Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hutan Masih Hijau Belum Tentu Aman untuk Orangutan

Kota Medan
4 min read
Hutan Masih Hijau Belum Tentu Aman untuk Orangutan
Orangutan Sumatra betina berbagi makanan dengan anaknya. (IDN Times/Prayugo Utomo)
  • Survei 2021–2023 memperkirakan populasi Orangutan Sumatra sekitar 11.694 individu dan Orangutan Tapanuli sekitar 716 individu.
  • Turunnya populasi tidak hanya berkaitan dengan hilangnya hutan, tetapi juga konflik manusia-orangutan, akses hutan, dan habitat yang terfragmentasi.
  • Batang Toru memerlukan survei ulang pascabencana 2026 karena angka 716 individu berasal dari survei sebelum longsor luas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

MEDAN, IDN Times – Hutan yang masih terlihat hijau dari udara belum tentu menjadi tempat yang aman bagi orangutan. Habitat dapat tetap berdiri, tetapi terbelah jalan, terjepit perkebunan, kehilangan koridor, atau terus menghadapi konflik dengan manusia.

Survei 2021–2023 memperkirakan populasi Orangutan Sumatra (Pongo abelii) sekitar 11.694 individu, sedangkan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) sekitar 716 individu. Jika dibandingkan dengan baseline pada wilayah geografis yang sama, populasi orangutan sumatra turun dari 13.846 menjadi sekitar 11.146 individu atau sekitar 19,5 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi orangutan tidak cukup dibaca dari luas hutan yang tersisa. Konektivitas habitat, kematian akibat aktivitas manusia, konflik, dan kemampuan populasi untuk bertahan lintas generasi juga menjadi bagian penting dari persoalan konservasi.

  1. 1. Leuser masih jadi benteng, tripa justru makin tertekan

    Dua individu orangutan Sumatra bergelantungan di atas pohon. (IDN Times/Prayugo Utomo)
    Dua individu orangutan Sumatra bergelantungan di atas pohon. (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Bentang Alam Leuser masih menjadi habitat terbesar bagi Orangutan Sumatra. Ribuan individu diperkirakan bertahan di sana, tetapi sejumlah bagian bentang alam tersebut juga mengalami penurunan populasi.

    Analisis pakar kehutanan dari Center for Tropical Biodiversity Conservation, Universitas Sumatera Utara Onrizal menunjukkan, di Leuser Timur populasi orangutan diperkirakan turun lebih dari 20 persen. Sementara di Leuser Barat, penurunannya sekitar 14 persen.

    “Data tersebut menunjukkan mempertahankan luas hutan secara keseluruhan belum otomatis membuat populasi orangutan aman,” ujar Onrizal dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).

    Rawa Tripa menjadi salah satu contoh paling mencolok. Pada wilayah yang dapat dibandingkan, populasinya diperkirakan turun dari sekitar 212 menjadi hanya sekitar 52 individu. Dalam periode yang sama, lebih dari separuh hutan baseline di bentang alam itu telah hilang.

    “Kondisi tersebut membuat upaya penyelamatan Tripa membutuhkan lebih dari sekadar perlindungan hutan yang tersisa. Penghentian konversi baru, pemulihan hidrologi rawa gambut, perlindungan fragmen hutan, penyambungan kembali habitat yang terputus, hingga survei lapangan untuk memastikan jumlah orangutan menjadi kebutuhan penting,” ujar Onrizal.

  2. 2. Hutan masih berdiri, populasi orangutan tetap bisa turun

    -
    Tim SMART Patrol dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dan Yayasan Orangutan Sumatra Lestari (YOSL) melakukan patroli di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). (Dok LCP)

    Ekosistem di Batu Ardan dan Siranggas menunjukkan persoalan lain. Di dua bentang tersebut, penurunan populasi orangutan diperkirakan jauh lebih besar dibanding proporsi kehilangan hutannya.

    Data penelitian menunjukkan sekitar 76 persen variasi perubahan populasi antarmetapopulasi dapat dijelaskan oleh kehilangan hutan. Namun, masih ada bagian persoalan yang tidak bisa dijelaskan hanya dari berkurangnya tutupan hutan.

    “Konflik manusia-orangutan, pembunuhan, perburuan, perdagangan, pembukaan akses ke dalam hutan, dan fragmentasi habitat juga dapat menekan populasi meski tutupan hutan secara statistik belum banyak berubah,” ungkapnya.

    Citra satelit bisa menunjukkan pohon masih berdiri. Namun, citra tersebut tidak dapat menunjukkan apakah orangutan yang hidup di bawah kanopi masih bertahan, diburu, ditembak, atau kehilangan anaknya.

    “Karena itu, pemantauan konservasi perlu melihat lebih banyak indikator selain deforestasi.” Imbuhnya.

    Data mengenai kematian orangutan, lokasi konflik, perdagangan ilegal, serta hubungan antarkelompok kecil perlu diketahui untuk melihat apakah suatu populasi benar-benar memiliki peluang bertahan dalam jangka panjang.

  3. 3. Batang Toru jadi titik kritis bagi 716 orangutan tapanuli

    potret anak dan induk orangutan Tapanuli
    potret anak dan induk orangutan Tapanuli (Prayugo Utomo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Situasi Orangutan Tapanuli bahkan lebih genting. Survei memperkirakan hanya sekitar 716 individu yang masih berada dalam tiga kelompok di Bentang Alam Batang Toru. Sebagian besar berada di bagian barat, sementara kelompok di bagian timur serta Sitandiang–Sibualbuali jauh lebih kecil.

    Dalam populasi sekecil itu, konektivitas habitat menjadi syarat penting. Kelompok orangutan yang terisolasi seperti pulau-pulau kecil berisiko menghadapi masalah genetika dan penurunan kemampuan bertahan. Pertukaran individu antarkelompok diperlukan untuk menjaga aliran gen.

    Karena itu, pembangunan di Batang Toru perlu dinilai bukan hanya dari luas lahan yang dibuka. Jalan, jaringan energi, tambang, perkebunan, maupun pembangunan lain bisa memberi dampak lebih besar ketika berada di jalur pergerakan orangutan atau memutus hubungan antarpopulasi.

    “Pada bentang tersebut, persoalan utamanya bukan hanya berapa hektare hutan yang hilang, tetapi apakah kegiatan pembangunan menciptakan fragmentasi baru pada habitat kritis,” imbuhnya.

    Tantangannya semakin besar setelah bencana pada akhir 2025 yang memicu longsor luas di Batang Toru. Angka sekitar 716 individu berasal dari survei sebelum bencana, sehingga belum dapat digunakan begitu saja sebagai gambaran jumlah orangutan yang masih bertahan setelah bencana.

    Karena itu, survei ulang pascabencana pada 2026 disebut perlu menjadi salah satu prioritas, terutama pada blok hutan yang terdampak dan koridor penghubung antarsubpopulasi.

    Temuan lain menunjukkan sekitar 18 persen atau lebih dari 2.200 orangutan diperkirakan berada di Hutan Produksi Terbatas, Hutan Produksi, atau areal penggunaan lain yang memiliki tingkat perlindungan habitat lebih rendah. Artinya, perlindungan orangutan tidak dapat hanya mengandalkan kawasan konservasi formal.

    “Data mengenai distribusi dan kepadatan orangutan perlu masuk ke dalam tata ruang, evaluasi izin, pengelolaan konsesi, penetapan kawasan bernilai konservasi tinggi, perhutanan sosial, hingga keputusan pembangunan daerah,” pungkasnya.

    Bagi Onrizal, keberhasilan konservasi tidak cukup hanya menghitung berapa hektare hutan yang masih berdiri. Tujuannya adalah memastikan populasi tetap hidup, berkembang biak, memiliki habitat yang cukup, dan tetap terhubung dengan kelompok lain.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More