Banjir Bandang dan Longsor di Toba, Sejumlah Rumah Rusak

Toba, IDN Times – Banjir bandang melanda Kecamatan Lumbanjuli, Kabupaten Toba, Minggu (28/8/2022). Satu unitt rumah milik warga di tepi asungai Pokkaahan hancur diterjang air.
Rumah itu milik seorang warga Boru Manurung. Beruntung tidak ada korban jiwa saat kejadian.
Banjir bandang juga menyebabkan longsoran di jalan lintas Parapat – Balige. Arus lalu lintas di sana sempat terputus.
"Akibat banjir bandang yang membawa material lumpur dan bebatuan bercampur kayu sempat tersebut sempat membuat ruas jalan menuju kota Balige tertutup total," ujar Kapolsek Lumban Julu AKP Robinson Sembiring.
1. Dua dusun terdampak banjir

Saat ini, petugas masih melakukan pembersihan material. Termasuk kayu dan material longsor yang sempat menutup jalan. Desa Jangga Dolok menjadi desa yang terdampak bencana itu. Kepala Desa Jangga Dolok Blikman Manurung mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan proses evakuasi. Ada dua dusun yang terdampak.
"Kini sedang pembersihan dan evakuasi. Kita utamakan keselamatan jiwa dulu," ujar Kades Jangga Dolok Blikman Manurung, Senin (29/8/2022).
Sejumlah areal persawahan dan perladangan yang terdampak banjir dan longsor tersebut. Ada enam rumah yang dikabarkan rusak akibat diterjang banjir.
2. Ada 50 KK yang terdampak

Banjir bandang juga mengakibatkan 50 kepala keluarga terdampak. Meski pun sampai saat ini pihak desa masih melakukan pendataan.
"Belum ada pendataan kita secara lengkap. Namun, untuk saat ini dapat kita perkirakan sebanyak 50 KK yang terdampak," terangnya.
Hingga saat ini, fasilitas Pemkab Toba berupa truk, mobil damkar, alat berat dan dapur umum masih beroperasi.
"Desa ini ada tiga dusun. Dusun satu dan dua yang terdampak. Sementara, dusun tiga saat ini aman, tidak terdampak. Yang sangat parah itu dusun dua," ujarnya.
3. Polda Sumut minta masyarakat jaga hutan

Kapolda Sumut Irjen Panca Putra Simanjuntak sudah melakukan peninjauan langsung di lokasi banjir. Dia mengajak masyarakat dan membuat program untuk penanggulangan banjir.
"Misalnya kenapa debit air yang cukup besar dari atas gunung ini, harus bisa diatasi dengan mempertahankan kondisi hutan dan alam yang ada di dalamnya. Termasuk juga, saya minta diperhatikan karena ini aliran sungai, maka perlu ada relokasi di mana masyarakat bisa tinggal. Inilah langkah yang dilakukan," kata Panca Putra Simanjuntak.


















