Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PALMEX Medan 2026 Kenalkan AI dan Teknologi Terbaru Industri Sawit
Pameran Teknologi Kelapa Sawit PALMEX Medan 2026 berlangsung 6–8 Oktober 2026 di Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention, Medan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
  • PALMEX Medan 2026 berlangsung 6–8 Oktober di Medan, diikuti lebih dari 250 peserta dan sekitar 300 merek teknologi, termasuk AI, otomasi, serta sistem pengoperasian jarak jauh.

  • Pameran ini menyoroti kebutuhan peningkatan produktivitas sawit karena permintaan domestik dan ekspor meningkat, sementara pertumbuhan produksi Sumatra Utara diperkirakan hanya sekitar 2 persen.

  • PALMEX diharapkan mendorong hilirisasi, keberlanjutan, akses pasar, investasi, dan transaksi konkret agar Sumatra Utara menghasilkan lebih banyak produk sawit bernilai tambah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Medan, IDN Times - Pameran teknologi kelapa sawit PALMEX 2026 kembali hadir di Kota Medan. PALMEX Medan 2026 edisi ke-16 ini berlangsung pada 6–8 Oktober 2026 di Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention, Medan.

Tahun ini PALMEX Medan mengusung tema “Medan: Pusat Kelapa Sawit Indonesia – Mentransformasi Perkebunan, Pabrik Kelapa Sawit, dan Kilang Pengolahan”. Diikuti lebih dari 250 peserta pameran dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Jerman, India, Korea, Tiongkok, serta sejumlah negara lainnya.

Pameran ini menjadi momentum penting memperkuat posisi Sumatra Utara sebagai salah satu pusat industri sawit nasional. Ajang ini tidak hanya mempertemukan pelaku usaha, tetapi juga membuka peluang mempercepat produktivitas, hilirisasi, adopsi teknologi hingga perluasan pasar.

Group CEO Fireworks Trade Media, Kenny Yong, mengatakan PALMEX Medan 2026 membawa perkembangan teknologi yang semakin luas ke dalam industri kelapa sawit.

Pameran tahun ini menghadirkan sekitar 300 merek teknologi dan peralatan, mulai dari automation untuk processing dan packaging, teknologi perkebunan hingga sistem pengoperasian secara remote. Perkembangan kecerdasan buatan atau AI juga mulai diterapkan dalam industri sawit.

Menurutnya, edukasi kepada pelaku usaha, perkebunan, petani, hingga generasi muda menjadi penting agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Ketua Kadin Sumatra Utara, Firsal Dida Mutiara yang membuka acara mengatakan PALMEX memiliki arti penting bagi Sumut. Karena sawit telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah sekaligus kekuatan ekonomi daerah. Lebih dari satu abad lalu, perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Indonesia dibuka di Sumut. Hingga kini, industri tersebut berkembang menjadi ekosistem besar yang melibatkan petani, pekerja perkebunan dan pabrik, sektor logistik, perbankan hingga pelaku usaha kecil dan menengah.

Sumatra Utara juga memiliki rantai industri sawit yang relatif lengkap, mulai dari perkebunan, industri pengolahan, pusat riset hingga pelabuhan ekspor. Kondisi tersebut membuat PALMEX Medan 2026 dinilai menjadi kesempatan untuk menghubungkan seluruh potensi tersebut dalam satu ekosistem bisnis yang lebih kuat.

1. Hampir 13 juta ton produksi sawit Sumut terserap oleh program B50

Pameran Teknologi Kelapa Sawit PALMEX Medan 2026 berlangsung 6–8 Oktober 2026 di Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention, Medan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Firsal mengatakan, salah satu agenda utama yang harus didorong melalui momentum PALMEX Medan 2026 adalah peningkatan produktivitas. Hal ini menjadi semakin penting ketika kebutuhan terhadap sawit terus meningkat, sementara pertumbuhan produksi cenderung terbatas.

Pada semester I 2026, produksi CPO dan PKO nasional disebut sekitar 30 juta ton. Hampir 13 juta ton terserap untuk kebutuhan dalam negeri seperti program B50, sedangkan sekitar 16 juta ton diekspor.

Kebutuhan domestik diperkirakan semakin besar seiring program B50 yang akan menyerap lebih banyak minyak sawit untuk kebutuhan energi. Sementara itu, pertumbuhan produksi sawit Sumatra Utara berdasarkan laporan GAPKI Sumut diperkirakan hanya sekitar 2 persen.

“Permintaannya meningkat, sementara pasokannya bisa kita katakan jalan di tempat. Tanpa lompatan produktivitas, kita akan kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, energi dan ekspor sekaligus,” ujarnya.

Karena itu, PALMEX dinilai dapat menjadi ruang bertemunya pelaku industri dengan teknologi dan inovasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas, terutama di perkebunan rakyat.

Persoalan peremajaan tanaman dan kualitas bibit menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar peningkatan produksi tidak hanya mengandalkan perluasan lahan.

Selain produktivitas, Firsal menilai PALMEX 2026 dapat menjadi momentum memperkuat hilirisasi sawit di Sumatra Utara.

Menurutnya, Sumut sebenarnya memiliki modal besar untuk mengembangkan industri hilir, mulai dari KEK Sei Mangkei, Pelabuhan Kuala Tanjung, Pelabuhan Belawan hingga konektivitas Tol Trans-Sumatra.

2. Harus mampu meningkatkan produksi dan nilai tambah produk sawit

Pameran Teknologi Kelapa Sawit PALMEX Medan 2026 berlangsung 6–8 Oktober 2026 di Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention, Medan (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Namun, hilirisasi dinilai belum sepenuhnya menjangkau kabupaten dan kota penghasil sawit. Akibatnya, nilai tambah dari komoditas tersebut belum maksimal dirasakan masyarakat di desa-desa penghasil.

Karena itu, hilirisasi harus diperluas, termasuk dengan mendorong industri kecil dan menengah untuk masuk ke rantai pengolahan produk turunan sawit.

Firsal menyebut setidaknya ada empat agenda yang harus diperkuat melalui pengembangan industri sawit Sumut, yakni produktivitas, keberlanjutan, hilirisasi dan akses pasar.

Dari sisi keberlanjutan, penerapan ISPO diharapkan tidak sekadar menjadi persyaratan untuk menembus pasar. Sertifikasi tersebut juga diharapkan mampu memperkuat akses pembiayaan dan pengembangan usaha petani.

Tidak kalah penting, PALMEX Medan 2026 diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku industri sawit Sumatra Utara. Firsal menilai ajang tersebut dapat menjadi sarana mempertemukan petani dan pengusaha dengan pembeli, investor maupun mitra usaha dari berbagai daerah dan negara. Ia mencontohkan business matching Sumatra Utara dengan Jawa Timur yang menghasilkan transaksi sekitar Rp2,2 triliun dalam waktu kurang dari delapan jam.

Namun, sekitar Rp2,1 triliun merupakan transaksi pembelian dari Jawa Timur, sedangkan ekspor Sumatra Utara ke Jawa Timur hanya sekitar Rp100 miliar.

“Jangan sampai kondisi seperti ini terjadi di industri kelapa sawit. Kita harus mampu meningkatkan produksi dan nilai tambah agar lebih banyak produk Sumut yang keluar,” katanya.

Bagi Firsal, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa Sumatra Utara tidak cukup hanya menjadi daerah penghasil bahan baku. Industri sawit harus didorong agar menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi dan memiliki pasar yang lebih luas.

3. Berharap nilai transaksi meningkat dari tahun sebelumnya

Group CEO Fireworks Trade Media, Kenny Yong (tengah) dan Ketua Kadin Sumut, Firsal Dida Mutiara (Kiri). (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Firsal berharap PALMEX Medan 2026 tidak berhenti sebagai ajang pameran, tetapi menghasilkan transaksi, investasi dan kerja sama konkret yang memberikan dampak langsung terhadap perekonomian Sumatra Utara.

Pada penyelenggaraan tahun lalu, PALMEX Medan mencatat nilai transaksi hampir US$70 juta atau sekitar Rp1,3 triliun.

Ia berharap transaksi PALMEX tahun ini dapat meningkat sekaligus memperkuat posisi Sumatra Utara sebagai salah satu pusat industri dan perdagangan sawit nasional.

“Sawit telah membesarkan Sumatra Utara lebih dari satu abad. Tugas kita sekarang adalah memastikan sawit tetap menjadi kebanggaan untuk satu abad berikutnya,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article