Asap di Sumut Makin Pekat, Jarak Pandang Sisa 1-3 Kilometer

Kabut asap menyelimuti Sumatera Utara dan membuat kualitas udara berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.
Jarak pandang di sejumlah stasiun meteorologi menyusut menjadi satu hingga tiga kilometer.
BMKG mendeteksi asap kiriman lintas wilayah serta tiga titik panas lokal di Labuhanbatu dan Tapanuli Selatan.
Medan, IDN Times – Sebelum azan Zuhur, menara salah satu mesjid di kawasan Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, sudah menyala. Dari pelantang suara, seseorang memberikan pengumuman.
Bukan pengumuman duka cita atau hari besar keagamaan. Suara dari pelantang berbunyi imbauan.
“Saudara -saudar sekalian, diimabau untuk menggunakan masker ketika berkegiatan di luar ruangan. Karena kondisi asap cukup tebal pada hari ini,” ujar penyampai imbauan, Kamis (15/10/2026).
Sejak pagi, kondisi paparan asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), cukup berbeda dari sebelumnya. Secara kasat mata jamak yang menilai, kondisi asap semakin tebal.
1. Warga mulai menghadapi kendala jarak pandang saat berkendara

Potret Kota Medan dari kawasan Jalan Kapten Muslim, Kecamatan Helvetia, diselimuti kabut asap, Rabu (14/10/2026). (Mahdiyyah Ardhina for IDN Times) Pekatnya asap yang menyelimuti Kota Medan, mulai berdampak pada aktivitas masyarakat. Para pengendara mengeluhkan jarak pandang saat berada di jalan.
“Kalau semalam masih mending. Hari ini pekat sekali asapnya,” ujar Arep, seorang pemotor, warga Medan Tembung.
Arep pun membandingkan antara kondisi di Kota Medan dan yang terjadi di Kalimantan hingga Palembang dan Jambi.
“Kita di sini, baru seperti ini sudah khawatir. Kita gak membayangkan bagaimana saudara – saudara kita di tempat pusat karhutla. Yah, kita cuma berharap, pemerintah bisa gercep lah melakukan penanganan. Mau sampai kapan, kita dalam kondisi seperti ini,” ujar Arep.
2. Deteksi BMKG: kualitas udara memburuk karena paparan asap

Seorang pelajar tingkat Taman Kanak-kanak memakai masker saat hendak berangkat sekolah di tengah paparan asap diduga dari kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Rabu (14/10/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo) Sementara itu, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan mendeteksi sebaran kabut asap menyelimuti daratan Sumatera Utara pada Kamis (15/10/2026).
“Berdasarkan pemantauan kondisi kualitas udara pada tanggal 15 Oktober 2026, kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera Utara berada dalam kategori sedang hingga tidak sehat,” ujar Kepala BBMKG Wilayah I Hendro Nugroho dalam keterangan resminya.
3. Jarak pandang di Sumut merosot, tiga titik panas terpantau

Potret Kota Medan dari kawasan Jalan Kapten Muslim, Kecamatan Helvetia, diselimuti kabut asap, Rabu (14/10/2026). (Mahdiyyah Ardhina for IDN Times) Penurunan mutu udara ini sejalan dengan pantauan citra satelit yang menangkap sebaran kabut tebal sejak pukul 08.00 WIB. Kondisi tersebut membuat warga harus menghirup udara bercampur asap sejak pagi.
Dampak dari kabut asap ini langsung terlihat pada merosotnya jarak pandang di area terbuka. Laporan pengamatan dari Stasiun Meteorologi Kualanamu, Stasiun Meteorologi Aek Godang, dan Stasiun Meteorologi Silangit mengonfirmasi hal tersebut. Pada pukul 09.00 WIB, ketiga stasiun mencatat visibilitas menyusut drastis hingga hanya menyisakan jarak pandang antara satu sampai tiga kilometer.
Minimnya jarak pandang ini memicu tingkat kerawanan tinggi bagi pengguna jalan raya. BMKG mengimbau para pengemudi untuk, menjaga jarak antarkendaraan, dan terus menyalakan lampu. Warga yang wilayahnya mulai tersaput asap juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker pelindung.
BMKG Wilayah I Medan mengindikasi sebaran asap di Sumatera Utara tidak sepenuhnya berasal dari kebakaran lahan lokal. Analisis angin permukaan di wilayah Sumatera memperlihatkan adanya pergerakan udara dari arah timur hingga tenggara. Angin ini berembus konsisten menuju wilayah barat laut dan utara melintasi daratan.
Pola pergerakan udara tersebut mengarah pada indikasi bahwa polusi ini adalah asap kiriman lintas wilayah. BMKG memperkirakan kabut asap ini dibawa dari kawasan Sumatera bagian selatan serta wilayah Kalimantan. Pergerakan massa udara memfasilitasi perpindahan partikel sisa pembakaran ini hingga tiba di langit Sumatera Utara.
Meski digempur dugaan asap kiriman, wilayah daratan Sumatera Utara juga memiliki titik api sendiri. Sehari sebelumnya, pada Rabu (14/10/2026), pemantauan satelit BMKG masih menangkap kemunculan tiga titik panas di provinsi ini. Ketiga titik indikasi kebakaran tersebut diklasifikasikan berada dalam tingkat kepercayaan sedang.
Sebaran tiga titik panas lokal ini terdeteksi berada di dua wilayah kabupaten yang berbeda. Satelit melacak keberadaan titik api tersebut di Kabupaten Labuhanbatu dan Kabupaten Tapanuli Selatan.
















