Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perjalanan Midian Sirait hingga Diusulkan jadi Pahlawan Nasional

Perjalanan Midian Sirait hingga Diusulkan jadi Pahlawan Nasional
Midian Sirait (dok.istimewa)

Medan, IDN Times - Mungkin ada banyak masyarakat di Indonesia yang memiliki jiwa spartan dan nasionalis namun tidak menyandang predikat sebagai "pahlawan". Seperti mendiang Midian Sirait contohnya. Pria yang dulu merupakan seorang pakar farmasi sekaligus pejuang konservasi Danau Toba ini dianggap layak menjadi pahlawan nasional oleh sejumlah pihak, salah satunya oleh kampus ternama di Sumatra Utara yakni Unimed.

Melalui pimpinan dan guru besar sejarah, Unimed serius mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat untuk menjadikan Midian Sirait sebagai pahlawan nasional. Ada banyak pertimbangan-pertimbangan elementer yang dikedepankan Unimed, salah satunya ialah sepak terjang Midian di kancah politik dan farmasi. Lalu, siapakah sosok Midian Sirait itu? Berikut ulasannya.

 

1. Jejak perjuangan Midian dimulai dari organisasi tentara pelajar

Midian Sirait (dok.istimewa)
Midian Sirait (dok.istimewa)

Berdasarkan keterangan yang dihimpun oleh guru besar sejarah Unimed, Prof. Dr. Phil Ichwan Azhari lewat seminar nasional, Midian Sirait ialah sosok yang memiliki peran dalam perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka dan keluar dari penjajahan Belanda dan Jepang. Tidak sampai di situ, ia memiliki peran besar di dunia farmasi dan semangatnya mengilhami gerakan politik di masanya.

"Midian Sirait merupakan sosok pejuang kemerdekaan yang berasal dari Desa Lumban Sirait Gu, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Ia lahir dari orang tua seorang petani dan pedagang. Di tengah kondisi zaman serba terbatas, tak membuat Midian Sirait patah arang mengarungi kehidupan. Cita-cita yang ditanamkan pada dirinya dari seorang sang ayah untuk mencapai pendidikan setinggi-tingginya adalah modal paling utama," terang Ichwan.

Saat masa bersekolah, Midian kecil terbawa dalam berbagai peristiwa penting di Porsea. Termasuk pada akhir masa kolonialisme dan memasuki masa kependudukan Jepang di Porsea, Midian menyaksikan berbagai peristiwa penting yang terjadi di sana. Di masa transisi itu, benih-benih perjuangan dalam diri Midian timbul dan turut ambil bagian di medan pertempuran.

Pada akhir September 1945 pemerintahan Republik Indonesia mulai menjalankan sistem pemerintahan. Pada bulan Februari 1946, guna memenuhi seruan pemerintah dari Jawa, di Tapanuli, Porsea, dan Balige dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berganti nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Midian Sirait serta para pelajar lainnya ikut berpartisipasi dalam lembaga ini.

Berdasarkan catatan sejarah, Midian merupakan ketua IPI sekawasan Danau Toba. IPI adalah wadah dari setiap sekolah yang mendirikan kompi tentara pelajar. Sebagai Ketua IPI, Midian kemudian menjadi Kepala Staf Tentara Pelajar Batalion Arjuna yang membawahi kompi-kompi tentara pelajar dari sekolah-sekolah yang berbeda.

Pada 21 Juli 1947 Belanda melancarkan perang agresi yang pertama. Kedatangan tentara militer Belanda hendak menduduki daerah-daerah perkebunan yang memiliki nilai penting dalam perdagangan ekspor. Midian Sirait sebagai kepala staf tentara pelajar ambil bagian dalam periode kedatangan tentara Belanda dengan mengamankan objek strategis dan jantung perekonomian masyarakat.

"Gubernur Militer adalah posisi yang banyak diinginkan di kalangan pimpinan kesatuan-kesatuan pejuang pada masa itu. Akan tetapi, Midian Sirait tetap menginginkan Gubernur Militer tetap berada pada utusan pemerintah pusat. Midian Sirait adalah satu di antara tokoh pejuang yang mempertahankan posisi Gubernur Militer Tapanuli tetap berada pada dr Ferdinand L. Tobing. Bagi Midian Sirait tidak tempat dalam keadaan menghadapi musuh yang mengancam kemerdekaan, justru terjadi gusur-menggusur satu sama lain," lanjut Ichwan.

 

 

 

 

 

 

2. Midian dapat julukan "doktor perombakan struktur politik" oleh aktivis angkatan 66

Midian Sirait (dok.istimewa)
Midian Sirait (dok.istimewa)

Pemikiran Midian semakin berkembang saat ia berangkat dan mengenyam pendidikan di Jerman dan berhasil menyelesaikan studi dengan baik di sana. Sepulangnya dari Jerman, Midian menetap di Bandung. Ia menjadi seorang dosen di kampus ITB.

Atas dorongan tokoh-tokoh mahasiswa pada saat itu, Midian Sirait terpilih sebagai Wakil Rektor III ITB yang mengurus urusan kemahasiswaan (1965-1969). Ketika duduk di kursi Wakil Rekor III, Midian banyak berhadapan dengan para mahasiswa di tengah kondisi berbagai peristiwa yang terjadi pada 1965-1967.

"Langkah-langkah yang dilakukan Midian Sirait antara lain melalui instruksi Menteri PTIP membersihkan perguruan tinggi dari oknum-oknum yang berafiliasi dengan PKI. Midian Sirait membekukan seluruh organisasi-organisasi yang memiliki afiliasi dengan PKI," lanjut Ichwan.

Sebelum Pj Presiden Soeharto ditetapkan sebagai Presiden ke-2 secara konstitusional, Midian Sirait masih sebagai Wakil Rektor III ITB hingga 1969, dan peranannya di luar kampus memimpin suatu simposium yang disebut “Simposium Pembaharuan”. Hal tersebut kerap dipersepsikan oleh Midian Sirait sebagai “Simposium Perombakan Struktur Politik”.

"Melalui simposium itu kelak Midian Sirait mendapat gelar 'doktor perombakan struktur politik'. Angkatan aktivis 66 memberikan gelar doktor itu sebenarnya bukan sebagai gelar akademik melainkan gelar ‘sebutan’ atas gerakan kritis dan pembaruan yang diprakarsai Midian pada medio 1968," lanjutnya.

 

 

 

 

 

3. Jejak Midian malang melintang di dunia farmasi

Midian diusulkan Unimed jadi Pahlawan Nasional (dok.Humas Unimed)
Midian diusulkan Unimed jadi Pahlawan Nasional (dok.Humas Unimed)

Berdasarkan latar belakang pendidikan sebagai Sarjanawan Apoteker dan Doktor Farmasi, Midian menerima tawaran untuk mengurus POM. Akhirnya ia pun diangkat menjadi Dirjen POM.

Sewaktu menjabat, banyak kebijakan yang diterapkan Midian Sirait. Dalam penyediaan obat misalnya, ia menuliskan tentang cara mengembangkan kebijaksanaan nasional dengan strategi menyediakan obat yang bermutu dan dapat dinikmati oleh rakyat berpenghasilan rendah.

Obat ini melalui unit-unit pelayanan kesehatan pemerintah yang berasal dari bantuan pemerintah dan pengadaan obat di sektor swasta yang mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi yang disediakan oleh industri swasta nasional maupun trans-nasional dengan mutu sesuai persyaratan WHO. Pengadaan obat seperti ini sekaligus menjadi pasar industri swasta farmasi dan menjamin pasar obat.

Lebih lanjut, Midian juga memiliki kebijakan sebagai benteng perlindungan pabrik obat berdasarkan data yang dihimpun dari Tempo. Bermula dari jamu, yakni merupakan minuman tradisional Indonesia yang terbuat dari ramuan herbal dan rempah-rempah, memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari budaya dan pengobatan masyarakat. Jamu dipercaya memiliki berbagai manfaat, termasuk meningkatkan kebugaran, menyembuhkan penyakit, dan menjaga kecantikan.

"Inisiasi Midian Sirait semakin berkembang melalui kerja sama dengan para pengusaha farmasi yang berkontribusi mengembangkan pendidikan melalui Yayasan TP Arjuna. Kerja sama yang dibangun Midian Sirait dengan pengusaha farmasi akhirnya dapat merehabilitasi gedung-gedung dan kemudian menambah gedung induk dan satu gedung museum," kata Ichwan.

 

 

 

 

4. Memasuki usia tua, Midian aktif sebagai seorang pegiat lingkungan dengan membentuk organisasi yang peduli Danau Toba

Pemandangan Danau Toba (IDN Times/Eko Agus Herianto)
Pemandangan Danau Toba (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Memasuki purnabakti sebagai Guru Besar ITB pada 1993, Midian semakin mendorong dirinya memikirkan situasi dan kondisi lingkungan kawasan Danau Toba yang semakin memprihatinkan pada masa itu. Melewati berbagai aktivitas, ia terpanggil membangun bona pasogit, kampung halaman.

"Kondisi danau di sekitar tahun 1990-an berubah signifikan. Perubahan dan kondisi itu terjadi karena banyak faktor. Pertama, masyarakat di sekitar kawasan Danau Toba memunggungi nilai-nilai danau itu sebagai ciptaan Tuhan. Kedua, adanya oknum memanfaatkan hutan di sekitar kawasan Danau Toba sebagai sumber penghasilan dengan mendirikan perusahaan produksi kertas," terang Ichwan.

Midian melakukan gerakan dengan melibatkan masyarakat sekitar, memanggil tokoh-tokoh nasional yang berasal dari kebudayaan masyarakat di sekitar kawasan Danau Toba itu sendiri seperti akademisi dan pemerhati lingkungan. Dalam hal ini ia merupakan aktor gerakan pelestarian lingkungan yang dibentuk dalam Perhimpunan Pencinta Danau Toba.

Melalui Yayasan ini Midian meninggalkan suatu warisan yang berdampak luas bagi masyarakat. Yakni membangun bona pasogit (kampung halaman) tanah leluhur tempat ia lahir hingga tumbuh remaja, menjadi ladang pengabdian Midian Sirait mewujudkan cita-cita hidup panggilan iman dalam dirinya.

"Apa yang dilakukan Midian Sirait melalui Yayasan PPDT sebagai bentuk keterpanggilan batin. Ia melakukan kajian mendalam padahal Midian sendiri bukan orang ahli di bidang lingkungan hidup tetapi ia melibatkan diri dengan melakukan tindakan nyata atas perubahan yang terjadi di sekitar kawasan Danau Toba," pungkasnya.

 

 

 

 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Eko Agus Herianto
Doni Hermawan
Eko Agus Herianto
EditorEko Agus Herianto
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

Viral Harga Cabai Anjlok di Samosir? Ini Fakta yang Terjadi

05 Apr 2026, 19:00 WIBNews