Usai Demo 4 Hari Berturut-turut, Simbol ACAB 1312 Penuhi Sudut Medan

Medan, IDN Times - Unjuk rasa di DPRD Sumut berlangsung selama 4 hari berturut-turut. Di mana selama 3 hari aksi berakhir chaos. Antara demonstran dengan aparat kepolisian terjadi kontak fisik dan saling serang.
Sabtu (30/8/2025) siang, kondisi di depan DPRD Sumut terpantau lengang. Tidak ada aparat yang berjaga dan tak ada tanda-tanda demo susulan.
1. Simbol ACAB 1312 banyak terdapat di jalanan kota Medan, dinding, dan pagar

Masyarakat Sumut dari berbagai elemen seperti buruh, mahasiswa, pelajar, hingga ojek online silih berganti menyampaikan aspirasi di depan DPRD Sumut sejak tanggal 26 sampai 29 Agustus. Mereka tajam mengkritik anggota DPR yang mendapatkan tunjangan gaji luar biasa mahal. Bagi mereka hal ini sangat kontradiktif dengan masyarakat Indonesia yang belum sejahtera.
Suasana semakin keruh ketika aksi di Jakarta yang menewaskan driver Ojol bernama Affan Kurniawan. Pria berumur 21 tahun itu meninggal dunia dilindas oleh mobil Baracuda milik Brimob.
Insiden Affan memicu kemarahan publik, termasuk masyarakat yang ada di Kota Medan. Jika sebelumnya massa aksi sangat kecewa dengan DPR, setelah insiden Affan mereka murka dengan institusi Polri yang represif menangani gelombang massa.
Pantauan IDN Times, setelah aksi ricuh di DPRD Sumut, simbol ACAB dan kode 1312 memenuhi sudut-sudut Kota Medan. Dari jalan raya, tembok-tembok, jembatan, hingga pagar dicoret massa aksi menggunakan cat semprot.
1312 sendiri merupakan kode numerik yang dibaca berdasarkan urutan abjad. A=1, B=2, C=3 dan seterusnya. Secara afabetik, 1312 dibaca ACAB, sekaligus singkatan dari "All Cops Are Bastards". Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, ACAB bermakna "Semua Polisi Adalah Bajingan". Simbol ini sebagai representasi kemarahan rakyat kepada polisi yang dinilai kurang menjalankan tugasnya dengan baik.
2. Puing-puing bekas terbakarnya pos Polantas telah dibersihkan

Bukan hanya simbol ACAB, coretan-coretan jalanan lain juga meramaikan tiap sudut Kota Medan. Antara lain seperti "dulu ditindas sekarang dilindas", "merdeka bagi penguasa", sampai " polisi pembunuh".
Kemarin, pos polisi lalu lintas di pusat Kota Medan dibakar massa aksi sampai hangus. Hal tersebut merupakan bentuk kemarahan mereka setelah insiden Affan.
Pantauan IDN Times, terkini sudah tidak ada lagi puing-puing bekas kebakaran itu. Petugas kebersihan dengan cepat telah memungutnya sehingga arus lalu lintas di Jalan Balai Kota menjadi normal kembali.
Dalam sesi wawancara dengan Kabid Humas Polda Sumut, Ferry Walintukan, insiden pembakaran pos Polantas itu dibenarkan olehnya. Massa yang mengamuk sebelumnya merusak dan menjungkirbalikkan pos Polantas sebelum dibakar.
"Ya, ada kerusakan yang dibuat massa cair atau anarko. Dan kami akan memperbaikinya," kata Ferry, Jumat (29/8/2025) lalu.
3. DPRD Sumut terpantau lengang, tak ada tanda-tanda aksi susulan dan penjagaan ketat aparat

Kini situasi di DPRD Sumut terpantau lengang. Pengendara juga leluasa melintas. Pantauan IDN Times, sampai dengan siang hari ini tidak ada ditemukannya tanda-tanda aksi susulan.
Aparat kepolisian yang selama 4 hari berturut-turut berjaga di DPRD Sumut, kini sudah tidak tampak lagi. Aktivitas penjagaan juga tidak ramai dan seketat kemarin.
Terkait dengan jatuhnya massa aksi sampai menyebabkan luka-luka dan kejang, Kabid Humas Polda Sumut mengatakan akan mendalaminya. Termasuk jika pelakunya merupakan anggota kepolisian.
"Video yang beredar dari kemarin, kami melakuka pendalaman. Jika kami menemukan yang bersangkutan anggota Polri (pelaku kekerasan) akan kami tindak tegas sesuai dengan hukuman yang berlaku," pungkasnya.