Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Belajar Menganyam hingga Menari, Cara Gampong Nusa Melestarikan Budaya
Wisata alam dan budaya di Gampong Nusa, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)
  • Gampong Nusa di Aceh Besar menghidupkan budaya Aceh melalui wisata sejak 2015, dengan aktivitas menganyam, permainan tradisional, tari, dan pembuatan kue khas.
  • Wisatawan dapat belajar langsung atau menyaksikan pertunjukan, menikmati kuliner Aceh, bersepeda, naik becak, berkemah di pelataran sungai, hingga menuju kawasan Lo Empeh.
  • Fasilitas berkembang dari tiga menjadi 45 homestay berkapasitas ratusan tamu; paket aktivitas mulai Rp25 ribu per orang, sementara tarif menginap Rp90 ribu-Rp110 ribu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aceh Besar, IDN Times - Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, permainan tradisional perlahan mulai ditinggalkan anak-anak. Namun, di Gampong Nusa, Kabupaten Aceh Besar, berbagai permainan dan keterampilan warisan budaya Aceh justru dihidupkan kembali melalui kegiatan wisata berbasis kearifan lokal.

Wisatawan yang datang tidak hanya diajak menikmati suasana perkampungan, tetapi juga belajar menganyam rotan dan daun kelapa, memainkan permainan tradisional, mempelajari tarian Aceh, hingga membuat kue khas daerah.

Anggota LPN Kampung Nusa, Mak Bit, mengatakan desa wisata tersebut mulai dirintis sejak 2015. Berbagai aktivitas yang ditawarkan sengaja dirancang untuk memperkenalkan kembali kebudayaan Aceh yang mulai jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi kami Kampung Nusa ingin melestarikan kembali kebudayaan-kebudayaan Aceh yang sedikit demi sedikit sudah agak memudar,” kata Mak Bit.

1. Menganyam rotan hingga menghidupkan permainan tradisional

Wisata alam dan budaya di Gampong Nusa, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Salah satu aktivitas yang ditawarkan kepada pengunjung adalah belajar menganyam menggunakan bahan rotan dan daun kelapa. Keterampilan tersebut bukan sekadar kegiatan kerajinan tangan, melainkan bagian dari kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Daun kelapa, misalnya, dahulu dapat dimanfaatkan anak-anak untuk membuat mainan sederhana, termasuk pedang-pedangan. Permainan seperti ini kini semakin jarang terlihat di tengah perubahan kebiasaan bermain anak-anak.

Mak Bit menjelaskan, pengelola sengaja mempertahankan kegiatan menganyam karena memiliki nilai budaya yang perlu diperkenalkan kepada generasi muda.

“Kenapa kita masih memakai, mengajari itu atau menjual itu ke wisatawan? Itu merupakan kearifan lokal,” ujarnya.

Melalui paket tersebut, pengunjung tidak hanya melihat hasil kerajinan, tetapi juga berkesempatan mempelajari proses pembuatannya secara langsung.

Selain menganyam, Gampong Nusa menawarkan paket permainan tradisional yang mengajak pengunjung bernostalgia sekaligus mengenal kebudayaan lokal. Berbagai permainan seperti lompat karet, petak umpet, galah panjang, dan bola menjadi bagian dari aktivitas yang disediakan.

Menurut Mak Bit, permainan tradisional perlu diperkenalkan kembali karena kebiasaan anak-anak sekarang semakin dekat dengan perangkat digital.

“Sekarang ini anak-anak di dunia gadget ini tidak pernah lagi bermain seperti kami dulu bermain karet, bermain petak umpet, bermain galah panjang, bermain bola,” ungkapnya.

Pengelola juga menyediakan paket tari tradisional Aceh. Wisatawan dapat memilih untuk belajar menari atau menyaksikan pertunjukan yang dibawakan oleh penampil setempat.

Salah satu pertunjukan yang dapat dipesan adalah tari Ranup Lampuan, tarian penyambutan tamu yang dikenal dalam kebudayaan Aceh.

Mak Bit mengatakan, paket belajar tari dan pertunjukan memiliki konsep berbeda. Pengunjung yang memilih belajar akan diajak mengenal gerakan tari, sedangkan pertunjukan disajikan oleh penari dengan mengenakan pakaian tradisional.

“Jadi antara belajar dengan perform itu paketnya berbeda. Kalau untuk perform ini memang penampilan mereka dengan paket baju tradisional, tetapi untuk belajar ya mengajari tamu-tamu belajar tari tradisional,” jelasnya.

2. Belajar memasak kue tradisional hingga menikmati kuliner Aceh

Wisata alam dan budaya di Gampong Nusa, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Pengalaman wisata di Gampong Nusa juga mencakup kegiatan memasak makanan tradisional. Pengunjung dapat mengikuti proses pembuatan kue khas Aceh, seperti kue karah dan timphan asokaya.

Kegiatan ini menjadi cara lain untuk memperkenalkan warisan budaya melalui kuliner. Wisatawan dapat melihat proses pengolahan bahan hingga pembuatan kue yang menjadi bagian dari kekayaan kuliner masyarakat Aceh.

Mak Bit menyebutkan, kegiatan memasak yang ditawarkan merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kekhasan daerah kepada wisatawan.

“Hari ini kami memasaknya kue karah, ada juga paketnya memasak, membuat kue timphan asokaya,” katanya.

Selain paket memasak, pengelola juga menyediakan layanan makan siang dan makan malam bagi wisatawan, termasuk pengunjung yang menginap di homestay.

“Apapun yang kami jual di Kampung Nusa itu adalah kearifan lokal, memang murni punya khasnya Aceh. Begitu juga dengan kuliner,” tambah Mak Bit.

Dengan memadukan kerajinan, permainan, tarian, dan kuliner, Gampong Nusa menawarkan pengalaman wisata yang tidak hanya berorientasi pada rekreasi, tetapi juga pembelajaran budaya.

3. Memiliki 45 homestay dan menawarkan wisata alam

Wisata alam dan budaya di Gampong Nusa, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Pengembangan Gampong Nusa sebagai desa wisata juga terlihat dari bertambahnya fasilitas penginapan yang dikelola masyarakat.

Mak Bit menyebutkan, ketika mulai dirintis pada 2015, Gampong Nusa hanya memiliki tiga homestay. Kini, jumlahnya telah berkembang menjadi 45 homestay yang secara keseluruhan dapat menampung hingga ratusan tamu.

“Dari dulu, dari 2015 cuma tiga homestay, sekarang kami mempunyai 45 homestay yang bisa menampung tamu hingga ratusan orang,” ungkapnya.

Kehadiran homestay memungkinkan wisatawan tinggal lebih lama dan merasakan suasana kehidupan masyarakat setempat. Pengunjung yang menginap juga dapat menikmati hidangan yang disediakan oleh pengelola penginapan.

Selain menginap, wisatawan dapat memilih aktivitas lain, seperti bersepeda atau berkeliling kampung menggunakan becak. Pengelola juga menawarkan kegiatan berkemah di pelataran sungai dan perjalanan menuju kawasan gunung yang disebut Lo Empeh.

“Wheel Kampung itu bisa memakai becak, juga bisa memakai sepeda. Selain itu, ada paket berkemah di sini di pelataran sungai, juga ada paket naik ke gunung, ke Lo Empeh,” kata Mak Bit.

Ragam aktivitas tersebut memberikan pilihan bagi wisatawan yang ingin menghabiskan waktu lebih lama untuk menikmati suasana alam dan budaya Gampong Nusa.

4. Paket wisata mulai Rp25 ribu per orang

Wisata alam dan budaya di Gampong Nusa, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. (IDN Times/Muhammad Saifullah)

Bagi wisatawan yang ingin mencoba aktivitas budaya di Kampung Nusa, pengelola menawarkan paket dengan tarif mulai Rp25 ribu per orang.

Mak Bit menjelaskan, satu paket wisata dibanderol Rp25 ribu per orang. Pengunjung yang ingin mencoba tiga paket dapat membayar Rp50 ribu per orang. Sementara itu, paket empat kegiatan dikenakan tarif Rp100 ribu per orang, belum termasuk makan siang.

“Kalau per paket, kami setiap paket itu untuk wisatawan satu paket per orang Rp25 ribu. Kecuali untuk anak sekolah, mungkin ada dispensasi dari kami. Tiga paket Rp50 ribu per orang,” jelasnya.

Untuk makan siang, pengelola menetapkan tarif Rp45 ribu per orang. Dengan demikian, wisatawan yang memilih empat paket aktivitas dan makan siang perlu menyiapkan biaya sekitar Rp145 ribu per orang.

Pengelola juga menyediakan pertunjukan tari Ranup Lampuan dengan tarif Rp500 ribu sekali tampil untuk rombongan. Tarif tersebut berlaku untuk satu kali pertunjukan, bukan dihitung per penonton.

Sementara itu, tarif menginap di homestay berkisar Rp90 ribu hingga Rp110 ribu. Tarif Rp110 ribu sudah termasuk sarapan pagi, sedangkan makan siang dan makan malam dihitung terpisah sesuai pengaturan paket.

Mak Bit menambahkan, pengelola dapat memberikan dispensasi tarif bagi rombongan pelajar. Dalam kegiatan kunjungan kelompok, panitia yang membawa peserta juga dapat memperoleh fasilitas gratis sesuai kesepakatan dengan pengelola.

Bagi masyarakat Kampung Nusa, wisata bukan sekadar menghadirkan aktivitas untuk mengisi waktu liburan. Berbagai paket yang ditawarkan menjadi sarana untuk menjaga keterampilan, permainan, tarian, dan kuliner tradisional agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat, upaya memperkenalkan kembali permainan masa kecil dan keterampilan menganyam menjadi salah satu cara agar warisan budaya tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Wisatawan yang datang pun memperoleh pengalaman berbeda. Mereka dapat belajar, mencoba, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui aktivitas yang berakar pada tradisi lokal.

Melalui pengembangan desa wisata yang telah dirintis sejak 2015, Kampung Nusa berupaya menjadikan kebudayaan Aceh sebagai bagian penting dari pengalaman berwisata sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga warisan budaya daerah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article