potret anak dan induk orangutan Tapanuli (Prayugo Utomo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Situasi Orangutan Tapanuli bahkan lebih genting. Survei memperkirakan hanya sekitar 716 individu yang masih berada dalam tiga kelompok di Bentang Alam Batang Toru. Sebagian besar berada di bagian barat, sementara kelompok di bagian timur serta Sitandiang–Sibualbuali jauh lebih kecil.
Dalam populasi sekecil itu, konektivitas habitat menjadi syarat penting. Kelompok orangutan yang terisolasi seperti pulau-pulau kecil berisiko menghadapi masalah genetika dan penurunan kemampuan bertahan. Pertukaran individu antarkelompok diperlukan untuk menjaga aliran gen.
Karena itu, pembangunan di Batang Toru perlu dinilai bukan hanya dari luas lahan yang dibuka. Jalan, jaringan energi, tambang, perkebunan, maupun pembangunan lain bisa memberi dampak lebih besar ketika berada di jalur pergerakan orangutan atau memutus hubungan antarpopulasi.
“Pada bentang tersebut, persoalan utamanya bukan hanya berapa hektare hutan yang hilang, tetapi apakah kegiatan pembangunan menciptakan fragmentasi baru pada habitat kritis,” imbuhnya.
Tantangannya semakin besar setelah bencana pada akhir 2025 yang memicu longsor luas di Batang Toru. Angka sekitar 716 individu berasal dari survei sebelum bencana, sehingga belum dapat digunakan begitu saja sebagai gambaran jumlah orangutan yang masih bertahan setelah bencana.
Karena itu, survei ulang pascabencana pada 2026 disebut perlu menjadi salah satu prioritas, terutama pada blok hutan yang terdampak dan koridor penghubung antarsubpopulasi.
Temuan lain menunjukkan sekitar 18 persen atau lebih dari 2.200 orangutan diperkirakan berada di Hutan Produksi Terbatas, Hutan Produksi, atau areal penggunaan lain yang memiliki tingkat perlindungan habitat lebih rendah. Artinya, perlindungan orangutan tidak dapat hanya mengandalkan kawasan konservasi formal.
“Data mengenai distribusi dan kepadatan orangutan perlu masuk ke dalam tata ruang, evaluasi izin, pengelolaan konsesi, penetapan kawasan bernilai konservasi tinggi, perhutanan sosial, hingga keputusan pembangunan daerah,” pungkasnya.
Bagi Onrizal, keberhasilan konservasi tidak cukup hanya menghitung berapa hektare hutan yang masih berdiri. Tujuannya adalah memastikan populasi tetap hidup, berkembang biak, memiliki habitat yang cukup, dan tetap terhubung dengan kelompok lain.