Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita Heroik yang Kita Nikmati dari Piala Presiden 2026

Kota Medan
Cerita Heroik yang Kita Nikmati dari Piala Presiden 2026
Final Piala Presiden 2026 antara Persib lawan Persebaya. (Dok. Media Piala Presiden 2026)
Share Article

Sepak bola selalu memunculkan cerita heroik. Dari level dunia hingga daerah sekalipun, selalu ada cerita-cerita yang mendramatisasi dari sekadar pertandingan. Seperti halnya di Piala Presiden 2026, turnamen pramusim elit yang baru saja menuntaskan ending-nya di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis 6 Agustus 2026 lalu. Cerita tentang kepahlawanan lahir dari dalam dan luar lapangan.

Dari lapangan, Persebaya Surabaya menjadi juara usai mengandaskan Persib lewat adu penalti 6-5 usai kedua tim bermain imbang 1-1 selama 120 menit. Kiper Persebaya Reza Arya Pratama tampil heroik menggagalkan dua penalti Ulliam Barros Pereira dan Al Hamra Hehanussa.

Reza tidak masuk 11 pemain utama Persebaya malam itu. Kiper asal Parepare itu masuk menggantikan Ernando Ari yang cedera di awal babak kedua. Namun dia sukses membawa cerita manis untuk gelar pertama klub Kota Pahlawan setelah gagal pada final 2019 lalu usai kandas dari Arema 2-4.

"Terima kasih untuk keluarga saya orang tua saya, calon istri saya. Seluruh bonek dan bonita," ujar Reza dengan haru usai terpilih jadi man of the match.

Soal keberhasilannya menepis dua penalti, mantan kiper PSM Makassar itu mengatakan semua atas kuasa Tuhan. "Kalau saya percaya diri saja, karena apapun keputusan itu pasti sudah diatur. Alhamdulillah bisa menepis dua penalti. Itu berkat Allah SWT," ucap kiper berusia 26 tahun.

Dari cerita kepahlawanan Reza, ada sosok yang menepi di samping panggung. Mengenakan kaos hitam ia hanya tertuntuk sambil memegangi medali yang dikalungkan di lehernya. Sosok itu adalah Rachmat Irianto. Kaos yang dikenakannya bergambar 'Bejo' Sugiantoro, sang Ayah yang berpulang 25 Februari 2025 lalu.

Legenda timnas Indonesia dan Persebaya itu adalah sosok yang selalu dicarinya untuk mendapat pelukan usai pesta perayaan juara. Seperti halnya saat juara liga bersama Persib pada musim 2023/2024 dan 2024/2025. Namun malam itu Bejo tak lagi ada di sana. Kaos bergambar Bejo menjadi pengobat rindu. Berkali-kali Rian, sapaan akrabnya, menyeka air mata dengan menggenggam medali juara serta mencium kaosnya.

Semua orang tahu, bagi Rian sosok Bejo adalah pahlawan yang membentuk karier sepak bolanya. Sisi heroik itu yang ditampilkan Rian lewat kaos hitam hadiah dari seorang konten kreator itu.

Rachmat kemudian memajang foto dirinya bersama sang ayah di media sosialnya. "Terimakasih sudah menjadi bagian dalam hidupku..Saya akan selalu menikmati anak tangganya...Saya datang, saya berucap dan saya akan tepati..Persebaya juara yah," tulis Rian disertai emot love hijau.

Sejatinya, Rachmat Irianto juga menjadi salah satu sosok heroik Persebaya malam itu. Assistnya pada menit ke-20 berbuah gol untuk Ramadhan Sananta. Rian, sapaan akrabnya, sedang berjuang kembali menembus tempat utama setelah sempat didera cedera panjang. Piala Presiden 2026 ini bisa jadi titik balik karier Rian.

WhatsApp Image 2026-08-07 at 00.27.56.jpeg
Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares dan Kiper Reza Arya Pratama memamerkan trofi Piala Presiden 2026 dalam konferensi pers di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Kamis (6/8/2026). (IDN Times/Yuko Utami)

Cerita heroik dari luar lapangan juga menjadi sajian yang dinikmati berbagai elemen yang terlibat. Piala Presiden yang konsisten digelar delapan kali sejak 2015 tak dipungkiri menjadi turnamen paling bergengsi di Indonesia yang menggulirkan banyak efek positif. Piala Presiden justru adalah entitas yang menjadi pahlawan bagi banyak pihak yang terlibat.

Bagi klub-klub, selain mendapat lawan-lawan tangguh untuk persiapan kompetisi, tambahan dana segar lewat hadiah juara yang fantastis serta fee keikutsertaan menjadi pemasukan untuk menambah finansial klub. Terutama menghadapi kompetisi yang akan bergulir dalam beberapa bulan ke depan.

Hal ini dibuktikan dengan hadiah juara yang fantastis. Juara 1 dengan Rp8 miliar, peringkat kedua Rp3,5 miliar dan peringkat ketiga Rp2,5 miliar, hadiah yang tak jauh berbeda dengan kompetisi Super League (Liga 1). Setiap tim yang tak lolos semi final juga mendapat Rp250 juta.

"Bagi kami Piala Presiden bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi, tapi nilai luhur yang harus kita pertahankan. Nilai sportivitas dalam setiap pertandingan, daya juang, keberlanjutan, konsistensi, kepedulian terhadap lingkungan, pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, dan keberpihakan kepada ekonomi kerakyatan dengan mengangkat UMKM daerah dan menggerakkan perekonomian lokal di setiap kota penyelenggara melalui hotel, tempat makan, kafe, restoran, transportasi dan juga penjual kostum dari klub yang mengikuti," kata Ketua Steering Committee Maruarar Sirait saat seremoni final.

Ekonomi kerakyatan ikut berputar di samping meriahnya sajian sepak bola. Seratusan UMKM ikut meraup untung dari pesta sepak bola ini. Dari data Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, perputaran ekonomi mencapai Rp70 miliar yang memberikan manfaat untuk UMKM, transportasi, hotel, kuliner dan industri kreatif.

"Sesuai arahan Presiden harus menggerakkan ekonomi kerakyatan dan pertumbuhan ekonomi berkeadilan, kami melibatkan 165 UMKM di Bandung, Surabaya dan Bali dengan nilai transaksi yang meningkat. Hiburan rakyat jalan dan roda ekonomi bergerak," tambah Ara, sapaan akrabnya.

Ara juga membeberkan, Piala Presiden 2026 mampu meraup sponsor hingga mencapai Rp100 miliar. Kepercayaan dari para sponsor tentu tak didapatkan dengan instan.

"Pada akhirnya nilai yang kita representasikan adalah kepercayaan. Tidak mungkin dibangun dalam semalam, apalagi dalam olahraga, ada proses yang harus diikuti, tata kelola yang baik, transparansi serta konsistensi 8 kali menyelenggarakan sebuah turnamen tanpa menggunakan dana APBN/APBD maupun BUMN. Ke delapan kalinya Piala Presiden digelar dan kepercayaan ini jadi fondasi utama. Menghargai sponsor yang mensupport acara ini. Total sponsorship mencapai Rp100 miiar. Kepercayaan itu kami kembalikan kepada sepak bola Indonesia dengan total hadiah Rp16 miliar," ucapnya.

Stadion Bali
Persebaya Surabaya melawan Arema FC pada Piala Presiden 2026 di Stadion I Wayan Dipta (IDN Times/Ayu Afria)

Satu keputusan besar yang juga cukup heroik dari penyelenggaran Piala Presiden adalah dengan merelakan semi final dan final digelar tanpa penonton di Bali. Padahal untuk meraup pendapatan dari tiket penonton di partai-partai menentukan sangat besar potensinya. Namun dengan alasan keamanan karena rekam jejak rivalitas suporter dari tim-tim empat besar membuat panpel rela membuat keputusan besar ini. 'Tak ada sepak bola seharga nyawa', itulah prinsip yang harus terus dijaga untuk sepak bola tanah air.

Begitupun di balik keputusan ini, ada efek positif lain yang muncul. Penonton Piala Presiden dari layar kaca meningkat. Bahkan untuk laga final mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah Piala Presiden dengan TV Rating (TVR) 8,9 persen dan Share Rating (SHR) 45,3 persen.

"Piala Presiden mencatat rekor baru TV rating 4,3 %, TV share 24,5 % (penyisihan sampai semi final). Artinya Piala Presiden ditonton 172 juta orang menurut data Nielsen. Ini mengalami peningkatan besar sekitar 16 persen dari tahun 2025. Trennya positif. piala Presiden menghadirkan tontonan sepak bola berkualitas dan dicintai masyarakat," ucap Ara.

Cerita heroik Piala Presiden juga menyentuh keberlanjutan. Mengusung "Datang Bersih Pulang Bersih", panpel bekerja sama dengan berbagai komunitas sampah lokal setiap kota seperti Metamorforsa, Rumah Bintang bandung, Nol Sampah Surabaya dan Trash Ranger Bali. "Sebanyak 325 personal kebersihan terlibat. Seluruh sampah dipilah dan didaur ulang sehinga memliki produk bernilai ekonomi," tambahnya.

Ada keputusan heroik lain dari Piala Presiden adalah adanya penghargaan untuk para legenda pelatih dan pemain timnas. Sebelum final, panitia memberikan apresiasi kepada pelatih legendaris yang sudah berpulang Bertje Matulapelwa, Muhammad Basri, Sinyo Aliandoe serta pemain legendaris Boaz Solossa, Herry Kiswanto, dan Ferril Raymond Hattu. Masing-masing mendapat Rp100 juta.

Piala Presiden menjadi hasil kerja keras berbagai elemen. Ara mengatakan, tidak ada superman dalam sepak bola, yang ada supertim.

"Semoga Piala Presiden tidak hanya melahirkan juara, tapi melahirkan harapan Timnas Merah Putih sampai di Piala Dunia," pungkas Ara.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More