai masa keemasan, antara 1980–1984, dengan oplah disebut mencapai 40–50 ribu eksemplar. Pada masa sama, koran ini juga kian mengukuhkan gaya pemberitaannya yang sensasional, serta banyak mewartakan berita kriminal dan cabul.

Sejak 20 Agustus 1990, koran ini resmi bernama Medan Pos, disebut terinspirasi dari nama The Washington Post yang Sinik baca saat meliput pengangkatan presiden Ronald Reagan. Sinik sendiri terus memimpin koran ini hingga kematiannya pada 2015.

Menurut survei Nielsen, pada 2022 jumlah pembaca koran ini berada dalam kisaran 50.000 orang. Sejak 21 Januari 2020, koran ini juga dapat dibaca secara daring lewat Medan Pos Online

3. Tiga wartawan menjadi korban pembunuhan

Medan Pos 3.png
Kantor Harian Umum Medan Pos di Jalan Perdana Medan (Dok. Google Street 360)

Sepanjang sejarah penerbitannya, setidaknya 3 orang wartawan koran ini menjadi korban pembunuhan, diduga karena aktivitas jurnalistiknya. Ketiga jurnalis tersebut sama-sama memberitakan kasus kriminal dan korupsi aparat negara:

  • Hasiangan Simanjuntak (1974)
    Hasiangan tewas dalam kecelakaan sepeda motor di Pematang Siantar, setelah memberitakan penyelewengan BRI unit desa di Simalungun. Kematiannya diusut sebagai pembunuhan, 3 orang terduga pelaku ibawa ke pengadilan tetapi diputus bebas karena minim bukti.
  • Irham Nasution (1981)
    Irham (38) tewas setelah disiram cuka api oleh 3 orang tidak dikenal yang mencegatnya saat bersepeda motor dari Rantau Prapat ke Janji pada 1 September 1981 malam. Pembunuhan ini terjadi tak lama setelah liputannya tentang kasus penyelundupan barang dari Malaysia yang diduga melibatkan anggota Koramil setempat. Anggota militer tersebut, Koptu Kasmanino, dan istrinya sempat ditahan.
  • Supriadi (1999)
    Supriadi diculik oleh 2 orang tidak dikenal dari rumahnya di Banda Aceh pada 3 Agustus 1999 dan selang 2 hari ditemukan tewas di Buket Hagu dengan luka tembak di dada serta bekas sayatan di leher. Ia diketahui belum lama memberitakan dugaan korupsi proyek pertanian.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Arifin Al Alamudi
EditorArifin Al Alamudi
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More