Seorang pengunjung melewati tanjakan Air Terjun Lubuk Hitam (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)
Seorang pria menghampiri Surya, namanya Yogi Rizki. Ia adalah ketua kelompok yang saat ini bisa memberikan secercah harapan bagi warga dan pemuda yang ada di daerah Bungus Barat.
"Sudah ramai di atas. Nanti ingatkan lagi untuk yang remaja tidak boleh naik sampai ke tingkat 3. Takutnya nanti ada masalah," kata Yogi kepada Surya.
Lalu, Yogi duduk di pondok yang mereka bangun untuk para pengunjung beristirahat setelah menghabiskan energi dalam perjalanan kembali dari Air Terjun Lubuk Hitam.
Ia memesan secangkir kopi hitam kepada pemilik warung yang berjualan di dekat tempat penjualan tiket dan berbincang dengan beberapa pemuda lainnya yang sedang bersantai di pondok beratap ilalang kering itu.
"Dulunya tempat wisata ini tidak seperti ini. Pengunjung hanya diminta membayar oleh beberapa orang yang ada di sini tanpa memikirkan keselamatan dan pengelolaan yang baik," katanya.
Dengan pengelolaan yang tidak baik itu, 3 orang mahasiswa menjadi korban saat hujan deras dan air yang turun tak lagi bisa terbendung. Mereka hanyut dan dinyatakan meninggal dunia usai jenazahnya ditemukan.
"Setelah kejadian itu tidak ada lagi yang mengelola tempat wisata ini dan terbengkalai kurang lebih 2 tahun. Saya saat itu juga tidak berada di sini untuk melanjutkan pengelolaannya," kata pria yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) itu.
Hingga pada tahun 2023, pihak Pertamina Patra Niaga datang ke lokasi itu. Yogi menyebutkan bahwa orang-orang yang datang tersebut menawarkan untuk membantu para pemuda di sekitar air terjun untuk melakukan pengelolaan yang lebih baik.
"Pak Fakhri namanya. Beliau yang bersikeras agar kami mengelola tempat ini dengan baik. Bapak itu orang Pertamina yang menawarkan bantuan kepada kami," katanya.
Tapi, Yogi tidak bisa langsung menerima bantuan begitu saja. Mereka harus memulai pergerakannya sendiri untuk memulai pengelolaan terlebih dahulu.
Hari pertama, hanya ada beberapa orang saja yang berkunjung ke tempat wisata itu. Tapi, setelah beberapa pekan melakukan pengelolaan, puluhan pengunjung mulai berdatangan untuk melihat keindahan air terjun itu.
"Setelah terlihat ada hasilnya, pihak Pertamina kembali mendatangi kami untuk melanjutkan rencana bantuan yang akan diberikan kepada kami," tuturnya.
Yogi dan beberapa pemuda lainnya diberikan pelatihan terlebih dahulu agar bisa memahami pengelolaan tempat wisata, manajemen dan pelayanan yang harusnya diberikan kepada pengunjung serta cara pertolongan kepada pengunjung yang mengalami luka atau cedera.
"Selain itu, kami juga diberikan bimbingan untuk pengelolaan dan perbaikan tempat wisata ini. Kami juga diminta untuk membuat proposal untuk perubahan yang akan kami buat di sini," lanjutnya.
Saat ini, berbagai perubahan telah terjadi. Pengaman di sepanjang area yang ditempuh pengunjung telah dipasang. Pelayanan ramah dan baik juga telah diberikan. Alhasil, seratusan orang setiap hari hilir-mudik ke tempat wisata ini.
"Tapi kami tidak pernah diberikan bantuan berupa uang. Kami selalu diberikan bantuan berupa pengembangan tempat wisata hingga pembuatan pembangkit listrik sendiri," katanya.
Dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang dibangunkan Pertamina, Yogi mengatakan bahwa mereka bisa menghidupkan berbagai kebutuhan listrik di lokasi wisata itu. Karena tiang listrik yang memang belum sampai ke lokasi yang berada di perbukitan.
Saat ini, Air Terjun Lubuk Hitam telah memadati berbagai media sosial. Setiap kalangan berdatangan untuk mengabadikan momen kebersamaan di tempat wisata itu.