Berlin Sihombing, 44, ketua Kelompok Tani (Gapoktan) Sawit Jaya Lestari Saseba Kelapa Sawit Berkelanjutan Kecamatan Angkola Sangkurnur. (IDN Times/Masdalena Napitupulu)
Dalam empat bulan terakhir, untuk menambah penghasilan selama adanya pandemik COVID-19, Tota menanam padi di lahan pinjaman dan berhasil menghasilkan 10 goni padi.
Hasil panen sawit yang sedikit juga dialami Berlin Sihombing. Ia mengatakan, sudah lama tidak berharap dari hasil sawit karena harganya juga tidak stabil.
Pria yang juga menjabat sebagai ketua Kelompok Tani (Gapoktan) Sawit Jaya Lestari Saseba Kelapa Sawit Berkelanjutan Kecamatan Angkola Sangkurnur itu pun kemudian memfokuskan diri untuk berbisnis perkebunan karet pada tahun 2009.
Alhasil bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah lebih, beberapa tahun belakangan harga karet pun, diakui pria berusia 44 tahun, mengalami penurunan. Hal itu membuatnya mulai enggan untuk memanen getah karet.
“Sejak harga karet turun, tidak diambil lagi. Ditinggal saja gak diolah lagi. Harganya per kilo Rp 6 ribu bervariasi,” ujar Berlin, petani yang juga berprofesi sebagai guru ini.
Ia mengakui, selama ini yang dilakukannya dalam mengelola perkebunan sawit, salah total, sehingga kemudian berdampak terhadap hasilnya. Pemahaman yang diberikan selama mengikuti SL, dianggap berperan besar.
“Kurombak lah, maksudnya kukurangi batangnya. Sebelumnya, kalau memupuk main semprot semua, mulai dari piringan semua disemprot akhirnya sawit stress. Sekarang gak lagi, sudah sesuai aturan yang dipelajari di SL,” jelas Berlin.
“Sebelum mengikuti Sekolah Lapang, pendapatan Rp 900 ribu. Sekarang kalau puncak buah bisa Rp 2,3 juta tapi tetap harus rajin dipupuk,” imbuhnya.
Usai berbincang mengenai kendala dalam mengelola sawit dengan Tota dan Berlin, IDN Times meminta izin untuk pamit. Keluhan ekonomi para petani ini gambaran kecil dari sejumlah kasus yang dialami oleh petani sawit lainnya.