Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Air Terjun Lubuk Hitam, Bukan Sekadar Tempat Wisata
Pengunjung memasuki gerbang Air Terjun Lubuk Hitam (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)
  • Kelompok pemuda mengelola Air Terjun Lubuk Hitam sebagai sumber pendapatan warga, membiayai bantuan kesehatan, modal usaha kecil, dan kebutuhan keluarga dari tiket serta parkir.
  • Setelah sempat terbengkalai pascainsiden banjir, pengelolaan sejak 2023 diperkuat melalui pelatihan, fasilitas keselamatan, pengamanan jalur, dan PLTMH dengan pendampingan Pertamina Patra Niaga.
  • Program wisata berbasis konservasi menggabungkan penanaman pohon, budidaya madu galo-galo, pengelolaan sampah, serta teknologi digital untuk mendukung ekonomi masyarakat dan kelestarian hutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sabtu (24/10/2026) petang. Suryadi sedang menunggu para pengunjung untuk datang ke Air Terjun Lubuk Hitam yang terletak di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatra Barat.

Senyumnya sumringah. Setiap pengunjung yang datang disambut dengan ramah. Di balik senyuman itu tersimpan kebahagiaan dan rasa lega di dalam hati pemuda berusia 33 tahun itu.

"Ibu saya baru sembuh beberapa hari lalu. Untuk pengobatan, kami dibantu oleh Kelompok Kampung Wisata Koto Lubuk Hitam Lestari yang merupakan kelompok pengelola tempat wisata ini," katanya saat diwawancarai IDN Times.

Surya mengatakan, setiap warga di daerah Bungus Barat dan sekitarnya akan selalu mendapatkan sokongan dana jika ada yang sakit atau bagi mereka yang membutuhkan bantuan. Semua pendanaan berasal dari penghasilan tempat wisata Air Terjun Lubuk Hitam.

"Ada juga warga yang mendapatkan bantuan permodalan untuk usaha kecil-kecilan yang mereka buat. Saat ini, perekonomian di sekitar sini sudah jauh lebih baik," sebutnya.

Menurut Surya, dana yang digelontorkan kepada masyarakat tersebut adalah keuntungan yang didapatkan oleh pengelola di tempat wisata Air Terjun Lubuk Hitam berupa penjualan tiket masuk dan parkir kendaraan para pengunjung.

Setiap hari, para pemuda yang ikut dalam mengelola tempat wisata itu akan berkumpul untuk menghitung penghasilan. Setelah uang hasil penjualan tiket dibagi, mereka akan memasukkannya ke dalam kas dan sebagiannya akan diberikan kepada pihak nagari untuk diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

"Untuk hasil yang didapatkan di sini dari penjualan tiket sebesar Rp8.000 dan parkir kendaraan sebesar Rp2.000 dari pengunjung yang datang setiap harinya," tuturnya.

Tak melaut lagi

Pengunjung membayar tiket masuk ke Air Terjun Lubuk Hitam (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)

Jarum jam telah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Sekelompok remaja tampak memarkirkan kendaraan mereka di lokasi yang telah disiapkan di bawah pepohonan yang rindang. Satu per satu mereka mendatangi lokasi penjualan tiket yang dijaga Surya.

"Bang kami ada 4 orang," kata salah seorang mahasiswa bertubuh jangkung kepada Surya sembari menyodorkan uang pecahan Rp50 ribu.

Dengan senyum ramahnya, Surya mengambil uang itu dan merobek lembaran tiket berwarna biru yang terletak di atas meja yang ia tempati. Ia menyodorkan uang sebesar Rp14 ribu kepada mahasiswa itu beserta 4 lembar tiket.

"Nanti di atas ada tim kita yang berjaga. Kalau ada apa-apa langsung lapor kepada tim yang ada di atas. Jangan lupa sebelum pukul 18.00 WIB sudah kembali ke sini. Kalau cuaca buruk, segera turun dan mengevakuasi diri ke sini," kata Surya kepada para mahasiswa tersebut.

Pesan itu selalu disampaikannya kepada setiap pengunjung yang datang. Ia tak pernah bosan untuk terus memberikan peringatan itu agar para pengunjung tidak lalai terhadap keselamatannya dan selalu waspada.

Gerombolan itu langsung berjalan kaki ke arah gerbang untuk menyusuri area Air Terjun Lubuk Hitam. Surya kembali mengingat masa sebelum pengelolaan air terjun itu dimulai.

"Dulunya saya hanya bekerja sebagai nelayan. Rata-rata pemuda dan remaja di sini bisanya bekerja sebagai nelayan untuk menangkap ikan ke laut," sebutnya.

Menurut Surya, uang yang didapatkan dari melaut terkadang sangat sedikit. Bahkan, ia tidak bisa memberikan uang belanja untuk sang ibu lantaran tidak mendapatkan ikan untuk dijual. Tak jarang Surya harus meminjam uang kepada tetangga atau familinya agar dapur sang ibu tetap berasap.

"Risiko yang dihadapi untuk ke laut itu juga sangat tinggi. Terlebih seperti saat ini. Cuaca yang tidak menentu dan terkadang badai sangat berbahaya untuk saya saat itu," tuturnya.

Tapi, saat ini ia sudah bisa sedikit bernapas lega setelah terbentuknya kelompok Kelompok Kampung Wisata Koto Lubuk Hitam Lestari. Ia tidak perlu menantang maut untuk menangkap ikan lagi.

"Perbedaannya dengan sekarang ini sangat jauh. Karena saya tidak perlu lagi ke laut dan hanya mengikuti instruksi ketua di sini untuk menjaga dan memberi pelayanan kepada pengunjung," katanya.

Alhasil, ia bisa mendapatkan pembagian dari uang penjualan tiket yang diberikan oleh pengunjung untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Terbentuknya Kelompok Kampung Wisata Koto Lubuk Hitam Lestari

Seorang pengunjung melewati tanjakan Air Terjun Lubuk Hitam (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)

Seorang pria menghampiri Surya, namanya Yogi Rizki. Ia adalah ketua kelompok yang saat ini bisa memberikan secercah harapan bagi warga dan pemuda yang ada di daerah Bungus Barat.

"Sudah ramai di atas. Nanti ingatkan lagi untuk yang remaja tidak boleh naik sampai ke tingkat 3. Takutnya nanti ada masalah," kata Yogi kepada Surya.

Lalu, Yogi duduk di pondok yang mereka bangun untuk para pengunjung beristirahat setelah menghabiskan energi dalam perjalanan kembali dari Air Terjun Lubuk Hitam.

Ia memesan secangkir kopi hitam kepada pemilik warung yang berjualan di dekat tempat penjualan tiket dan berbincang dengan beberapa pemuda lainnya yang sedang bersantai di pondok beratap ilalang kering itu.

"Dulunya tempat wisata ini tidak seperti ini. Pengunjung hanya diminta membayar oleh beberapa orang yang ada di sini tanpa memikirkan keselamatan dan pengelolaan yang baik," katanya.

Dengan pengelolaan yang tidak baik itu, 3 orang mahasiswa menjadi korban saat hujan deras dan air yang turun tak lagi bisa terbendung. Mereka hanyut dan dinyatakan meninggal dunia usai jenazahnya ditemukan.

"Setelah kejadian itu tidak ada lagi yang mengelola tempat wisata ini dan terbengkalai kurang lebih 2 tahun. Saya saat itu juga tidak berada di sini untuk melanjutkan pengelolaannya," kata pria yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) itu.

Hingga pada tahun 2023, pihak Pertamina Patra Niaga datang ke lokasi itu. Yogi menyebutkan bahwa orang-orang yang datang tersebut menawarkan untuk membantu para pemuda di sekitar air terjun untuk melakukan pengelolaan yang lebih baik.

"Pak Fakhri namanya. Beliau yang bersikeras agar kami mengelola tempat ini dengan baik. Bapak itu orang Pertamina yang menawarkan bantuan kepada kami," katanya.

Tapi, Yogi tidak bisa langsung menerima bantuan begitu saja. Mereka harus memulai pergerakannya sendiri untuk memulai pengelolaan terlebih dahulu.

Hari pertama, hanya ada beberapa orang saja yang berkunjung ke tempat wisata itu. Tapi, setelah beberapa pekan melakukan pengelolaan, puluhan pengunjung mulai berdatangan untuk melihat keindahan air terjun itu.

"Setelah terlihat ada hasilnya, pihak Pertamina kembali mendatangi kami untuk melanjutkan rencana bantuan yang akan diberikan kepada kami," tuturnya.

Yogi dan beberapa pemuda lainnya diberikan pelatihan terlebih dahulu agar bisa memahami pengelolaan tempat wisata, manajemen dan pelayanan yang harusnya diberikan kepada pengunjung serta cara pertolongan kepada pengunjung yang mengalami luka atau cedera.

"Selain itu, kami juga diberikan bimbingan untuk pengelolaan dan perbaikan tempat wisata ini. Kami juga diminta untuk membuat proposal untuk perubahan yang akan kami buat di sini," lanjutnya.

Saat ini, berbagai perubahan telah terjadi. Pengaman di sepanjang area yang ditempuh pengunjung telah dipasang. Pelayanan ramah dan baik juga telah diberikan. Alhasil, seratusan orang setiap hari hilir-mudik ke tempat wisata ini.

"Tapi kami tidak pernah diberikan bantuan berupa uang. Kami selalu diberikan bantuan berupa pengembangan tempat wisata hingga pembuatan pembangkit listrik sendiri," katanya.

Dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang dibangunkan Pertamina, Yogi mengatakan bahwa mereka bisa menghidupkan berbagai kebutuhan listrik di lokasi wisata itu. Karena tiang listrik yang memang belum sampai ke lokasi yang berada di perbukitan.

Saat ini, Air Terjun Lubuk Hitam telah memadati berbagai media sosial. Setiap kalangan berdatangan untuk mengabadikan momen kebersamaan di tempat wisata itu.

Tidak hanya sajikan air terjun

Air Terjun Lubuk Hitam dari kejauhan (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)

Waktu terus berlalu, 4 orang mahasiswa dari kejauhan tampak sudah kembali dari tempat wisata yang dikelilingi hutan itu. Gema tawa semakin jelas hingga mereka berhenti di pondok yang berada di dekat penjualan tiket.

"Pemandangan dari atas itu sangat indah. Kami bisa melihat laut yang luas dari tingkat satu air terjun," kata salah seorang mahasiswa bernama Farel Ramadan.

Hari itu adalah kali ke dua Farel datang ke Air Terjun Lubuk Hitam bersama teman-temannya. Mereka tidak hanya ingin melihat air terjun saja, tetapi ingin menikmati keindahan alam dan pemandangannya.

"Kalau ke sini tidak cuma melihat pemandangan saja. Tapi juga bisa tracking ke lokasi air terjun dan bisa berenang juga di dekat air terjunnya," katanya.

Sayangnya, hari itu cuaca sedikit mendukung. Farel dan teman-temannya tidak diperbolehkan berenang dan hanya boleh bermain di sekitar air terjun itu saja.

"Kenapa memilih berwisata ke sini karena pelayanan petugasnya sangat ramah. Tempatnya juga bersih dan tidak ada sampah di sepanjang track ataupun di lokasi air terjunnya," sebutnya.

Faren menceritakan, untuk bisa mencapai air terjun tingkat pertama, ia dan teman-temannya harus menanjak kurang lebih 20 menit di lereng perbukitan. Sepanjang perjalanan mereka bersenda gurau agar tak terlalu lelah saat dalam perjalanan.

"Lumayan cape, tapi hasil yang kita dapatkan saat sampai di lokasi itu sepadan. Karena bisa melihat keindahan alam ciptaan Allah dari ketingiian itu," katanya.

Menjaga kelestarian hutan melalui wisata alam

Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Sumatra Bagian Utara –Sumbagut-, Fahrougi Andriani Sumampouw (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)

Pemilihan Air Terjun Lubuk Hitam bukan sekedar pelepas tanggung jawab untuk melakukan pemberdayaan masyarakat oleh PT Pertamina Patra Niaga. Selain lokasinya berada di wilayah operasi Integrated Terminal Teluk Kabung, hal lain juga mendasari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu mau membantu warga di sana.

"Kawasan tersebut menjadi salah satu prioritas pemberdayaan masyarakat karena memiliki potensi wisata alam, sekaligus tantangan dalam menjaga kelestarian hutan dan mengembangkan ekonomi warga," kata Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Sumatra Bagian Utara –Sumbagut-, Fahrougi Andriani Sumampouw.

Melalui program CSR yang dilakukan itu, Fahrougi berharap masyarakat yang berada di sekitar lokasi itu bisa memperoleh manfaat secara ekonomi serta bisa menjaga potensi alam berkelanjutan.

"Program pengembangan hutan produktif Air Terjun Koto Lubuk Hitam telah dimulai sejak 2023 dan kami terus melanjutkannya secara bertahap," katanya.

Awalnya, menurut Fahrougi program tersebut difokuskan pada pembangunan fasilitas wisata, pelatihan pengelolaan wisata, penanaman pohon, serta pengembangan budidaya madu galo-galo.

"Memasuki 2026, program tersebut diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat dan pengembangan kawasan wisata yang lebih berkelanjutan," katanya.

Ia menyampaikan, beberapa kegiatan yang dilakukan berupa pengembangan jalur wisata berbasis konservasi, pengelolaan sampah, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung edukasi dan pemantauan lingkungan.

"Program ini tidak hanya menyasar pengelola wisata, tetapi juga menghubungkan berbagai kelompok masyarakat agar dapat saling mendukung dalam mengembangkan usaha," katanya.

Melalui pendampingan berkelanjutan, Pertamina berharap masyarakat semakin mandiri dan mampu mengelola destinasi wisata yang menarik, sekaligus membangun ekosistem ekonomi masyarakat.

Peran pemuda dalam pengelolaan wisata

Pengunjung memasuki gerbang Air Terjun Lubuk Hitam (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)

Pengelolaan yang dilakukan oleh Yogi dan teman-temannya di Air Terjun Lubuk Hitam dinilai sangat baik oleh pemerintah. Karena, yang mereka lakukan tidak hanya sekedar pengelolaan saja, tetapi juga memberikan dampak kepada masyarakat di sekitarnya.

"Tidak hanya berdampak pada destinasi yang ada di Kecamatan Bungus Teluk Kabung ini. Tapi juga berdampak kepada perekonomian masyarakat yang ada di sekitarnya," kata Camat Bungus Teluk Kabung, Afridon.

Afridon mengatakan, praktik tersebut menunjukkan pengelolaan wisata berbasis masyarakat berpotensi menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat kepedulian sosial.

"Mereka semua kompak dan bisa menjalankan manajemen sesuai dengan yang mereka pelajari. Dari hasil penjualan tiket, mereka juga bisa menyisihkan untuk bantuan sosial kepada masyarakat di sekitar lokasi," katanya.

Afridon menilai, perubahan yang terjadi di sekitar Air Terjun Lubuk Hitam saat ini tidak terlepas dari peran Pertamina Patra Niaga yang memberikan dukungan kepada para pemuda yang ada di daerah tersebut.

"Banyak bantuan yang diberikan. Mulai kebutuhan dasar hingga berbagai macam keperluan untuk mempercantik tempat wisata tersebut. Kami sangat mengapresiasi hal itu," sebutnya.

Ia berharap, ke depannya CSR Pertamina bisa menyasar tempat wisata lainnya yang ada di Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Karena daerah tersebut memiliki potensi yang luas dalam hal pariwisata.

"Mudah-mudahan pengembangan kawasan wisata Air Terjun Koto Lubuk Hitam menjadi pintu membuka minat pengunjung untuk menelusuri keindahan Bungus Teluk Kabung dam semangat parapemuda itu bisa juga menjadi motivasi bagi kelurahan lainnya untuk bersama-sama mengembangkan potensi wisata sebagai sumber kesejahteraan masyarakat," harapnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article