Potret Kota Medan dari kawasan Jalan Kapten Muslim, Kecamatan Helvetia, diselimuti kabut asap, Rabu (14/10/2026). (Mahdiyyah Ardhina for IDN Times)
Penurunan mutu udara ini sejalan dengan pantauan citra satelit yang menangkap sebaran kabut tebal sejak pukul 08.00 WIB. Kondisi tersebut membuat warga harus menghirup udara bercampur asap sejak pagi.
Dampak dari kabut asap ini langsung terlihat pada merosotnya jarak pandang di area terbuka. Laporan pengamatan dari Stasiun Meteorologi Kualanamu, Stasiun Meteorologi Aek Godang, dan Stasiun Meteorologi Silangit mengonfirmasi hal tersebut. Pada pukul 09.00 WIB, ketiga stasiun mencatat visibilitas menyusut drastis hingga hanya menyisakan jarak pandang antara satu sampai tiga kilometer.
Minimnya jarak pandang ini memicu tingkat kerawanan tinggi bagi pengguna jalan raya. BMKG mengimbau para pengemudi untuk, menjaga jarak antarkendaraan, dan terus menyalakan lampu. Warga yang wilayahnya mulai tersaput asap juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker pelindung.
BMKG Wilayah I Medan mengindikasi sebaran asap di Sumatera Utara tidak sepenuhnya berasal dari kebakaran lahan lokal. Analisis angin permukaan di wilayah Sumatera memperlihatkan adanya pergerakan udara dari arah timur hingga tenggara. Angin ini berembus konsisten menuju wilayah barat laut dan utara melintasi daratan.
Pola pergerakan udara tersebut mengarah pada indikasi bahwa polusi ini adalah asap kiriman lintas wilayah. BMKG memperkirakan kabut asap ini dibawa dari kawasan Sumatera bagian selatan serta wilayah Kalimantan. Pergerakan massa udara memfasilitasi perpindahan partikel sisa pembakaran ini hingga tiba di langit Sumatera Utara.
Meski digempur dugaan asap kiriman, wilayah daratan Sumatera Utara juga memiliki titik api sendiri. Sehari sebelumnya, pada Rabu (14/10/2026), pemantauan satelit BMKG masih menangkap kemunculan tiga titik panas di provinsi ini. Ketiga titik indikasi kebakaran tersebut diklasifikasikan berada dalam tingkat kepercayaan sedang.
Sebaran tiga titik panas lokal ini terdeteksi berada di dua wilayah kabupaten yang berbeda. Satelit melacak keberadaan titik api tersebut di Kabupaten Labuhanbatu dan Kabupaten Tapanuli Selatan.