Pesta kembang api di Stadion Utama Sumut, Desa Sena, Deli Serdang pada penutupan PON 2024, Jumat (20/9/2024) malam (IDN Times/Arifin Al Alamudi)
Meski dianggap sukses Pelaksanaan PON Sumatra Utara – Aceh harus menjadi evaluasi penting. Sejumlah catatan penting menjadi evaluasi penyelenggara berikutnya.
IDN Times mencatat sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian pemerintah. Di antaranya, pelayanan terhadap para atlet hingga official. Pada beberapa kesempatan di media sosial beberapa video yang mengeluhkan soal makanan untuk para atlet dan official.
Kemudian dari sisi infrastruktur, pemerintah harus memastikan penuntasan pembangunan sebelum event berjalan. Karena seperti di Sumatra Utara, para atlet harus berlaga di Sport Centre yang belum tuntas dibangun. Alat berat yang beroperasi, venue cabor yang belum usai, hingga debu yang beterbangan menjadi persoalan bagi para atlet.
Dito juga mengatakan ke depan akan lebih ketat soal kesiapan tuan rumah. Menurutnya selama ini daerah berkeinginan menjadi tuan rumah, namun harus memikirkan seperti apa kesiapan APBD-nya. Jadi tidak hanya membebankan ke pemerintah pusat.
"Kalau tidak bisa memastikan komitmen kontribusi dari APBD. Sebelum kami mengeluarkan kepeutusan menteri untuk NTT dan NTB, akan kami tambahkan proses mitigasi dan analisa yang lebih komprehensif. Agar bisa menghitung kemampuan APBD NTB dan NTT. Dari 2025 sampai 2028. Kita juga harus bikin kajian potensi keberlanjutan venue cabor," kata Dito.
"Jangan sampai setelah dibangun, tidak bisa digunakan. Atau tidak ada potensi atletnya. Baru setelah itu prosi pemerintah pusat ada berapa. Atau dibalik saja, pemerintah pusat tarik langsung. Agar ke depan PON lebih baik dan efektif," katanya.
Selain itu perlu ada penyederhanaan cabang olahraga. Hal ini berdampak ke pembangunan venue.
"Fokus dengan cabor yang dipertandingkan di Olimpic, baru kemudian Asian Games, dan SEA Games," pungkasnya.