Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Babak Baru Industri Aluminium, Kejar Target Swasembada dengan Sinergi

Babak Baru Industri Aluminium, Kejar Target Swasembada dengan Sinergi
Pekerja Smelter Peleburan Inalum di Kualatanjung, Batubara di antara tumpukan ingot, Selasa (2/9/2025) (IDN Times/Doni Hermawan)

Medan, IDN Times-Babak baru industri aluminium nasional dimulai. Hal ini ditandai dengan diresmikannya groundbreaking proyek raksasa fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit-alumina-aluminium terintegrasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat pada 6 Februari 2026 lalu. Kolaborasi antar grup MIND ID melahirkan fondasi pembentukan ekosistem aluminium nasional dari hulu hingga hilir. Proyek yang masuk 6 prioritas hilirisasi fase I Danantara Indonesia ini tak sekadar pembangunan smelter, tapi bagian penting dari agenda hilirisasi nasional dengan target swasembada aluminium nasional pada tahun 2030 mendatang.

Program hilirisasi merupakan agenda strategis yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia, sekaligus menjadi salah satu fokus utama Danantara Indonesia dalam mendorong transformasi ekonomi nasional. “Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” ujar CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani saat groundbreaking.

Groundbreaking di Mempawah menjadi simbol pergeseran besar arah kebijakan industri nasional. Dari eksportir bahan mentah menjadi pemain utama dalam rantai nilai global. Melalui integrasi bauksit–alumina–aluminium dalam satu ekosistem, Indonesia tidak lagi hanya menjual bijih, melainkan memproduksi komoditas bernilai tambah tinggi yang menopang industri strategis nasional.

Biaya yang dikucurkan untuk proyek di Mempawah itu memang tak sedikit. Sebanyak Rp104,55 triliun (USD 6,23 miliar). Kolaborasi tiga anggota MIND ID menjadi kunci. PT Antam, PT Inalum dan PT Bukit Asam.

Dalam rantai pasok bauksit-alumina-aluminium, PT Antam memasok dan mengolah bijih bauksit di Mempawah dan Landak dengan kapasitas 6 juta ton. Sementara PT Inalum memerankan dua posisi. Pertama, menjadi pemegang saham mayoritas dalam kepemilikan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) dari PT BAI sebesar 60 persen dengan 40 persen sisanya dimiliki oleh Antam. Lalu kedua, Inalum menjadi pihak pembeli utama dari produk alumina yang diproduksi oleh BAI. Dari segi daya, ada keterlibatan Bukit Asam yang men-support batubara New Power Solution untuk kebutuhan listrik dengan kapasitas 1.250 MW.

Pembangunan dimulai tahun 2025 dengan proyek awalnya SGAR 1 yang dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp16,7 triliun dan saat ini sudah berjalan. Kapasitasnya 1 juta ton per tahun. Dari SGAR 1 ini sudah dilakukan pengiriman pertama dalam bentuk trial shipment sebanyak 21 ribu Metrik Ton (MT) alumina pada 21 April 2025 lalu. Smelter Inalum di Kuala Tanjung, Kabupaten Batubara sudah menerima pengiriman pertama yang menjadi sejarah awal hilirisasi dari bijih bauksit ke alumina.

Kemudian SGAR 2  pada tahun ini mulai dibangun juga dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun dan investasi Rp14,8 triliun. Pasokan alumina akan semakin stabil dengan total kapasitas 2 juta ton. Kehadiran Smelter Aluminium di Mempawah menjadikannya terintegrasi dalam satu lokasi mulai dari pengolahan bauksit, alumina hingga pemurnian aluminium.

PT Inalum sendiri lahir dengan semangat energi terbarukan sejak awal.

Proyek hilirisasi bauksit-alumina-aluminium di Mempawah (dok.Inalum)
Proyek hilirisasi bauksit-alumina-aluminium di Mempawah (dok.Inalum)

Dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun, akan mendongkrak produksi aluminium hingga diprediksi 900 ribu ton per tahun. Selain itu PT Inalum juga tengah membangun proyek Potline 4 (Tungku 4) di Smelter Kuala Tanjung. Semua itu dilakukan sebagai langkah Inalum dalam peningkatan kapasitas produksi.

Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita berharap swasembada aluminium pada tahun 2030 dapat tercapai. Ketergantungan impor alumina dan aluminium jika semakin menurun, akan berdampak pada peningkatan cadangan devisa sekitar 394 persen dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun. Hal ini dikarenakan para pelaku industri manufaktur akan mendapat kepastian pasokan bahan baku dari dalam negeri. Selain itu, fasilitas terpadu ini juga berpotensi menyerap sekitar 65.000 tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, mulai dari tahap konstruksi hingga operasional serta sektor pendukung.

“Hilirisasi bauksit menjadi aluminium merupakan agenda strategis nasional untuk memperkuat kemandirian sektor industri Indonesia. Percepatan pembangunan smelter dan refinery menjadi upaya untuk menekan ketergantungan impor, meningkatkan daya saing, serta membangun rantai pasok aluminium yang terintegrasi dari hulu hingga hilir yang memberikan pertumbuhan ekonomi bagi Indonesia,” ujar Melati.

Strategi hilirisasi aluminium ini berbeda dengan hilirisasi nikel yang sudah lebih dulu dikembangkan. Meskipun keduanya merupakan pilar utama dalam strategi hilirisasi industri Indonesia, pendekatan pada sektor aluminium memiliki karakteristik yang cukup berbeda. Jika nikel sangat didorong oleh ledakan ekosistem kendaraan listrik (EV), aluminium lebih fokus pada substitusi impor dan integrasi energi hijau.

Saat ini, Indonesia masih mengimpor aluminium ingot dalam jumlah besar untuk kebutuhan otomotif, konstruksi, dan kemasan. Dari data PT Inalum, saat ini kebutuhan aluminium domestik mencapai 1,2 juta ton per tahun. Pangsa pasar domestik masih dikuasai Inalum 46 persen. Ada pekerjaan rumah mengejar 54 persen lagi agar Inalum bisa mengurangi ketergantungan impor tersebut.

Untuk itu industri aluminium sering disebut sebagai "bank energi". Karena proses elektrolisis membutuhkan listrik dalam jumlah masif dan stabil, hilirisasi aluminium di Indonesia sangat diarahkan pada penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) agar menghasilkan Green Aluminium yang bernilai tambah tinggi di pasar global.

Menyelami ke belakang, PT Inalum sendiri lahir dengan semangat energi terbarukan sejak awal. Sejak hadir tahun 1976, produksi perusahaan yang baru berusia setengah abad ini bergantung pada aliran air Sungai Asahan dan Danau Toba dengan PLTA Tangga berkapasitas 317 MW dan PLTA Siguragura dengan kapasitas 286 MW. Maka, label aluminium hijau dengan nilai plus di pasar global bukan isapan jempol.

Terkait kesiapan energi, pelarangan ekspor bauksit juga berlaku, namun tantangannya lebih besar pada investasi energi. Membangun smelter aluminium tanpa kepastian sumber energi murah dan bersih hampir mustahil, sehingga progresnya cenderung lebih terukur mengikuti kesiapan infrastruktur listrik.

Ketergantungan impor alumina dan aluminium jika semakin menurun, akan berdampak pada peningkatan cadangan devisa sekitar 394 persen dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun. Hal ini dikarenakan para pelaku industri manufaktur akan mendapat kepastian pasokan bahan baku dari dalam negeri.

Ketergantungan impor alumina dan aluminium juga akan semakin menurun

Proyek hilirisasi Danantara Indonesia diresmikan (dok.Inalum)
Proyek hilirisasi Danantara Indonesia diresmikan (dok.Inalum)

Data dari PT Inalum juga mengungkap saat ini penyerapan aluminium terdiri dari industri ekstrusi sebesar 37 persen, industri kabel (cable maker) sebesar 27 persen, otomotif sebesar 21 persen, serta industri sheet, plate, dan foil sebesar 8 persen, sementara 7 persen lainnya disalurkan ke berbagai sektor industri lainnya.

Dengan inovasi di smelter Kuala Tanjung, pada tahun 2025, Inalum berhasil memproduksi 280.082 Metrik Ton (MT) dengan kapasitas produksi saat ini maksimal mencapai 275.000 MT. Sebelum-sebelumnya mentok di angka 250 ribu MT.

Progres signifikan terbukti dengan penjualan yang meningkat. Inalum memecahkan rekor pencapaian All-Time High Supply Chain & Commercial Management pada 2024 dengan penjualan aluminium tertinggi sebesar 263.195 metric ton (MT). Terakhir penjualan tertinggi pada 2013 sebesar 260.651 MT pada tahun 2013.

Nilai tambah yang dihasilkan dari proses hilirisasi yang integrasi ini berpuluh kali lipat. Dibandingkan ekspor bahan mentah yang selama ini dilakukan. Kenaikan nilai dari bauksit hingga menjadi aluminium sangat signifikan, terutama karena prosesnya yang membutuhkan energi besar dan teknologi tinggi. Secara umum, nilai tambah yang tercipta bisa mencapai 60 hingga 75 kali lipat dari harga bijih mentahnya. Sebagai gambaran, Indonesia mengekspor 6 ton bauksit, dan hanya mendapat sekitar US$ 240-300. Namun jika diolah menjadi 1 ton aluminium di dalam negeri, nilainya menjadi US$ 2.900.

Untuk itu Inalum akan terus meningkatkan daya saing aluminium nasional di pasar global. Fokus pada peningkatan produksi menjadi misi yang terus digeber seiring dengan sinergitas antar anggota MIND ID. Maka, Inalum melakukan berbagai inovasi agar tungku peleburan lebih modern dan efisien dalam menghasilkan produk, sekaligus mencari sumber energi baru terbarukan untuk menjaga status produk hijau. Inalum memastikan setiap produk memiliki sertifikasi agar tetap bisa kompetitif.

Untuk menjaga pasar yang sudah ada, Inalum juga berperan aktif dalam asosiasi Gabungan Pengusaha Aluminium Indonesia (Galunesia). Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Inalum tidak hanya membangun fondasi swasembada aluminium, tetapi juga menegaskan perannya sebagai motor penggerak hilirisasi yang mendorong pertumbuhan industri, membuka lapangan kerja, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok aluminium global.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Doni Hermawan
EditorDoni Hermawan
Follow Us

Latest News Sumatera Utara

See More

Melihat Menu MBG Ramadan di SMA Negeri 2 Medan

23 Feb 2026, 17:03 WIBNews