Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Tari Tradisional Sumut, Filosofi, Gerakan hingga Kostumnya
Anak-anak di Desa Wisata Sigapiton antusias mengikuti pelatihan tor tor. (dok Forlispar)
  • Sumatra Utara dikenal dengan keberagaman etnis yang tinggi, di mana setiap kelompok memiliki tarian tradisional sebagai ekspresi budaya, religi, dan sosial.

  • Tujuh tarian utama seperti Tortor, Serampang Dua Belas, hingga Endeng-Endeng menampilkan filosofi hidup, kostum khas, gerakan simbolik, serta musik tradisional masing-masing etnis.

  • Keempat unsur tari—filosofi, kostum, gerakan, dan musik—menjadi identitas etnis sekaligus sarana pelestarian nilai luhur dan kebinekaan budaya Sumatera Utara.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
kini

Artikel menyoroti tujuh tari tradisional dari berbagai etnis di Sumatera Utara beserta filosofi, kostum, gerakan, dan musiknya. Penulis menegaskan pentingnya pelestarian tari tradisional sebagai upaya menjaga kebinekaan dan kekayaan budaya bangsa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Tujuh tari tradisional dari berbagai etnis di Sumatera Utara diperkenalkan beserta filosofi, kostum, gerakan, dan musiknya sebagai bentuk pelestarian budaya daerah.
  • Who?
    Para seniman dan masyarakat dari etnis Batak Toba, Melayu Deli, Karo, Nias Selatan, Simalungun, Pakpak Dairi, dan Mandailing yang masih melestarikan tarian tradisional masing-masing.
  • Where?
    Kegiatan dan praktik pelestarian berlangsung di wilayah Sumatera Utara, termasuk Medan serta daerah asal tiap etnis seperti Toba, Deli Serdang, Karo, Nias Selatan, Simalungun, Dairi, dan Mandailing Natal.
  • When?
    Informasi mengenai waktu kegiatan atau pergelaran khusus tidak disebutkan secara spesifik; pelestarian berlangsung secara berkelanjutan hingga saat ini.
  • Why?
    Tari-tarian tersebut dianggap penting karena mencerminkan identitas etnis serta menjadi media pewarisan nilai-nilai luhur dan kebinekaan budaya di Sumatera Utara.
  • How?
    Pelestarian dilakukan melalui pertunjukan seni tradisi dengan mempertahankan unsur utama setiap tarian: filosofi adat, kostum khas, pola gerakan simbolik, serta iringan musik tradisional masing-masing etnis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di Sumatera Utara ada banyak suku dan tiap suku punya tarian sendiri. Ada Tari Tortor dari Batak, Serampang Dua Belas dari Melayu, Gundala-Gundala dari Karo, Moyo dari Nias, Haroan Bolon dari Simalungun, Tatak dari Pakpak, dan Endeng-Endeng dari Mandailing. Semua tarinya punya makna, baju khas, musik khas, dan gerakan yang indah untuk jaga budaya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menampilkan kekayaan budaya Sumatera Utara yang luar biasa melalui tujuh tarian tradisional dari berbagai etnis. Setiap tarian memperlihatkan harmoni antara filosofi, kostum, gerakan, dan musik sebagai wujud kearifan lokal yang hidup. Keberagaman tersebut mencerminkan semangat kebinekaan yang terjaga sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa secara utuh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Medan, IDN Times - Sumatra Utara merupakan wilayah dengan pluralitas etnis tertinggi di Pulau Sumatra. Setiap etnis memiliki ekspresi budaya yang khas, salah satunya melalui seni tari. Tari tradisional di Sumatra Utara tidak sekadar seni pertunjukan, melainkan bagian integral dari sistem religi, adat, dan struktur sosial.

Berikut 7 tarian paling representatif dari etnis utama di Sumatra Utara dengan analisis empat aspek, yaitu filosofi, kostum, gerakan, hingga musik.

1. Tortor – Etnis Batak Toba

Anak-anak di Desa Wisata Sigapiton antusias mengikuti pelatihan tor tor. (dok Forlispar)

Filosofi dari tarian Tortor adalah manifestasi fisik dari falsafah Dalihan Na Tolu. Hentakan kaki ke bumi melambangkan hubungan manusia dengan alam. Makna dari Banua Toru adalah gerak tangan ke depan melambangkan hubungan dengan sesama. Banua tonga, dan anggukan kepala ke atas melambangkan hubungan dengan Mulajadi Nabolon, banua ginjang. Pada hakikatnya, Tortor adalah doa yang ditubuhkan.

Untuk kostum, para penari pria mengenakan tutup ulu (ikat kepala), baju teluk belanga hitam, dan ulos Ragidup disampirkan di bahu. Penari wanita memakai kebaya, hoba-hoba (kain penutup kepala), dan ulos Sadum. Seluruh penari tidak memakai alas kaki sebagai bentuk penghormatan kepada tanah.

Gerakan: Terdiri atas tiga gerak pokok:

1. Mangeal: hentakan kaki mengikuti ritme gondang, menjadi jiwa tarian.

2. Manerser: gerakan tangan terbuka dari dada ke depan setinggi bahu, bermakna memohon berkat.

3. Manggeleng: gerakan kepala menunduk dan menengadah sebagai simbol hormat. Pola lantai umumnya melingkar dengan panortor di tengah.

Musik ini diiringi Gondang Sabangunan, ansambel musik ritual yang terdiri atas sembilan instrumen: taganing, gordang, sarune bolon, ogung oloan, doal, hesek, dan lain-lain. Jenis gondang menentukan jenis Tortor, misalnya Gondang Mula-mula untuk pembukaan dan Gondang Sampur Marguling untuk suasana sukacita.

2. Tari Serampang Dua Belas – Etnis Melayu Deli

Tari Serampang XII (warisanbudaya.kemdikbud.go.id)

Tarian ini memiliki filosofi untuk mengajarkan etika percintaan dalam adat Melayu, yaitu beradat, beradab, dan bertahap. Dua belas ragam tarinya merupakan metafora proses yang tidak boleh dilangkahi: perkenalan, pendekatan, jatuh hati, cemburu, hingga komitmen pernikahan. Menegaskan bahwa hubungan harus dijalani dengan sopan dan penuh kiasan.

Untuk kostum penari pria mengenakan Baju Teluk Belanga, celana panjang, kain samping songket, dan tanjak. Penari wanita memakai Baju Kurung Labuh, kain songket, selendang, dan sanggul lipat pandan dengan hiasan cucuk sanggul.

Gerakannya pun dilakukan dengan berpasangan menggunakan gerak kaki cepat menapak dan menyeret sesuai birama 2/4. Tangan memainkan lenggang patah sembilan, yaitu patahan lembut pada pergelangan. Ekspresi wajah genit tetapi tetap menjaga pandangan. Dua belas ragamnya meliputi: Permulaan, Jalan, Pusing, Gila, Sipat, Goncat-goncet, Sebelah Kaki, Langkah Tiga, Melonjak, Berbalik Anak, Anak Ayam Patah, Bersedih & Gembira.

Musik yang dimainkan untuk tarian ini adalah orkes Melayu dengan instrumen akordeon, biola, gendang dua sisi, gong, dan gendang melayu. Lagu pengiring utama berjudul “Serampang Laut” dengan tempo cepat dan riang.

3. Tari Gundala-Gundala – Etnis Karo

ilustrasi Suku Karo (Dok.IDN Times/istimewa)

Filosofi: Berakar dari kepercayaan Pemena, tarian ini merupakan ikhtiar manusia memohon keseimbangan kosmos. Gundala diyakini sebagai roh penjaga desa yang dapat mengusir begu jabu (roh jahat) penyebab wabah dan kemarau. Tarian ini adalah dialog antara dunia manusia dengan dunia gaib.

Kostum: Pusat kostum adalah topeng Gundala setinggi 2 meter, terbuat dari kayu, dengan tanduk, taring, dan mata melotot. Tubuh penari ditutupi ijuk atau cawir hingga menyerupai raksasa. Penari pengiring memakai uis nipes dan membawa obor.

Gerakan: Gerak teatrikal, ekspresif, dan magis. Penari Gundala menghentak, melompat, berputar mengancam ke empat penjuru mata angin. Gerakannya tidak berpola indah, melainkan liar untuk menimbulkan efek gentar.

Musik: Gendang Lima Sedalanen, terdiri atas sarune, gendang singanaki, gendang singindungi, penganak, dan gong. Ritme dimainkan cepat, keras, dan repetitif oleh guru sibaso sambil merapal mantra.

4. Tari Moyo – Etnis Nias Selatan

Ijeck memakai pakaian daerah khas suku Nias (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Filosofi: Moyo berarti elang, hewan yang dianggap paling mulia di Nias. Tarian ini merupakan simbolisasi perempuan bangsawan Nias atau börö zoro (mutiara keluarga). Geraknya yang anggun melambangkan kemuliaan, kehati-hatian, dan kebebasan yang tetap berada dalam koridor adat.

Kostum: Sangat mewah dan sarat emas. Terdiri atas Baru Oholu (baju kebesaran) warna kuning, kalabubu (kalung leher), nifatali (kalung dada), soguna ba sowa (mahkota), dan fondulu (anting besar). Warna emas melambangkan status bangsawan.

Gerakan: Seluruh titik berat ada pada kelenturan jari dan tangan. Tangan diayun naik-turun perlahan menirukan kepak sayap elang. Badan tetap tegak, langkah kaki sangat kecil dan tenang. Ekspresi wajah datar dengan senyum tipis, pandangan mata tidak boleh liar.

Musik: Dominasi Göndra (gong) dan aramba (simbol). Tempo sangat lambat, khidmat, dan berwibawa untuk menjaga kesan agung penari.

5. Tari Haroan Bolon – Etnis Simalungun

Masyarakat Adat Sihaporas di Tano Batak merayakan pekan kebudayaan nasional selama tiga hari di desa Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. (Dok. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)

Filosofi: Merupakan implementasi dari Habonaron Do Bona — kebenaran adalah yang utama. Menyambut tamu dengan tarian, selendang, dan senyum adalah bentuk ketulusan tertinggi. Tamu dianggap sebagai pembawa berkat sehingga harus dimuliakan.

Kostum: Penari wanita memakai Baju Gotong, bulang (hiasan kepala dari emas), dan hiou suri-suri (ulos Simalungun) yang disampirkan. Gonrang sidua-dua diikat di pinggang. Pria memakai gotong dan suri-suri.

Gerakan: Gerak kunci adalah marsuri-suri, yaitu melambaikan hiou membentuk angka delapan yang melambangkan ketidakterputusan silaturahmi. Langkah kaki sopan, badan sedikit membungkuk tanda hormat.

Musik: Gondang Simalungun dengan instrumen sarunei, ogung, mongmongan, sitalasayak. Melodinya khas, riang namun tetap berwibawa.

6. Tari Tatak – Etnis Pakpak Dairi

Suasana Camping di Paropo, Desa Silalahi I, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi (IDN Times/Arifin Al Alamudi)

Filosofi: Menjunjung nilai kemejuan atau kejantanan. Laki-laki Pakpak dituntut tatak (tangkas), berani, dan siap membela kuta (kampung). Tarian ini adalah visualisasi semangat sulang silima dalam mempertahankan harkat dan martabat.

Kostum: Baju merapi-api berwarna hitam, tutup ulu merah, oang-oang (kalung kuningan), dan celana galembong. Penari membawa piso surit (pisau) dan tunggal panaluan (tongkat sakti).

Gerakan: Diadaptasi dari moccak, seni bela diri Pakpak. Gerakannya atletis: menjurus, menangkis, melompat, menendang sambil berteriak “_Horas!_”. Sangat maskulin dan energik.

Musik: Gendang Sisibah dan lobat (serunai). Ritme dimainkan menghentak dan cepat untuk membakar semangat keprajuritan.

7. Tari Endeng-Endeng – Etnis Mandailing

Tari endeng-endeng (YouTube/Rusli Sagala)

Filosofi: Merefleksikan prinsip holong mangalap holong, yaitu kasih sayang harus dibalas dengan kasih sayang. Kebahagiaan bersifat komunal dan wajib dirayakan bersama. Tarian ini menolak sekat sosial, semua lapisan masyarakat dapat bergabung.

Kostum: Tidak ada pakem khusus. Prinsipnya rapi, sopan, dan berwarna cerah. Perempuan memakai bulang dan abit, laki-laki memakai abit dan saluar. Kesan ceria lebih diutamakan daripada kemewahan.

Gerakan: Sederhana dan berulang. Ditarikan membentuk lingkaran besar. Gerakan inti adalah tepuk tangan, petik jari, dan goyang badan ke kiri-kanan mengikuti irama. Interaksi utama ada pada pantun endeng-endeng yang dibalas-berbalas.

Musik: Gordang Sambilan sebagai instrumen utama, didukung sarune, salung, ogung. Lagu Endeng-endeng memiliki syair pantun yang dapat diganti sesuai suasana.

Seperti yang diketahui bahwa, dari 7 tarian tersebut menunjukkan bahwa unsur filosofi, kostum, gerakan, dan musik merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Keempat unsur tersebut berfungsi sebagai penanda identitas etnis sekaligus media transmisi nilai luhur. Pelestarian tari tradisional Sumatera Utara dengan demikian menjadi upaya strategis dalam menjaga kebinekaan dan kekayaan budaya bangsa.

Editorial Team